
Sesuai janji Ellad, bangun lebih pagi. Ia berniat untuk menemui Ibunda Dwinda di rumah sakit jiwa, saat keluar dari kamar menuju ruang tamu. Ellad melihat Aira dan juga Edric tengah bercanda gurau.
Membuat kedua pipi lelaki tua itu memerah, ia tahu dimasa Aira dan Edric masih merasakan manisnya cinta sampai mereka tak mengenal waktu dan tempat.
Turun dari anak tangga, Edric berpura-pura batuk. Agar Aira dan Edric menghentikan keromantisan mereka, rasanya sesak dada Ellad yang kini sendirian tanpa pasangan.
"Hem. Huuk huuhk. "
Aira dan Edric terdiam, mereka kini sedikit berjauhan, karena ada sang ayah datang. Kedua pipi anak muda yang baru merasakan manisnya cinta memerah. Menahan malu, Aira dengan sigapnya menundukkan wajah.
"Edric, Aira. Apa kalian sudah siap berangkat ke amerika."
Kedua insan kini menganggukkan kepala, mereka mematuhi apa yang dikatakan sang ayah.
"Ya sudah, papah ada urusan sebentar. Masalah perusahaan biar papah yang hendel saja." Ucap sang papa begitu terdengar tegas.
Edric senang dan bahagia, bila sang ayah. Mampu menyengankan hati anaknya, tak ada yang di khuatirkan. Edric sudah meminta izin pada Siksa untuk cuti, selama proses penyebuhan.
Mendekat dan bertanya," Aira, apa kamu sanggup naik pesawat dalam keadaan hamil begini?"
Terlihat Ellad begitu menghuatirkan menantu wanitanya, ia takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada Aira.
Edric memegang tangan Aira dengan erat, ia tak mau jika istrinya tak ikut, CEO pemilik bola mata biru itu tak bisa tenang jika meninggalkan istrinya.
"Sudahlah, Daddy tak usah kuatirkan Aira. Kan sudah ada Edric yang jaga," timpal Edric, membuat Ellad berusaha bersikap tenang, menghadapi sifat Edric yang selalu menyebalkan.
"Iya, Daddy juga tahu. Tapi tetap saja, Daddy kuatir sekali dengan Aira," ucap sang ayah. Menatap kembali Aira penuh kekhawatiran.
Aira tersenyum lebar, ia berusaha bersikap sopan pada sang ayah." Daddy tak usah kuatir, Aira bakal baik baik saja kok, Dad. Jadi jangan banyak hal yang di pikirkan."
__ADS_1
Aira berusaha menenangkan Ellad, dimana ia senang dengan perkataan lembut sang menantu.
"Andai Maya masih hidup, mungkin ia pasti senang melihat menantu yang begitu baik dan sopan." Gumam hati Ellad.
"Tuh, kan Daddy dengar sendirikan," ucap Edric. Begitu terlihat bahagia, akan ucapan istrinya.
"Iya, iya. Dasar anak manja," balas sang ayah dengan menyindir Edric, ia tahu jika Edric tak bisa jauh dengan orang yang sudah membuatnya nyaman. Pastinya Edric tak akan fokus pada penyebuhannya.
Sopir datang menghampiri Aira dan Edric." Tuan dan Nyonya muda, semua sudah saya siapkan. Tinggal kita berangkat. "
Aira dan Edric mulai berpamitan pada sang ayah, untuk segera pergi." kami berangkat ya, Daddy. Jaga kesehatan jangan lupa makan."
Ellad, menganggukkan kepala mengiyakan perkataan Edric. Memegang bahu sang anak dan berkata," kamu juga hati-hati ya, jaga baik-baik istri kamu itu. Apalagi sekarang Aira tengah mengandung, kamu harus ekstra menjaganya."
Edric memberi hormat kepada sang ayah," siap. Komandan."
Tawa kembali terukir pada bibir mereka berdua, Sedangkan Aira menutup mulut, berusaha menghargai kedua laki-laki yang kini menjadi keluarganya.
Ellad belum menceraikan Dwinda, mengurus mengurus surat surat cerai, pergi ke pengadilan. Butuh waktu yang lumayan lama.
Ellad terpaksa menunda perceraian dirinya dan Dwinda, mengurus perusahaan terlebih dahulu. Karena Edric, sudah berangkat ke luar negeri untuk menjalani pengobatan.
Setelah kepergian kedua anak-anaknya, Ellad bergegas menaiki mobil untuk pergi ke rumah sakit, iya tak perlu ditemani oleh sang supir, hanya pergi sendiri menggunakan mobil.
Setelah sampai di rumah sakit, Ellad muIai masuk, ia hanya memperlihatkan kartu kecil yang diperlihatkan Dwinda. Setelah itu para perawat mengantarkan Ellad, menuju orang yang dituju.
Terlihat Wanita paruh baya itu tengah menangis meraung menyebut nama suaminya, Ellad merasa tak tega dengan tangisan yang terlontar dari mulut ibunya Dwinda.
Ia perlahan melangkahkan kaki mendekat ke arah wanita tua itu," permisi."
__ADS_1
Wanita yang menghadap ke arah jendela, mendengar suara Ellad, ia membalikan badan ke arah Ellad.
Kedua tatapan wanita itu membulat, memperlihatkan kebencian saat ia pertama kali melihat sosok seorang lelaki yang baru saja ia lihat, ibunda Dwinda tak tahu masalah yang dihadapi suaminya waktu itu, apalagi masalah bisnis dan juga perusahaan.
"Siapa kamu?" Bentak wanita paruh baya dengan wajahnya yang penuh air mata, ia duduk di ranjang tempat tidur, enggan untuk beranjak pergi.
Ellad perlahan mendekat ke arah wanita paruh baya, semakin ia mendekat semakin wanita tua itu ketakutan," pergi kamu dari sini, penjaga."
Berteriak memanggil para perawat untuk menyingkirkan Ellad dari ruangannya.
Ellad berusaha menghentikan teriakan wanita yang ada di hadapannya saat ini," saya tidak akan menyakiti kamu, jadi saya berharap kamu tidak harus berteriak memanggil para penjaga."
"Mau apa kamu menemui, saya?"
Dalam berbicara wanita tua itu terdengar lancar, karena mungkin pengobatan yang sudah lama. Membuat ia sedikit bisa berbicara dengan lancar, walau masih terlihat tingkahnya yang ketakutan saat bertemu dengan orang lain.
"Saya, menemui anda hanya ingin berbicara sesuatu," ucap Ellad, berusaha menenangkan wanita yang ada di hadapannya. Ia tak mau jika ibunda malah mengamuk lagi, maka dari itu dengan nada lembut dan terdengar halus. Berusaha menenangkan wanita tua itu agar bisa diajak berbicara.
Perlahan, Ellad duduk di kursi yang sudah tersedia di dalam ruangan, ia melihat wanita tua itu sedikit tertekan. Ia seperti sudah tak betah berada di rumah sakit jiwa, sampai beberapa kali Ellad melihat gerak-geriknya yang menatap ke arah Sisi kiri dan juga kanan.
Terkadang kedua matanya, ingin lari dari ruangannya.
Namun, di luar ruangan begitu banyak penjaga yang menjaga wanita itu, kemungkinan besar Dwinda sudah mengalihkan ibunya ke ruangan yang cukup lumayan nyaman dan juga mahal.
"Apa kamu mengenal Dwinda?" pertanyaan Ellad membuat wanita itu malah menyempitkan kedua matanya," Kenapa kamu bertanya tentang orang lain? Siapa Dwinda aku tak mengenal nama itu!"
Jawaban yang begitu lancar, Ellad sedikit terlihat curiga, jika ibunda Dwinda sudah sembuh dari kegilaannya, terdengar sekali jawaban yang begitu lancar.
Ellad mulai bertanya lagi kepada wanita tua itu," kalau begitu aku tanya lagi pada kamu, apa kamu kenal dengan wanita bernama Dania?"
__ADS_1
Deg .....
Mendengar nama Dania malah membuat wanita gila itu turun dari rajang tempat tidur