Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 135


__ADS_3

Carlos tak lupa memesan makanan dan juga minuman untuk sahabatnya Edric, mereka kini bergegas pergi menuju ke rumah sakit untuk melihat bayi mungil yang sudah lahir.


Lucky mulai diberi lagi pilihan, mau menaiki mobil siapa, kedua lelaki itu bersiap membawa sang dokter.


Demi menenangkan Kedua lelaki itu dari keributan, Lucky mulai menaiki taksi, ia tak mau melihat perdebatan yang tak kunjung usai.


"Loh, kok malah pergi."


Mereka kini menaiki mobil, untuk segera mengejar sang pujaan hati." Lilia, kamu mau ke mana."


Taksi itu kini sudah pergi dari cafe menuju ke rumah sakit, kedua lelaki dengan cepat mengendarai mobil mereka masing-masing.


Terlihat keduanya saling berebutan jalanan, karena tak ingin terlambat saat datang melihat bayi Aira.


"Semoga saja, aku yang lebih dulu." Ucap Welly menancabkan mesin mobil dengan kecepatan tinggi.


Sampai di rumah sakit yang dituju, ternyata keduanya sampai secara bersamaan. Mereka keluar dengan cepat-cepat dari dalam mobil, agar bisa berjalan bersamaan dengan Lilia.


Lucky melihat pemandangan kedua sahabatnya yang memperebutkan dirinya sebagai seorang Lilia, hanya menutup mulut dan tersenyum tipis.


"Sial ternyata kita pergi bersamaan. Dan tepat waktu bersamaan." Gerutu Welly. Carlos yang melewati Welly kini tersenyum tipis, dimana Welly merasa kesal dengan tingkah Carlos.


Pintu rumah sakit di ruangan Aira terbuka lebar, mereka bertiga mulai masuk ke dalam ruangan, terlihat Edric menyambut kedatangan ketika sahabat suaminya.


Carlos dan Welly mulai mendekat, pada akhirnya yang tengah menggendong bayinya.


"Wah, bayi mungil."


Carlos terlihat begitu gemas, dengan bayi mungil Aira. Iya menatap lengkap bayi mungil itu seraya mencubit pelan kedua sang bayi.


"Oh, lucunya." Bayi itu mengeliat, memperlihatkan wajah imutnya. Carlos semakin gemas dibuat oleh anak Edric, ia kini meminta izin kepada Aira untuk menggendong bayi itu.


Aira memperbolehkan Carlos menggendong anaknya, di mana lelaki berbadan kekar itu sangatlah senang. Dari dulu Carlos menyukai seorang anak kecil, apa lagi bayi yang baru saja lahir.


Bagi dirinya bayi itu sangatlah menggemaskan, seperti boneka. Welly menatap dari kejauhan sahabatnya itu, ia mengira jika Carlos hanya percitraan saja. Sengaja berpura-pura suka pada bayi mungil, padahal apa yang dipikirkan Welly jelas berbeda.

__ADS_1


Cara menggendong bayi Carlos begitu lihai, Lucky melihat pemandangan itu hanya bisa tersenyum kecil.


Sedangkan Welly memang benar-benar tak suka dengan bayi ataupun anak kecil, makannya ia hanya bisa melihat tanpa menyentuh sedikitpun.


Edric menatap ke arah Lucky, dimana ia memberi kode, untuk bisa mengerjai Kedua lelaki yang menjadi sahabatnya itu, dengan begitu tepat.


Lucky mendekat melihat Edric yang kini sudah bisa berdiri dan berjalan seperti semula, membuat rasa bangga untuk dirinya sendiri.


Tak susah payah sekolah tinggi untuk menggapai cita-cita ayahnya, hasil yang ia lakukan sangatlah baik dan sempurna.


"Bagaimana dengan kakimu?" tanya Lucky, di mana sahabatnya itu langsung menatap kedua kakinya.


Ia baru menyadari jika dirinya bisa berdiri dengan sempurna, Edric kini melangkahkan kaki di hadapan kedua sahabatnya," aku benar-benar baru sadar, dan masih tak menyangka jika saat ini aku bisa berjalan seperti sedia kala."


Saat kepanikan itu muncul, Edric berlari dan tak mempedulikan rasa sakit pada kedua kaki. Yang ia pikirkan adalah kesembuhan Aira dan anak dalam kandungannya.


"Aku benar benar bersyukur sekali, bisa berjalan dia kalah seperti semula, tidak memerlukan kursi roda seperti kemarin."


Edric tertawa riang begitupun dengan kedua sahabatku, hari itu seperti Saksi Bisu di mana sang CEO muda kini merasakan menjadi Lelaki sempurna.


Melihat kemesraan yang diperlihatkan Aira, pastinya membuat api cemburu untuk ketiga sahabatnya. Mereka juga ingin merasakan bagaimana rasanya mempunyai seorang istri dan menjadi ayah untuk anak-anak mereka nanti.


Carlos mencoba mendekati sang dokter berusaha mencari perhatian, agar lamarannya diterima.


Namun Lucky berusaha berpura-pura cuek, mau memperdulikan Kedua lelaki yang mengejarnya terus-menerus.


Edric sampai lupa memberitahu ayah kandungnya, Ellad. Iya kini mencari ponsel untuk segera menghubungi sang ayah.


Saat itulah panggilan telepon pun terhubung, hanya saja Ellad belum juga mengangkat panggilan telepon dari anaknya sendiri, Edric begitu kuatir dengan keadaan ayahnya, karena belum juga mengangkat panggilan telepon dari Edric.


"Gimana sayang, apa papah mengangkat panggilan telepon?"


Pertanyaan Aira tentulah membuat, Edric menggelengkan kepala.


"Halo."

__ADS_1


Sampai suara sang ayah terdengar begitu jelas, Edric kini mulai memberitahu keadaan sang istri yang sudah melahirkan begitupun keadaannya yang kini sudah bisa berjalan berkat sang dokter yang dipilih oleh ayahnya sendiri.


komplit sudah kebahagiaan yang dirasakan Aira dan juga Edric.


"Halo, Edric. Apa kamu baik-baik saja sekarang, ayah di sini sangat merindukan kalian berdua untuk segera pulang ke rumah. "


"Ya Dad, sebentar lagi Edric akan pulang ke Indonesia memberikan sebuah kejutan yang akan membuat Daddy pastinya terkejut dan sangat berharga untuk Daddy. "


Sang ayah sangat penasaran dengan kejutan yang dikatakan oleh anaknya, entah kenjutan apa. Tapi kenapa membuat lelaki tua itu penasaran sekali.


"Kenapa kamu tidak mengatakannya sekarang juga, Edric. Jangan sampai membuat Daddy tiba tiba saja mati penasaran.


Perkataan terlontar dari mulut ayahnya seperti lelucon yang menakutkan.


" Kalau aku mengatakan semuanya, nantiny tidak akan menjadikan sebuah kejutan dong."


"Ahk, iya juga sih."


Tawa kembali terlukis, dari kedua sudut bibir Edric, dimana suara tangisan bayi terdengar oleh lelaki tua berambut putih itu.


"Bayi siapa itu Edric, Kenapa begitu nyaring terdengar. Kamu sedang ada di mana?"


Pertanyaan Sang ayah, pastinya membuat Edric langsung berpamitan.


"Edric kamu ini bagaimana sih?"


Sang ayah nampaknya marah besar, anak sama pak wayangnya itu terus saja membuat dirinya penasaran.


Ellad mulai menjawab dengan asal-asalan," apa Aira sudah melahirkan cucuku, Ayolah katakan yang sesungguhnya Edric, jangan kamu membuat Dedy penasaran sekali saat ini."


Edric tak tega terus-menerus mengerjai ayahnya sendiri, saat itulah ia mengalihkan panggilan telepon untuk video call bersama sang ayah yang berada di Indonesia, dan benar saja dugaan ayahnya, jika Akhirnya sudah melahirkan seorang bayi yang amat dinantikan.


"Kenapa kamu malah tidak berkata jujur ya, kamu Sudah berani sama Dadyy."


Edric mendengar perkataan ayahnya malah tertawa terbahak-bahak, di mana ia masih terhubung dalam satu panggilan telepon dengan ayahnya," ya maaf Dadyy, tadinya memang ingin mengerjai Ayah. Agar memberi sebuah kejutan yang sangat luar biasa ketika Edrik dan Aira pulang ke Indonesia.

__ADS_1


__ADS_2