
Aini yang ternyata sengaja mendobrak pintu kamar ibunya, melihat pemandangan menjijikan didepan matanya. Sang ibu tak kuasa menahan luka, ia sudah berusaha menahan anaknya agar tidak membuka pintu kamar sang ibu.
Karena kekuatan Aini yang sudah lemah, membuat ia tak bisa menahan anaknya.
Rendra bangkit dari ranjang tempat tidur, ia menutup tubuh gadis yang tengah ia sentuh dengan selimut.
"Dasar anak tidak tahu diri." Menarik tubuh Laudia membantingkannya pada kasur, sang ibu berusaha menyelamatkan Laudia dari Rendra yang kini di pengaruhi minuman keras.
"Aku akan beri kamu pelajaran, agar kamu ini tidak seenaknya, mendobrak pintu kamar orang." Rendra menjambak rambut Laudia, tanpa kesadaran, Rendra menyobek baju anaknya sendiri. Aini dengan sekuat tenaga, menyelamatkan anaknya.
"Sadar Rendra."
Rendra yang sudah dikuasai napsu, mendorong tubuh sang istri hingga terpental jauh.
Wanita tua itu jatuh pingsan, sedangkan Laudia dengan kekuatan yang ia punya berusaha menendang sang ayah tiri.
"Kamu akan tahu rasanya, jadi berhentilah memberontak. "
"Lepaskan aku."
Gadis yang masih di tutupi selimut, hanya tersenyum kecil, terlihat ia begitu senang menyaksikan Laudia yang berusaha menyelamatkan diri.
"Lepaskan aku."
Dengan menangis, sampai akhirnya.
Brakk ....
Hasan muncul, meninju wajah Rendra. Ia membulatkan kedua matanya, lelaki yang menjadi suami Aini adalah sahabatnya sendiri.
"Rendra?"
Lelaki itu tersungkur jatuh, sembari memegang pipinya yang terlihat berdarah. " Hasan."
Laudia menangis, dan berlari ke arah sang ibu. Berusaha membangunkan ibunya, " Bu, bangun."
Rendra yang masih di pengaruhi minuman keras dan juga obat obattan tertawa lepas, hilang kesadaranya, membuat ia dengan lantang memukul Hasan.
"Kamu kembali Hasan?" tanya Rendra, berusaha berdiri, dengan tubuhnya yang sudah terlihat lemas. Ia mempersiapkan aba aba dengan kedua tangannya yang mengepal.
"Rendra, sadarlah. Kamu ini terlalu mengandalkan amarah, sampai ingin mencelakai anak kamu sendiri!" jawab Hasan, berusaha menasehati sahabatnya yang sudah lama tak jumpa.
__ADS_1
"Apa kamu bilang, waw. Dia bukan anakku, tapi anakmu," balas Rendra menahan darah yang mengalir bercucuran pada wajahnya. Hingga mengenai tangan.
"Anakku," ucap Hasan masih tak percaya, karena yang ia tahu jika benih hasil hubungannya dengan Aini, sudah lama di gugurkan.
Laudia yang berusaha membangunkan sang ibu, tentulah terkejut mendengar ucapan sang ayah tiri ketika mendengar jika dirinya adalah anak Hasan.
"Ya, aku mencoba bersabar selama ini. Menikahi Aini, karena kamu tak kunjung kembali," balas Rendra. Dengan memperlihatkan raut wajah kemarahanya.
"Aku tidak kembali, karena kedua orang tua Aini tak merestuiku karena aku miskin. Bisa kamu bayangkan Rendra, merantau untuk mencari uang dan pulang melamar Aini malah diusir oleh kedua orang tua Aini. Karena mereka bilang aku tak pantas saat bersama dengan Aini, " ucap Hasan, menjelaskan semua yang terjadi.
Berharap jika Rendra mengerti, dan Hasan juga baru tahu jika sahabatnya Rendra yang menikahi sang pujaan hati.
Aini kini bangun, melihat sosok pria yang ia benci ada di depan wajahnya.
"Hasan, kamu."
Wanita tua itu bangkit, menghampiri Hasan dan ingin memukulnya habis habisan.
Hasan berusaha menahan kedua tangan Aini, agar tidak memukulnya.
Dengan sekuat tenanga, Hasan mengugkapkan semuanya." Aini, aku masih mencintaimu. Aku menunggu kamu. Mencari kamu, sampai aku rela tidak menikah."
"Kamu bohong, kamu pengecut."
Laudia masih tak percaya dengan cerita sang ibunda yang ternyata sangatlah menyedihkan.
Rendra masih pada pengaruh alkohol, hanya diam tanpa berucap satu patah katapun.
Mungkin setelah ini, dia akan menyerahkan wanita yang selalu ia sia siakan pada Hasan. Karena ia tahu jika Aini bukan miliknya.
"Aini, tolong mengerti aku. "
Menundukkan kepala masih merasa diabang kebingungan. Hingga satu kata talak terlontar dari mulut Rendra untuk Aini.
"Aku talak kamu Aini, kita bukan suami istri lagi.'
Deg ....
Ucapan Rendra, membuat air mata kini keluar dari kedua mata Aini. Padahal sudah banyak luka yang ditorehkan Rendra pada hati Aini. Tapi, saat talak itu keluar dari mulut sang suami, membuat luka hati semakin terbuka lebar.
Gadis yang melayani Rendra dengan terburu buru, memungut pakaiannya yang berserakan, ia segera pergi dari sekeliling orang di dalam kamar.
__ADS_1
Rendra menatap lekat ke arah mata istrinya dengan berkata," kamu sudah bertemu dengan lelaki yang kamu cintai, aku pergi dan pamit."
Kedua mata lelaki bernama Rendra itu memerah, perlahan mengeluarkan air mata. Padahal tadi dia begitu kejam dan juga jahat, tapi sekarang.
Apa Rendra segaja selama ini?
Sampai ia tega membuat istrinya selalu sakit hati? Agar perpisahan tak menyakitkan.
"Aku pamit, selamat tinggal. Kita tunggu dipersidang nanti."
Tangan Rendra kini terlepas, menandakan perpisahan. Untuk yang terakhir kalinya, padahal baru saja peperangan terjadi di depan mata, membuat kehancuran.
Mereka pergi, Laudia memeluk sang ibu dengan begitu erat," Ibu akhirnya ibu bebas dari penderitaan ayah Rendra."
Hasan hanya bisa menatap dalam hening, terlihat sepucuk harapan bisa bersatu dengan wanita yang ia tinggalkan sejak lama.
"Aini."
Lelaki tua bernama Hasan kini memanggil lembut Aini, membuat wanita itu malah mengusir Hasan secara terang terangan di depan Laudia.
"Cepat kamu pergi dari sini." Aini mengusir Hasan, dengan harapan lelaki itu pergi dan menjauh dari hadapannya.
"Bu, jangan begitu. Bagaimana pun Pak Hasan ayah kandung Laudia," timpal Laudia, terlihat membela Hasan, karena kemungkin besar jika Hasan tidak ada. Laudia akan menjadi sasaran kebejadan Rendra.
"Kenapa kamu membela lelaki ini, dia memang ayah kandung kamu, tapi dia tidak bertanggung jawab," pekik Aini. Tak suka dengan pembelaan dari mulut Laudia untuk Hasan.
"Tapi, bu. Ada kesalahpahaman yang terjadi, di antara kalian berdua, masa lalu yang mengantarkan kalian pada derita," ucap Laudia berusaha menerima Hasan ayah kandungnya.
"Apa yang dikatakan anak kandung kamu benar, Aini. Aku .... "
Aini seakan dibutakan dengan rasa benci, ia tega mengusir Hasan agar pergi dari hadapannya.
"Cepat pergi dari sini, aku tidak mau melihat kamu lagi."
Laudia memberikan kode agar ayah kandungnya pergi, dengan mempelihatkan kedua mata yang menyuruhnya menjauh terlebih dahulu. Laudia berusaha menenangkan sang ibu terlebih dahulu, setelah kejadian yang tak diinginkan terjadi baru saja.
Hasan melangkah dengan menatap sekilas pada raut wajah Aini, ia pergi keluar rumah sang kekasih.
Berusaha menjauh, agar tidak ada lagi pertengkaran dan amarah keluar dari sang ibu.
Saat Hasan keluar, Rendra ternyata menunggunya, ia menyalakan kelakson mobil agar Hasan mendekat menghampiri Rendra pada saat itu.
__ADS_1
Apa yang Rendra bicarakan dengan Hasan, sampai raut wajahnya memperlihatkan ketidak nyamanan pada diri Hasan saat itu.