Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 61 Memakai baju pelayan


__ADS_3

Mendengar apa yang dikatakan sang tuan, Ratna terkejut, bagaimana bisa Ellad mengerjai istrinya sendiri. Bukanya Ellad begitu mencintai Dwinda?


Ratna pergi menuju ke taman, melihat Maria tengah menyiram tanaman.


Ia memegang bahu Maria, sampai membuat wanita berambut pendek itu terkejut.


"Ratna, bikin aku kaget saja. Ada apa?" tanya Maria sebari mengusap dadanya yang masih syok.


"Maria, apa kamu lihat perubahan tuan pada nyonya!?" jawab Ratna dengan meleparkan sebuah pertanyaan untuk Maria.


"Memangnya kenapa?" tanya Maria, berusaha tak mengerti dengan apa yang dikatakan sang sahabat.


Ratna memukul bahu Maria, membuat wanita berambut pendek itu mutar bola matanya di depan Ratna." Kamu ini kalau di tanya yang benar dong jawabnya."


"Mm, ya, ya. Deh, aku jawab," ucap Maria, pada akhirnya wanita tua itu memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Dwinda dan Ellad sampai menjadi seperti musuh satu sama lain.


Maria mengatakan apa yang sudah ia perlihatkan kepada sang tuan, tentulah membuat lelaki bergelar CEO itu marah. Dan sekarang Dwinda tengah merasakan imbasnya.


Ratna mendengar perkataan Maria tentulah tertawa terbahak-bahak, ia seakan puas jika memang Dwinda terus di kejai suaminya sendiri, agar berkata jujur.


Maria yang melihat tawa Ratna begitu keras, membuat ia menutup mulut sang sahabat dengan tangannya." kamu ini kalau ketawa bisa pelan tidak."


"Ya, habisnya aku senang sekali. Kalau si Dwinda itu mendapatkan balasan yang setimpal, akibat ulahnya sendiri."


"Iya, tapi ketawanya jangan keras-keras, kalau nanti Nyonya tahu kita yang kena masalah."


"Iya juga sih."


"Ya sudah, kamu sana bantuin aku. Cabut bunga-bunga yang sudah layu, jangan kerjaannya diam terus lihatin aku kerja."


Ratna memajukan kedua bibirnya setelah apa yang diprintah sahabatnya itu.


"Ya elah, kamu ini, Maria, Maria."


Ahkkkk .....


Terdengar suara teriakan dari kamar tamu, membuat mereka berdua dengan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Ada apa ya. Kok sampe terdengar teriak teriak."


Saat tangan mulai memegang pintu kamar, suara Ellad memanggil mereka berdua.


"Ratna, Maria, kalian mau apa?"


Mereka berdua membalikkan badan ke arah suara sama majikan, " tuan, kami mau melihat apa yang sebenarnya terjadi di kamar ini."


"Sudah sebaiknya kalian, urusin saja pekerjaan rumah. Biar aku saja yang mengatasi teriakan istriku."

__ADS_1


"Baik tuan."


Mereka berdua kini mulai pergi dari hadapan Ellad, dengan berjalan menundukkan pandangan. Berusaha bersikap sopan agar tidak terkena marah.


"Oh ya, Ratna."


Langkah keduanya kini berhenti, saat Ellad memanggil nama dari salah satu mereka berdua.


Ratna yang terpanggil, membuat jantung wanita itu merasa ketakutan.


Membalikan badan dan bertanya?" Ada apa, tuan?"


"Kamu nyalakan lagi air di dalam kamar mandi ini ya."


"Kamar mandi?"


"Kamar ruang ramu!"


"Oh, ya. Tuan."


Ratna bernapas lega, ternyata bukan sesuatu yang menengangkan, hanya sebuah printah dan itu langsung di laksanakan oleh Ratna sendiri.


Ellad mulai masuk ke dalam kamar, melihat istrinya menjerit, karena mungkin tak ada air yang mengalir.


Wajah Dwinda sudah penuh dengan busa sabun, Ellad kini bertanya." Kamu kenapa Dwinda?"


"Iya."


Dwinda berusaha meraba dinding, mencari keberadaan suaminya.


"Ellad. Apa kamu bisa bantu aku untuk menyalakan Keran air di kamar mandi ini."


"Kalau aku tidak mau bagaimana?"


Jawaban yang membuat Dwinda kesal, di situasi kedua matanya merasa perih, Ellad bisa bisanya berkata seperti orang tak peduli.


"Kamu ini kenapa sih sayang, dari tadi cetus banget sama aku, apa salah aku."


"Kenapa kamu bertanya apa salahku, bukanya kamu sendiri yang sudah tahu letak kesalahanmu sendiri."


Dwinda, berpura pura bodoh, berusaha tak mengerti apa yang dikatakan suaminya itu. Dwinda tetap tak mengaku dengan kesalahannya sendiri.


"Ellad, ayolah jangan bercanda, please aku mohon, kedua mataku ini sudah benar-benar perih karena busa sabun yang menempel dari tadi."


Dwinda berusaha memohon kepada suaminya agar menyalahkan air di kamar mandi, Karena perut yang memang tak bisa dikendalikan lagi. Membuat Dwinda terjatuh.


Ellad berusaha menahan tawa, dengan menutup mulutnya. "Ellad, sakit."

__ADS_1


Lelaki berambut putih itu hanya berdiri tegap menatap sang istri yang penuh dengan derita, " Ellad kamu jahat, sama istripun kamu tega."


Ellad tak memperdulikan perkataan sang istri, sampai di mana air mengalir membasahi rambut Dwinda.


"Air, akhirnya."


Ellad pergi meninggalkan Dwinda yang tengah merasakan air yang kini membersihkan badanya.


Ia menatap ke sekeliling kamar tak ada suaminya sama sekali.


"Dwinda, sepertinya kamu harus mengakui semuanya. Tapi kalau kamu mengakui semuanya, dendam ke dua orang tua kamu taakan terbalaskan. Apa aku harus membunuh Ellad sekarang, atau membuat dia kehilangan napas dengan membekam mulutnya. Ahk, tidak mungkin, terlalu banyak suruhan Ellad yang belum aku kuasai sepenuhnya."


Dwinda membantingkan tubuhnya ke atas kasur, sampai.


Ahkkkkk.


Ia beranjak berdiri, merasakan sesuatu menanjab pada punggungnya.


"Jarum."


"Apa lagi ini."


Dwinda benar benar fruatasi saat Ellad terus mengejai dirinya, walau seperti anak kecil tapi membuat Dwinda tak berdaya.


Suara perut kini bersuara kembali, Dwinda lupa jika bajunya ada di kamar Ellad. Memukul jidat dan berkata." bodoh, kamu Dwinda."


Ia melihat lemari besar, kusus tamu. Melihat apa ada baju di dalam lemari itu.


Berjalan perlahan membuka pintu lemari, Dwinda menemukan baju pelayan yang biasa di pakai Maria dan Ratna.


"Kenapa hanya baju pelayan sih, sialan benar benar sialan. Masa ia seorang nyonya jadi pelayan, ini tak mungkin."


Menggerutu dirinya sendiri, di dalam kamar Dwinda hanya menahan amarah, pada akhinya ia memakai baju pelayan untuk segera makan karena perutnya yang sudah keroncongan.


Ellad melihat pada rekaman CCTV yang sudah ia pasang tanpa sepengetahuan istrinya. Dengan sengaja agar melihat aktivitas apa saja dilakukan Dwinda saat Ellad tak ada di rumah.


"Ternyata istriku begitu cocok memakai baju pelayan." Tersenyum sembari melihat tingkah sang istri yang terlihat frustasi.


Dwinda keluar dari dalam kamar, ia duduk melihat hidangan yang begitu mewah menggugah selera.


Dengan terburu buru, mengambil nasi dan beberapa lauk pauk. Dwinda begitu lahap memakan masakan yang sudah tersedia dari tadi pagi.


Ellad tetap saja mengawasinya pada rekaman CCTV tak merasa rasa kasihan sedikit pun. Karena hatinya sudah terlanjut sakit hati.


"Kamu boleh menikmati apa yang sekarang kamu nikamati, tapi besok kamu akan tahu bertapa menderitanya hidupmu. Dwinda. "


Lina berjalan, menuju ruang makan. Ia mengerenyitkan dahi, melihat seorang wanita memakai baju pelayan tengah makan dengan rakusnya.

__ADS_1


"Nggak sopan banget ini pelayan makan di meja tuan Ellad. Apa nanti kata tuan, kalau dia tahu. Inin tidak bisa dibiarkan, harus aku usir."


__ADS_2