Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 91 Pulangnya Edric dan Aira. Ke rumah


__ADS_3

Ellad melihat batu nisan, sang istri penuh bunga. Ia tersenyun senang melihat jika kuburan sang istri begitu bersih.


Bunga bunga segar menghiasi kuburan istrinya. Terlihat begitu Indah, dan berseri.


Perlahan ia mulai melangkah mendekat ke arah kuburan istrinya.


Mengusap batu nisan dan berkata. " Apa kabar Maya?"


Menyadari dirinya tidak pernah datang, Ellad menangis, di depan kuburan istrinya. Hatinya merasa rapuh dengan penghiantan Dwinda.


Ia belum tahu semuanya, tentang keburukan Dwinda, baru saja tahu akan video yang diperlihatkan pelayannya.


"Maya, apa kamu mati karena Dwinda juga. Bicaralah. Aku baru menguak penghiantan Dwinda yang merayu anak kita." Ellad mencurahkan segala isi hatinya di depan makan sang istri.


Ellad tahu jika istrinya sudah meninggal dunia, tapi ia tetap bertanya dan menceritakan keluhannya saat ini.


Suara posel berbunyi, dimana obat yang dicek dan juga tentang kematian Dwinda terungkap.


(Obat suntik yang dipakai Dwinda, mengandung obat berbahaya. Bisa menyebabkan kelumpuhan.)


Deg ....


Ellad tak menyangka pada pesan yang ia baca, seketika kedua matanya membulat, setelah membaca pesan dari orang yang ia suruh mengecek obat, dimana obat itu biasa di gunakan Dwinda untuk mengobati kelumpuhan Edric.


"Selama ini, anakku lumpuh karena ulahnya lagi. Sialan. Kamu Dwinda."


Ellad tampak murka pada dirinya sendiri, ia meraung, berteriak. Mencaci dirinya sendiri, seakan semua sudah ia telan mentah mentah, hanya pasrah dan tidak mencari dari awal.


"Aku menyesal, maafkan aku Maya, aku tidak mencari tahu dari awal, malah. Membiarkan kamu Mati dalam penghiantan sahabat kamu sendiri."


Dwinda wanita berumur dua puluh delapan tahun itu, terlihat muda dan juga baik. Tapi dibalik semua itu dia hanya seorang wanita dengan hati penuh balas dendam.


Pesan dari hasil otopsi rumah sakit datang.


(Kami menemukan sebuah kejangalan, dimana Pasien bernama Dwinda mati karena keracunan.)

__ADS_1


Baru beberapa hari hasil otopsi itu keluar, mayat sudah di kuburkan. Semua sudah terungkap, dimana Ellad akan membicarakan tentang kebusukan bersama Edric anaknya.


Ia sudah tak punya hati dengan Dwinda lagi, kini hidupnya akan memilih pada Edric.


Mengusap kasar air mata yang berjatuhan, Ellad mulai bangkit, untuk pergi meninggalkan pemakaman istrinya.


Ia berjalan gontai menuju mobil untuk segera pulang ke rumah. Ingin rasanya membunuh istrinya saat itu juga.


Namun ia tak mungkin melakukan semua itu, yang ada dirinya akan menjadi orang rugi.


Menancabkan gas mobil, pergi melaju menuju ke rumah.


"Lihat saja Dwinda, apa yang akan aku lakukan padamu."


**********


Ratna dan juga Maria kini pergi dari hadapan Dwinda, puas dengan apa yang sudah mereka lakukan, mereka tertawa bersama meninggalkan Dwinda penuh kebingungan.


"Sialan, kenapa bisa si Ellad berkata seperti itu pada para pelayan, padahal aku berusaha baik. Tak pernah menampilkan kejahatan, rekaman cctv semua sudah aku kendalikan, tapi kenapa Ellad malah memperlakukanku tidak baik. Ada yang tidak beres."


Suara mobil Edric terdengar, para satpam membukakan pintu gerbang. Dimana Aira dibawa oleh Edric keluar dari dalam mobil.


"Masih lumpuh sok soan merhatiin istri." Melipatkan kedua tangan dari kejauhan, Dwinda mentertawakan Edric bersama Aira.


"Tumben mereka pulang." Dwinda kini menghampiri Aira dan juga Edric, membuat suatu keramahan di depan pasangan yang sudah menginjak ke dua bulan pernikahan.


"Hem, baru pulang bulan madu, apa berpetualang. Wajahnya lemes gitu," sindir Dwinda pada Aira.


Wanita desa dengan raut wajah pucatnya, hanya menatap ke arah Dwinda sekilas. Ia malas berdebat dengan orang tak berguna seperti Dwinda.


Edric mengabaikan ucapan Dwinda, dimana pelayan datang dan membantu Aira seperti seorang putri, sedangkan dirinya hanya bagai sampah yang sebentar lagi menunggu dibuang.


"Kalian pada wanita desa ini membantu, sedangkan aku istri Ellad, Nyonya besar di rumah ini kalian abaikan. " Ucapan Dwinda tetap tak di gubris oleh pelayan di rumah Ellad, mereka lebih baik menjauhi hal hal yang menguras emosi.


"Ayo, Nona Aira." ucap Maria, menyuruh Aira duduk di kursi roda.

__ADS_1


"Sama sama tak sempurna cocok, iwh, " ucap pelan Dwinda. Dimana ucapan itu terdengar pada telinga Edric.


"Memangnya kamu itu sempurna, manusia tidak berguna di rumah ini," serga Edric, memperlihatkan kemarahanya.


Dwinda membulatkan kedua mata, merasa terhina dengan kemarahan yang diperlihatkan Edric.


"Kurang ajar sekali, kamu Edric." ucap Dwinda. Dengan emosi yang meluap lupa, karena dari tadi Dwinda di anggap sampah di rumah Ellad.


"Kenapa kamu bilang aku kurang ajar, bukanya kamu ya, yang tak bisa menghargai orang lain," balas Edric tak mau kalah akan perdebatan yang mulai berlangsung. Padahal malas sekali berdebat dengan orang seperti Dwinda, tapi karena wanita itu mulai duluan terus menerus membuat Edric tak bisa menahan amarah dan langsung meluapkan semuanya di hadapan orang yang ia benci.


Aira berusaha menenangkan sang suami agar tidak terkecoh akan perdebatan yang tak kunjung usai bersama Dwinda.


"Sudah, sebaiknya kita cepat masuk ke dalam rumah, tak usah kamu meladeni wanita seperti dia. Wanita itu hanya akan membuang-buang energi dan menguras emosi kita."


"Apa tadi kamu bilang Aira, seenak jidat kamu berkata seperti itu. Dasar wanita Kampung tidak tahu diri." hina Dwinda di depan para pelayan.


Maria berusaha membela Aira, ia tak terima akan hinaan yang terlontar dari mulut Dwinda." sebaiknya Nyonya jaga ucapan nyonya, Nyonya seperti itu lagi saya akan memberitahu Tuan Ellad."


Mendengar Maria membela Aira, tentu membuat Dwinda semakin murka, menunjuk wajah Maria, " dasar pengadu."


Aira berusaha bangkit memegang telunjuk tangan Dwinda." Jangan pernah berani menunjuk-nunjuk wajah Mbak Maria, dia lebih terhormat daripada kamu."


Dwinda hampir saja melayangkan pukulan pada wajah Aira, namun terhenti saat mobil Ellad datang, dimana Dwinda mengurungkan niat dan berusaha berlari menunggu sang suami keluar dari dalam mobil.


Maria yang melihat Dwinda berlari hanya tersenyum kecil, ia ingin melihat apa tanggapan Ellad nanti di saat Dwinda mencoba berlindung pada suaminya.


Edric menatap begitupun dengan yang lainnya, mereka hanya bisa menyaksikan saat itu.


Saat Ellad turun, Dwinda menampilkan senyuman, berusaha memberi pelukan hangat untuk suami tercintanya.


Namun ternyata Ellad, malah mendorong tubuh Dwinda hingga tersungkur jatuh.


Sampai semua orang yang melihat pemandangan itu terkejut bukan main.


Kenapa bisa Ellad melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan pada Maya, seperti tak mau di sentuh atau pun di perhatikan istrinya sendiri.

__ADS_1


Ellad memperlihatkan amarahnya, dadanya naik turun dengan menatap tajam ke arah Dwinda.


__ADS_2