Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 82 Masa lalu Dwinda 7


__ADS_3

Dwinda merasa curiga dengan gelagat ramah Edric, tadi ia melihat pemilik bola mata biru itu seakan murka padanya. Tapi sekarang?


Seperti ada hal yang akan dipertanyakan.


"Iya, Edric. Kenapa?"


"Aku hanya sedikit curiga pada kamu, kematian ibuku apa ada kaitanya dengan kamu?"


Sang pemilik bola mata coklat membulatkan kedua matanya, ia tampak terkejut mendengar Edric bertanya seperti itu.


"Maksud kamu apa, ya!" jawab Dwinda, ia berusaha bersikap tenang agar tidak dicurigai kedua anak dan ayah yang berada di dalam mobil.


"Tidak ada maksud apa-apa, hanya saja aku sedikit mencurigai gerak gerik dari kamu, terlihat sekali kematian ibuku ada kaitannya dengan kamu, " ucap Edric terdengar menuduh Dwinda.


Ellad mengerutkan dahi, ia hanya bisa menyimak obrolan antara Dwinda dan juga anaknya.


"Kok, aku sedikit merasa kamu menuduhku, Edric," balas Dwinda, seperti tak terima jika dirinya disalahkan.


Walau dalam kenyataan, memang ialah yang bersalah. Hanya saja Dwinda berusaha menutupi semuanya, agar rencananya berjalan dengan mulus.


Namun, ketika rencana itu berhasil, ada satu orang yang terus menyalahkan dirinya atas kematian Maya, ialah Edric. Lelaki yang sudah ia buat lumpuh.


Mengenggam erat tangan, menahan rasa kesal. Dwinda ingin sekali memukul mulut Edric.


"Hey, Dwinda. Aku tidak menuduhmu, hanya curiga saja. Karena dari awal aku melihat kamu seperti memanfaatkan ibuku, " tuduh Edric, semakin menekan Dwinda.


Sang pemilik bola mata coklat berusaha tidak terpancing dengan tuduhan Edric, ia berusaha menenangkan diri. Menghilangkan semua amarah agar bisa menjawab pekataan anak Ellad yang sudah mencurigai kelicikannya.


"Kenapa? Diam saja, apa kamu tengah menenangkan diri agar tidak terpancing dengan perkataanku?" tanya Edric, semakin membuat Dwinda tak bisa mengontrol emosi dalam diri.


Edric hampir bisa membuat Dwinda mengatakan semuanya, tapi ternyata. Ellad ikut dalam obrolan mereka berdua.


"Sudah Edric, kamu tak usah menyalahkan orang lain dalam kematian ibu kamu, semua mungkin sudah menjadi takdir. Kita tak boleh menekan orang lain dalam hal ini," ucap Ellad pada anaknya.


Saat kematian Maya, hanya ketenangan yang diingin kan Ellad, ia tak mau mendengar perdebatan atau kerusuhan dihadapanya.


"Daddy, tapi dia .... "

__ADS_1


Ellad malah menghentikan ucapan Edric, tanpa mendengar penjelasan dari kecurigaanya selama ini.


"Sudah, cukup. Daddy ingin tenang tak mau mendengar perdebatan atau pun omong kosong dari mulutmu, " tegas sang ayah pada anaknya.


Dwinda yang tadinya menahan amarah, kini tersenyum senang, ia seakan bahagia melihat perdebatan seorang anak dan ayah.


"Wah, ternyata Ellad sudah mulai berpihak padaku, tak harus aku susah payah menahan emosi karena Edric, "gumam hati Dwinda.


Ellad mulai menyuruh sopir mengantarkan Dwinda ke rumah sakit kembali, " sebelum kita pergi ke rumah, antarkan dulu Dokter Dwinda ke rumah sakit."


Edric merasa kecewa dengan sang ayah yang tak mau mendengarkan perkataanya, sang ayah lebih mementingkan Dwinda jelas jelas orang lain dari pada anaknya sendiri.


Tak habis pikir dalam diri Edric, kenapa sang ayah berubah begitu cepat.


"Baik pak."


Sopir kini mengantarkan Dwinda, ke rumah sakit.


Sedangkan Edric hanya diam, melihat Dwinda begitu senang kegirangan, karena sang ayah membela dirinya.


Setelah sampai di rumah sakit, Dwinda turun dan mengucapkan." Terima kasih atas tumpanganya, pak."


*********


Setelah mengantarkan Dwinda, Ellad memulai obrolan di dalam mobil dengan bertanya pada anaknya.


Edric yang masih kesal dengan sang ayah, hanya menatap jendela luar tanpa berucap satu patah katapun.


"Edric, apa kamu setuju jika Dwinda bekerja di rumah kita, dengan mengurusmu sampai sembuh?"


Pertanyaan Ellad membuat Edric malas menjawab. Ia berusaha tidak menjawab dan berusaha menghindar.


"Edric, Daddy ini tanya sama kamu, tapi kenapa kamu malah diam saja. Daddy ini ingin melihat kamu jalan normal kembali, tidak mengandalkan kursi roda untuk berjalan ataupun pergi ke mana-mana," ucap Ellad, berusaha mencari solusi untuk anaknya agar sembuh kembali dan bisa berjalan normal.


Edric mulai menjawab perkataan sang ayah dengan perasaan kesalnya." Terserah Daddy saja. Cuman tak ada dokter lain apa selain dia? Edric tak suka dengan dia. Apalagi dalam bicaranya."


"Menurutlah dengan Daddy, ini semua demi kebaikan kamu," ucap sang ayah, ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya.

__ADS_1


Ellad akan berusaha semampu yang ia bisa untuk bisa menyembuhkan anak semata wayangnya, karena dirinya yang bergelar CEO, Tak mungkin harus menanggung malu saat teman-teman dan rekan bisnisnya mengetahui bahwa dia mempunyai anak yang lumpuh.


Kemungkinan semua rekan kerja dan juga temannya akan mempermalukan dirinya dan juga mengolok-olok.


Ellad sementara waktu menyembunyikan identitas anak pertamanya itu, sebelum ia mengenalkan Edric pada bidang bisnis perusahaan.


"Baguslah kalau kamu menurut pada Daddy, apapun kemauan kamu pasti akan Daddy turuti. Kamu tenang saja."


Mendengar hal itu Edric tak tertarik sama sekali, iya diam-diam belajar tentang bisnis dan juga membuka usaha sendiri, tanpa sepengetahuan ayahnya sendiri.


Karena ia sudah tahu, jika di keluarga Ellad dirinya akan dipermalukan, karena lumpuh dan tak bisa apa-apa.


Edric sudah menduga jika sang ayah akan menyembunyikan identitasnya, selagi Edric lumpuh dan tak bisa melakukan semua hal yang ia suka. Dari bermain bola dan basket.


******


Ellad mulai menghubungi Dwinda, untuk segera memberitahu wanita pemilik bola mata coklat itu bekerja di rumahnya, sebagai seorang dokter yang menjaga dan mengurus kesembuhan Edric.


(Besok, kamu bisa bekerja di rumahku, sebagai dokter yang mengurus anakku.)


Pesan terkirim, tak butuh waktu yang begitu lama, menunggu balasan dari Dwinda.


Dengan senangnya Dwinda membalas cepat pesan dari Ellad.


(Baik, besok saya akan datang dan bekerja di rumah anda untuk mengerus Edric.)


(Bagus, kalau begitu saya tunggu kedatangan kamu di rumah. Besok)


Dwinda berloncat-loncat kegirangan, merasa senang. Jika rencananya berjalan begitu mulus, tak ada hambatan yang terjadi," Akhirnya aku bisa masuk ke dalam keluarga Ellad. Untuk menghancurkan keluarga Ellad yang sudah membuat keluargaku hancur seketika, ia juga membuat Ayahku mati sia-sia, dan membuat Ibu gila. "


Dreet ....


Suara panggilan telepon berbunyi, Dwinda melihat jika orang yang menelepon dirinya dari pihak rumah sakit, dengan perasaan tak karuan, pada akhirnya the Winda mengangkat panggilan telepon dari pihak rumah sakit.


"Halo."


"Dengan ibu Dwinda, kami dari pihak rumah sakit ingin memberi tahu jika ibu anda mengalami kejang kejang, apa anda bisa datang ke sini segera mungkin."

__ADS_1


Dwinda tanpa syok dan juga sedih, padahal kemarin ibunya baik baik saja tapi sekarang kenapa mendadak. Membuat ia meminta izin pada pihak rumah sakit. Untuk segera menemui sang ibu.


__ADS_2