
"Tuh, kan apa kata aku juga. Dosen itu naksir sama kamu sayang. Mana ada wanita menelepon duluan harusnya laki laki yang menelepon wanita duluan. Lah ini. Malu lah kaya nggak punya harga diri aja," ucap Aira, nada bicara terdengar kampungan. Padahal awal awal bertemu Aira begitu anggun.
"Sabar sayang, kan aku belum membalas pesan dari wanita ini." balas Edric menenangkan hati istrinya, agar tidak larut dalam amarah.
"Iya juga sih. Ya sudah, coba kamu balas lagi. Aku penasaran," suruh Aira pada suaminya.
Kedua insan itu begitu kompak, dalam mengerjai seseorang.
(Boleh. Tapi Vc ya.) pesan terkirim Aira dan Edric menunggu Siska menelepon mereka.
"Kita tunggu sayang, apa dia menelepon atau tidak."
Aira hanya menganggukkan kepala, seakan permainan ini sangatlah mengasihkan.
"Kamu kok terlihat bahagia, saat membalas pesan Bu Siska."
"Ya jelas dong, nanti saat Bu Siska menelpon kamu aku muncul. Kita lihat saja bagaimana reaksi saat melihat wajahku."
" Benar juga, kayanya seru deh."
"Pastinya dong."
*******
Tring ....
Pesan datang, dimana Siska begitu senang dengan balasan yang ia baca dari pujaan hatinya.
"Edric. Apa benar kamu mengatakan semua ini?" memegang kedua pipinya, mencubit erat dengan tangan kanan.
"Ahk, ini ternyata bukan sebuah mimpi, tapi kenyataan." Siska semakin bahagia, ia mengira bahwa dirinya sedang bermimpi seperti kemarin."
Namun sekarang adalah sebuah kenyataan," Edric menyuruh menggunakan Vc. Mm, sebaiknya aku harus berdandan dulu, sebelum bertatap muka dengan Edric."
Edric dan juga Aira merasa jika Siska lama menelepon. " Kok lama ya sayang."
"Iya, tidak biasanya. Sampai selama ini."
Tanpa sadar Aira ketiduran di bahu sang suami, sedangkan Edric. Menyandarkan tubuhnya, ikut tidur dengan sang istri.
__ADS_1
******
Sedangkan Siska masih merias wajahnya dengan alat make up yang selalu ia pakai ketika pergi ke kampus.
" Ini udah bagus belum ya."
Ada rasa ragu, saat Edric menatap wajahnya. Siska takut jika Edric tak suka dengan rias wajahnya.
"Aduh, takut nggak suka diaanya."
Siska mulai mengganti pakaiannya, dengan pakaian yang begitu seksi. Ia sengaja, agar bisa menggoda Edric. Walau hanya dalam tatap muka saja, Siska mulai belenggak lenggok. Melihat apa penampilannya sudah sempurna, dia ingin selalu tampil cantik di hadapan sang Pujaan Hati.
Walau apa yang ia katakan ter kesan lebay, tapi inilah cara satu satunya menggoda laki laki, menurut dirinya sendiri. Siska, menatap cermin, menyisir rambut, perasaannya berbunga. Hanya karena dapat balasan dari Edric.
Ia baru kali ini merasakan cinta, setelah sekian lama bergelut dengan dunia pendidikannya. Mencapai cita cita hingga dirinya bisa menjadi dosen seperti sekarang.
"Tampilan yang sempurna." Siska mulai meraih ponselnya, menatap layar ponsel sudah menunjukkan pukul dua malam.
Mungkin karena ia berdandan cukup lumayan lama, membuat dirinya lupa jika waktu semakin cepat semakin berlalu.
"Apa Edric sudah tidur ya, aku kelamaan merias diri, sampai lupa waktu. Mudah mudahan dia belum tidur." Ucap Siska sambil menggigit jari-jari tangannya. Iya menyesal karena terlalu lama berdandan, malah membuat dirinya membuang-buang waktu. dan lupa akan Edric.
Sampai dimana satu pesan datang, Siska melihat isi pesan itu.
"Pesan dari Edric," betapa senangnya Siska menerima pesan dari sang murid, membuat iya membuka isi pesan itu.
(Maaf aku ketiduran.)
Saat itulah Siska mulai menelepon Edric, menggunakan video call, Iya merapikan baju dan juga riasannya. Berharap jika muridnya itu suka," Ayo angkat Edric."
Edric dan Aira mulai bersiap-siap, mengobrol dengan sang dosen. Mereka merapikan wajah yang berantakan bekas menunggu terlalu lama begitupun dengan rambut yang tak beraturan.
Setelah siap, sang pemilik bola mata biru menggeser tombol berwarna hijau dari ponselnya, wajah Siska kini terpampang secara nyata.
Di mana membulatkan kedua matanya. melihat penampilan Siska yang sangatlah berbeda, menunjukkan belahan dada yang terekspos cara nyata.
Mulut Edric mengangah, membuat Aira penasaran dan juga," kenapa?"
Edric mencoba menutup mulutnya, ia berusaha tenang agar tidak terpancing.
__ADS_1
Siska tersenyum menampilkan raut wajah cantiknya, sembari berlenggak-lenggok layaknya wanita penggoda.
"Hai Edric, "
Edric merasa terganggu dengan penampilan dosennya itu.
Ini saatnya Aira menampilkan diri di depan ponsel suaminya, sudah ia duga jika dosen bernama Siska itu mempunyai hati terhadap suamimu.
Aira mulai menyapa dosen itu dengan begitu ramah, duduk di samping Edric, sengaja mencium pipi suaminya.
Saat kemesraan itu terlihat di depan kedua mata Siska, perasaannya seakan kacau, mulut yang tadinya ingin mengatakan sesuatu hal kepada sang murid, kini terbungkam.
"Edric di samping kamu itu siapa?" tanya Siska penasaran. Dosen itu tidak mau berpikir jauh, asal menebak dan juga marah-marah tak jelas.
Edric dengan sengaja merangkul istrinya di depan Siska," Sayang coba kamu perkenalkan diri, pada dosenku yang baik ini."
Aira melambaikan tangan di depan layar ponsel suaminya, Siska tersenyum ramah membalas lambaian tangan itu," Hai namaku Aira. Aku adalah istri Edric."
Deg ....
Mengerutkan dahi, perasaan seakan kacau. Mulut yang tadinya lancar berbicara tiba-tiba terasa kaku," tadi kamu bilang apa? Is-tri?"
Siska ternyata mengulangi pertanyaannya lagi, ya terlihat tak percaya, dengan pernyataan Aira.
Tersenyum tipis, menelan kekecewaan dirinya sendiri.
Aira dengan wajah bahagia dan gembiranya, mengatakan hal itu berulang kali," aku ini istrinya Edric."
Sebagai seorang dosen, Siska berusaha profesional. Ia menarik selimut menutupi tubuhnya, rasa kecewa menyayat hati, bagaikan pisau yang terus mengiris mengiris perasaan perlahan demi perlahan.
"Kapan kalian menikah, kok saya tidak tahu?" tanya sang dosen kini mulai berbicara formal seperti sedia kala.
Karena hadirnya Aira dalam video call, membuat kedua pipinya memerah. Siska malu pada dirinya sendiri, ia tak tahu jika pujaan hatinya sudah memiliki seorang Istri."
"Sudah sebulan, dan sekarang kami dikarunia seorang anak," ucap Aira mengatakan kebahagiaannya itu pada sang Dosen.
Edric yang duduk di sebelahan dengan sang istri, hanya terdiam. Menyenderkan tangan pada kepala, menatap wajah sang istri ketika mengobrol dengan Siska.
"Ternyata kalian ini pengantin baru," balas Siska, tetap menampilkan keramahannya. Iya tidak mau jika orang lain tahu bahwa dirinya kini sedang bersedih, menutupi dengan senyuman lebar. Masih tak percaya dengan perkataan yang terlontar dari mulut wanita bernama Aira itu.
__ADS_1
"Oh ya, tumben Ibu dosen menelepon suami saya di jam malam begini. Apa pantas seorang dosen pembimbing menelepon muridnya dengan pakaian yang tak layak diperlihatkan pada sang murid apalagi Edric murid anda ini sudah memiliki sang istri?" tanya Aira, membuat Siska berusaha mengalihkan perkataannya.