
Mobil sudah sampai di halaman rumah Laudia, Edric yang terkesan jutek, menyodorkan payung untuk dipakai Laudia agar sekretarisnya tidak kehujanan.
"kamu pakai ini? Saya tidak mau jika nanti bawahan saya sakit hanya gara-gara hujan." Ucap Laudia langsung mengambil payung yang disodorkan atasannya, ia menganggukan kepala lalu keluar dengan membuka payung itu. Laudia menampilkan senyumnya ke arah atasan dan juga sang sopir, mengucapkan kata terima kasih.
Mesin mobil mulai dinyalakan, Laudia masih berdiri di halaman rumahnya, setelah mobil itu melaju jauh tak terlihat lagi oleh kedia matanya, Wanita berambut panjang yang terurai rapi mulai melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam rumah.
Membuka pintu rumah dengan mengucapkan salam, ia tersenyum-senyum sendiri di saat membayangkan atasan menyodorkan payung untuk dirinya.
"Laudia."
"Laudia."
Pukulan tangan membuyarkan lamunan Laudia, pukulan tangan dari sang ibu, " Ibu?"
"Ngapai kamu melamun di sana, hah."
Tangan yang sudah mengkerut itu, menjambak rambut Laudia, wanita berbadan tinggi dengan kulit putihnya meringis kesakitan." Aw, sakit bu. "
Sang ibu menyodorkan tangan dengan memalak sang anak, agar mau membanginya uang." Mana uang?"
Kedua mata Laudia membulat, setelah mendengar sang ibu menagih uang kepadanya." Laudia kan baru saja bekerja, jadi Laudia nggak punya uang, bu."
Cekraman tangan sang ibu semakin kuat menjambak rambur Laudia, ia geram dengan anak kandungnya yang tak bisa memberikan uang kepadanya. "Hah, dasar pelit."
Meringis kesakitan, Laudia pada akhirnya berusaha melawan. Tapi tenaga Laudia terlalu lemah, hingga ia tersungkur jatuh karena tangan kasar sang ibu yang mendorongnya begitu keras.
"Bagaimana rasanya sakitkan."
Badan yang terduduk, membuat gadis berkulit putih itu menangis, menatap kearah sang ibu.
"Bu, tega ya sama Laudia."
Tawa wanita tua itu terdengar nyaring, membuat Laudia menutup kedua telinga.
Tangan menujuk ke arah wajah sang gadis dengan mengumpat dan menghina gadis itu terus menerus, tiada jeda.
"Makanya jadi anak itu yang berguna."
__ADS_1
Membuang ludah, sang gadis akhirnya di tendang oleh kaki sang ibu. " Aw, sakit bu."
Tawa kembali terdengar, wanita tua itu pergi tak mempedulikan kesakitan sang anak.
"Memangnya enak, rasain."
Laudia berusaha berdiri, setelah melihat kepergian sang ibu. Wanita yang melahirkannya begitu tega berbuat kekerasan, ketika Laudia tidak memberikannya uang, padahal dia tak mengerti dengan jalan pikiran ibunya yang selalu memarahinya tanpa sebab.
Bukanya merasakan rasa senang dan tenang. Setelah pulang dari tempat kerja, Laudia malah diperlakukan tidak baik oleh sang ibu.
Gadis manis dengan badannya yang tinggi semampai, berbody seperti model. Berusaha duduk di atas kasur merasakan rasa sakit diarea badan, akibat pukulan sang ibu yang bertubi-tubi.
Tok .... Tok .... Tok ....
Ketukan pintu terdengar dari kamar Laudia, ia menatap pada lubang kecil yang sengaja ia lubangi, agar bisa melihat terlebih dahulu siapa yang datang.
Perasaanya tak menentu, dan benar saja dugaannya sekarang. Orang yang mengetuk pintu ternyata sang ayah tiri. Malas rasanya melihat lelaki tua yang selalu menggodanya dan juga tak sopan kepada Laudia.
Lelaki tua yang menjadi ayah tiri Laudia, terkadang suka datang tanpa mengetuk pintu ke dalam kamarnya. Membuat ia geram dan tak tahan, ingin rasanya wanita berbadan tinggi berkulit putih itu pergi dari rumah ke dua orang tua.
Namun karena baru Memiliki pekerjaan, dengan terpaksa Laudia, harus tinggal dulu bersama kedua orang tuanya. Ia harus berhati-hati, dan tak boleh lengah, karena bisa-bisa bahaya mengancam dirinya.
"Laudia buka, sayang. "
Wanita berkulit putih yang duduk di ujung ranjang tempat tidurnya, menutup telinga berpura-pura tak mendengarkan panggilan ayahnya.
Laudia membaringkan badan untuk segera menutup kedua matanya, ia ingin tertidur dengan nyenyak tanpa gangguan siapapun.
Sudah banyak yang diderita oleh Laudia dari keegoisan kedua orang tuanya, yang membuat bahagianya hanyalah seorang ayah yang kini sudah pergi meninggal dunia.
Hancur lembur, yang kini dirasakan wanita berkulit putih itu, tertidur dengan kedua mata yang ternyata mengeluarkan rintikan air.
Laudia mengingat wajah sang ayah, pelindung dirinya di saat ia merasa kesepian.
*******
Edric yang masih di dalam perjalanan menuju pulang, memikirkan sekretarisnya yang baru bekerja satu minggu di perusahaannya. Sang CEO muda itu melihat luka lembab di daerah paha Laudia.
__ADS_1
"Apa Laudia mengalami kekerasan di rumahnya? " Hanya itulah yang kini tengah dipikirkan Edric.
Sang pemilik bola mata biru, juga menyadari wajah pucat sekretaris barunya. Terlihat Laudia sedang tidak baik-baik saja.
Namun dalam otaknya yang terus memikirkan Laudia, Edric berusaha tidak memperdulikan sekretaris barunya, ia lebih fokus dengan Aira.
Setelah menepis pikiran tentang Laudia. Pak Hasan malah mengungkit sekretaris baru Edric yang juga penasaran dengan luka pada paha wanita cantik bernama Laudia itu.
Pak Hasan memberanikan diri, memulai obrolannya." Maaf sebelumnya pak, kalau saya lancang berbicara seperti ini."
Mendadak sekali Edric mendengar perkataan Pak Hasan yang begitu membuat dirinya penasaran.
"Emangnya ada apa, Pak? Sampai minta maaf. " Sang CEO muda selalu memperlihatkan wajahnya yang begitu asik jika diajak mengobrol.
"Ini soal, penumpang tadi yang menjadi sekretaris bapak, ada sesuatu yang membuat saya benar-benar kasihan terhadap dia. "
Kecurigaan ternyata disadari oleh sang supir, Edric mengira hanya dia saja yang berpikir seperti Pak Hasan.
"Kasihan kenapa, Pak. Dia kan cantik seksi dan juga berbakat, apa yang harus dikasihani cewek cantik seperti dia, "ucap Endric yang memang tak suka dengan penampilan sekretaris barunya.
"Bukan masalah cantiknya. Pak, hanya saja pas dia duduk di samping saya. Saya melihat banyak luka lembab di paha dan juga tangannya. Apa Bapak tidak menyadari selama bekerja dengan dia, saya takutnya dia mengalami kekerasan di dalam rumahnya, yang saya takutkan dia itu hanya diam dan tak melaporkan Semua kasus yang menimpa dirinya itu."
Edric juga memikirkan Laudia, tapi dia berusaha menepis karena masalah dirinya dengan ibu tirinya juga belum juga selesai.
Edric diam tak menanggapi sang supir.
"Apa bapak tidak merasa kasiahan terhadap dia?" Di berikan pertanyaan tentulah membuat Edric hanya menyimak. Hingga ia buka suara.
" Ya terus, apa yang harus saya lakukan? Pak Hasan tahu sendiri kan, saya sudah mempunyai istri, mana mungkin saya ikut campur masalah sekretaris baru saya! "
Ucapan yang sangat bijak untuk Edric yang sudah memiliki istri, dia tak mau ikut campur masalah orang lain apalagi masalah seorang wanita yang menjadi sekretaris barunya.
Karena namanya wanita jika dibaikin dia akan luluh dan mampu menyimpan perasaan, maka dari itu Edric takut menolong wanita itu.
"Ya juga sih, pak. Tapi saya .... "
"Ya sudahlah ya. Pak. Kalau memang Pak Hasan ingin membantu dia. Ya saya mempersilahkan saja, tapi dengan satu sarat?"
__ADS_1
"Sarat apa? Pak?"