
Maria berlari, setelah mengatakan para pelayan.
"Ayo, semua hari ini kita makan besar untuk malam ini."
Bersorak hore, mendengar Maria berkata seperti itu. Seakan tak ada beban pada para pelayan, setelah kepergian Dwinda yang kini masuk ke dalam penjara.
Aira bernapas lega, ia merasakan rasa bahagia, sampai Edric bisa dekat kembali dengan sang ayah.
Masuk ke sebuah restoran, Aira wanita desa berusaha bersikap tenang. Karena ia baru pertama kali menginjakan kaki, ke sebuah restoran ternama.
Mendorong kursi roda sang suami, terlihat para pelayan menyambut kedatangan keluarga Ellad, Aira seperti tuan putri yang dihargai dan di sambut seperti tamu sepesial.
Suatu kebahagian bisa menikah dengan Edric lelaki lumpuh yang mejadi seorang CEO muda di usia dua puluh delapan tahu.
Kini Aira mengandung benih Edric, di usia pernikahan yang baru, membuat Aira melupakan masalah dendamnya.
Ia melihat jika Edric, adalah laki laki baik dan tidak jahat seperti apa yang ia bayangkan saat pertama kali bertemu.
Keluarga Ellad mulai duduk, pelayan memperlihatkan menu makanan. Edric memilih makanan yang ia suka, sedangkan Aira terdiam, ia tak mengerti bahasa dalam buku menu di restoran itu.
"Ya elah kenapa coba pake bahasa inggris segala, kan aku nggak bisa bahasa begini. Yang aku tahu makan cuman, sayur kankung, jengkol sama sambal. Udah ikan asin udah nikmat lah ini." Gerutu Aira mengaruk rambut kepalanya, karena tak mengerti bahasa yang disajikan pada buku menu.
"Sayang, Aira." Panggil Edric, ia tahu jika istrinya kebingungan memilih menu makanan.
"Sayang, di sini emang nggak ada semur jengkol apa?"
Kedua mata Edric membulat, sedangkan Ellad menutup mulutnya menahan tawa.
"Ini apa lagi stik?"
Pelayan yang mulai menyatatkan menu pilihan Aira menahan tawa, karena ucapan Aira begitu terlihat lucu dan menggemaskan.
Edric memegang tangan, dan meraih buku menu makanan dari tangan istrinya.
Edric memesan makanan yang ia sebut pada pelayan, tentu dimana Aira mengerutkan dahi dan tak mengerti sama sekali.
"Kamu tenang saja ya, aku sudah merekomendasikan makanan yang enak di restoran ini," ucap Edric. Berusaha membuat istrinya merasa di hargai.
"Oh, ya sudah kalau begitu," balas Aira memperlihatkan kedua pipi memerah, seperti malu akan tawa sang pelayan.
__ADS_1
Edric memegang dagu Aira, melihat kedua pipi seperti udang rebus. " kamu malu sayang."
Aira menundukkan wajah, tersenyum kecil." Iya aku kan hanya wanita des ...."
Belum perkataan terlontar semuanya, Edric menempelkan telunjuk tangannya pada bibir tipis sang istri.
"Jangan merendahkan diri kamu sendiri, bagaimana pun, kamu adalah wanitaku. Tak peduli setatus kamu hanya seorang wanita desa, yang terpenting kamu mau bersamaku dan setia menjalani rumah tangga sampai kakek nenek."
Ellad merasa iri dengan kemesraan yang ditampilkan anaknya, terlihat lelaki tua itu berusaha tidak peduli dan melihat layar ponselnya dengan fokus.
"Terima kasih, Edric."
Medengar tutur kata lembut Aira, membuat Ellad semakin percaya akan cinta mereka berdua yang tulus.
Tak payah, Ellad membawa gadis desa dan menikahkannya dengan Edric. Membuat keluarga mereka semakin terasa harmonis.
"Mm." Ellad berpura pura batuk, di saat kemesraan terlihat begitu membara. Membuat rasa tak nyaman dalam diri Ellad.
Edric, menghentikan candaannya di depan Aira, karena memang mereka baru merasakan manisnya cinta.
Ellad ternyata tengah mengirim pesan dengan seorang dokter yang akan mengobati Edric, berharap jika dokter itu, bisa menyebuhkan anaknya sampai Edric berjalan normal kembali.
Ellad kini memulai percakapan pada anak semata wayangnya. " Edric, apa kamu siap besok untuk menjalani terapi?"
Pertanyaan sang ayah membuat Edric sedikit ragu, akan dirinya apa masih bisa sembuh.
"Entahlah, apa aku masih bisa berjalan normal seperti dulu."
Terdengar keputus asaan dalam ucapan Edric membuat Aira, berusaha menyakini suaminya.
"Aku percaya kamu pasti bisa. " menggenggam erat dengan penuh kenyakinan. Berusaha membuat kata semangat bangkit dalam diri Edric.
Menarik napas mengeluarkan terasa lega, menatap sang istri penuh kata semangat membuat Edric begitu bahagia.
"Terima kasih Aira, sudah mau menjadi seorang wanita yang menerima aku apa adanya."
Aira tersenyum mendengar ucapan suaminya yang berulang kali mengatakan perkataan itu.
"Sudah berapa kali kamu mengatakan hal itu, aku hampir bosan mendengarnya?" tanya Aira. Mencubit hidung mancung Edric. Wajah tampan kebulean itu membuat Aira tak henti memandang dengan penuh cinta.
__ADS_1
"Kamu bahagia," ucap Edric.
"Tentu," balas Aira. Edric tak segan segan memeluk sang istri mencium kening dan berkata." aku sangat menyayangi kamu. Aku ingin kamu ikut ke luar negri menemaniku di sana."
Mendengarkan apa yang dikatakan Aira membuat ia ragu, dimana Edric kini bertanya." kamu kenapa?"
Aira menampilkan wajah desanya, ia menjawab," aku kan nggak bisa bahasa inggris bagaimana bisa aku berkomunikasi dengan mereka?"
Edric tertawa pelan, mencubit pipi Aira yang begitu lucu ketika berucap.
"Kamu ini, tak usah kuatir sekarangkan sudah canggih tinggal transelate pake ponsel."
"Mm, ini."
"Kenapa lagi?"
Aira tersenyum tipis dan menjawab." aku nggak ngerti apa trasi apa sih tadi kata kamu."
Ellad tertawa terbahak bahak, mendengar Aira salah mengatakan kata transelate.
"Kenapa kamu bisa manis dan lucu seperti itu Aira, aku sudah tak sabar membuat kamu terbaring di tempat kita bergulat. " Gumam hati Edric menatap sang istri tercinta.
"Kenapa, kok, gitu banget mandang aku. Ada yang aneh ya, apa aku ketebelan pake lipstik, soalnya aku baru pertama kali memakai lipstik, apa bedak aku belepotan," ucap Aira, membuat Edric begitu serius memandangi istrinya. Seakan enggan berkedip atau pun mengalihkan pandangan kelain tempat.
Aira mengusap pelan wajah sang suami, membuat Edric tetap saja memandang wajah sang istri, " Edric, kamu kenapa?"
Pertanyaan tak di jawab Edric sama sekali, Ellad dengan sengaja memukul kepala anaknya sendiri, sampai lelaki ber bola mata biru itu terkejut.
"Daddy?"
Ellad membulatkan kedua matanya, lelaki tua itu lalu tertawa terbahak-bahak, melihat Edric terpesona akan istrinya sendiri.
Aira, tertawa. Di sanalah letak kebahagian terlihat dari keluarga Ellad sesungguhnya, bukan saling melepar kesalahan dan membuat semua enggan bertanya.
"Biasa aja kali, memandangnya. Nanti juga pulang ke rumah." Sindir Ellad, sejutek dan sedingin Ellad, bisa juga bercanda.
Ia kini memperlihatkan sifat aslinya yang selalu bercanda. Dan jarang marah atau pun membentak siapa saja.
Aira baru pertama kali melihat mertua lelakinya tertawa begitu bahagia, karena hal sepele yang diperlihatkan Aira dan juga Edric.
__ADS_1
Tidak ada gunanya balas dendam, bagi Aira kini memandang masa depan dan bahagia bersama lelaki yang ia cintai.