
Semakin hari perkembangan Edric semakin membaik, Lucky berhasil menyembuhkan kedua kaki sahabatnya perlahan demi perlahan.
"Wah, ini semua benar-benar keajaiban," ucap Edric. Sang pemilik bola mata biru itu mulai bangkit dari kursi rodanya, walau masih terasa kaku.
"Ayo, berdiri Edric." balas Lucky, berusaha meyakini sahabatnya untuk bisa berdiri sendiri.
Aira hanya melihat dari kejauhan, dengan penuh harapan jika sang suami bisa kembali seperti semula, berjalan normal.
Menarik napas dan pada akhirnya sang CEO itu, terjatuh dan terjatuh lagi pada kursi rodanya.
Aira melihat pemandangan suaminya seperti putus asa, membuat Aira tak kuasa melihat kesedihan sang suami, ia menghampiri lelaki yang menjadi cinta pertamanya.
"Ayo, jangan takut untuk berdiri. Kamu pasti bisa Edric."
Semangat dari Lucky, membuat Edric berusaha dan berusaha. Sebisa yang ia mampu, melihat badan sang istri sudah membesar, membuat Edric berdiri kembali.
"Akhirnya kamu bisa berdiri, Edric. Kedua kaki mulai menyentuh lantai, perlahan mengangkat untuk bergerak layaknya seseorang berjalan kaki.
Kedua tangan memegang penahan agar memudahkan Edric berjalan. Perlahan demi perlahan, menatap sang istri berdiri untuk berjalan ke arahnya.
"Ayo."
Aira terus menerus menyuruh Edric untuk berjalan ke arahnya, " Edric."
Senyuman sang istri membangkitkan semangat pada diri Edric, lelaki berparas tampan dengan tubuh kekarnya.
"Aku harus bisa." Gumam hati Edric.
Setelah bangkit, dan kini berjalan perlahan demi perlahan, akhirnya sang pujaan hati bisa melangkah walau masih tahap bantuan penahan.
Kehamilan Aira kini menginjak sembilan bulan, perut yang sudah terlihat membesar, tinggal menunggu sang buah hati lahir.
"Ayo, Edric. " Ucap Aira, tiba tiba saja. Kontraksi terasa pada perut sang istri, sampai Aira tersungkur jatuh, darah mengalir membasahi atas teras.
Edric melihat pemandangan istrinya tengah kesakitan, membuat ia repleks berjalan dan menghampiri Aira.
Walau masih terasa kaku, Edric memaksakan diri. "Aira, kamu kenapa?"
Aira memegang perutnya, merasakan rasa sakit yang begitu luar biasa, sepertinya kontraksi dirasakan Aira begitu cepat, padahal dari tadi pagi ia hanya merasakan kontraksi biasa saja.
Yang membuat ia hanya santai santai, tak mempedulikan rasa sakit itu.
"Perutku sakit." Edric tak sadar jika dirinya kini bisa berjalan dan membantu sang istri bangkit.
"Ayo kita ke rumah sakit." Keadaan darurat seperti ini, yang dipikirkan Edric keselamatan istrinya.
Lucky melihat pemandangan syok Edric, membuat ia mengambil kursi roda, dimana Edric berusaha membopong tubuh sang istri. Menaruh Aira pada kursi roda.
Lelaki setengah wanita itu, menyiapkan mobil untuk keberangkatan mereka ke rumah sakit. Wajah Aira terlihat pucat, seperti menahan kontraksi dari perutnya.
Aira kini duduk di dalam mobil, dimana tangan kekar sang suami terus mengusap ngusap perut besar istrinya.
"Kita ke rumah sakit, tahan dulu ya sayang."
Aira hanya menganggukkan kepala, sembari menahan sakitnya kontraksi.
__ADS_1
Lucky menancabkan gas mobilnya dengan mengendarai mobil berkecepatan tinggi.
Aira terlihat tak bersuara, ia hanya menahan sakit dengan kedua gigi beradu.
"Aira, apa kamu baik baik saja."
"Iya, sayang."
Edric begitu kuatir, karena sang istri tak mengeluarkan suara sedikitpun, hanya geraman rasa sakit yang begitu pelan.
Aira seakan tak mau membuat suaminya kuatir.
Rumah sakit sudah tiba.
Aira mulai di bawa ke ruang ugd, tangan kanan masih memegang erat tangan Edric.
Sedangkan perawat memperbolehkan suami pasien melihat persalinan istrinya, "Apa saya boleh ikut?"
"Silahkan pak, untuk menemani istri bapak!"
Edric berlari megikuti istrinya di bawa ke ruangan, rasa cemas merasuki pikiran Edric, membuat ia tak tenang.
Setelah masuk ke ruangan, dokter memberikan pelindung tangan rambut dan badan untuk Edric.
Aira masih dengan rasa sakitnya, ia tak bersuara sedikit pun, hanya menarik napas dan mengeluarkan secara perlahan.
Setiap kali kontraksi datang, dokter hanya menyuruh Aira untuk menarik napas dan mengeluarkan secara perlahan.
Tidak disarankan untuk mengejan, karena ditakutkan bisa saja merusak lubang kewanitaan yang mengakibatkan kerobekan.
Aira mengikuti intruksi yang diberikan dokter dan perawat, " Kamu harus kuat ya sayang."
Bisikan sang suami, membuat sebuah tenaga untuk Aira, "Aku yakin kamu pasti bisa."
Keringat dingin bercucuran, ruangan berAc tak membuat keringat Aira mereda, karena menahan rasa sakit yang cukup lumayan menyakitkan. Seperti merasakan beberapa kali tulang dipatahkan bersamaan.
Edric pertama kalinya melihat wanita yang menjadi istrinya itu menahan sakit, ia menitihkan air mata, perasaannya tak karuan.
Hingga pembukaan sudah lengkap, dimana dokter mengarahkan untuk mengejan pada waktunya, sampai. Suara tangis bayi terdengar, " itu bayi kita."
Mengusap pelan air mata secara perlahan, Edric kini mencium kening sang istri, mengucapkan kata terima kasih.
"Terima kasih istriku. "
Senyuman dan tangisan menjadi satu kebahagian yang tak terlupakan.
Perawat mulai membersihkan sang bayi, terdengar tangis tiada henti, Edric belum sanggup meninggalkan istrinya. Ia tetap menemani.
"Selamat ya pak, bayinya laki laki. " Harum wangi bayi tercium, Edric perlahan menggendong bayi mungilnya, sang jagoan kecil.
Mempelihatkan pada istrinya," bayi kita sayang."
Senyum tergambar dari kedua ujung bibir, Aira tampak terlihat kelelahan. " Aku ingin mengendong bayi mungil kita."
Edric perlahan memberikan bayi itu pada Aira, ada raut wajah tak suka dalam diri Aira.
__ADS_1
Hingga Edric bertanya?" kenapa? "
Aira memajukan kedua bibirnya, terlihat ya begitu cemberut dan kesal." kenapa?"
Edric merasa cemas dan juga gelisah melihat raut wajah istrinya yang seperti itu, sesekali Aira menatap ke arah Edric bergantian kepada anaknya.
"Ih, sebal, 9 bulan mengandung dan seharian melahirkan, Kenapa wajah anakku pergi sekali dengan kamu, " ucap Aira menggerutu kesal di depan suaminya.
Edric tertawa renyah, mendengar perkataan istrinya." kamu ini ada ada aja."
"Kenapa lucu ya. "
"Iya."
Edric memeluk erat tubuh istrinya, mencium beberapa kali kening sang istri dan berkata," nggak papa percis ayahnya dari pada percis tetangga hayo."
Tawa terukir dari raut wajah mereka, Lucky yang melihat pemandangan itu, hanya bisa tertawa di atas kesedihanya.
Ia juga ingin merasakan, bagaimana rasanya memiliki seorang istri dan juga anak.
Edric lupa jika di luar ruangan sang istri ada sosok dokter yang menunggu, kini Edric memanggil sahabatnya, mengucap kata terima kasih.
Setelah kesedihan yang melanda kini tibalah kebahagiaan yang sesungguhnya.
Lucky muncul menampilkan raut wajah bahagia, tak lupa mengusap air mata yang hampir saja jatuh pada ke dua pipinya.
"Selamat Aira."
Lucky menatap bayi mungil berjenis kelamin laki laki itu, perlahan berucap." muka boleh kaya bapak tapi kelakuan diharapkan jangan, karena lebay."
Edric kini memukul kepala Lucky dan berkata. " enak aja lu."
Para perawat berbisik, Edric begitu tega memukul seorang wanita cantik di depan istrinya. Yang mereka tak tahu jika wanita cantik itu adalah seorang lelaki jadi jadian.
"Ih, kok dia tega ya. Nyakitin cewek. "
"Iya."
Lucky, mendengar bisikan para perawat. Kini mengeluarkan suara kejantanannya sebagai laki-laki.
. Kedua perawat itu kini membulatkan kedua mata, mulut mengagah masih tak percaya dengan apa yang mereka dengar.
Aira tertawa lepas, ia lupa jika baru saja melahirkan. Membuat perutnya terasa keram.
"Aduh."
Edric memukul kembali belakang kepala sahabatnya." Dasar lu. "
Perawat dengan sigap membantu Aira, mereka terlihat gugup dan sedikit terkejut, karena mendengar suara asli yang keluar dari mulut Lucky, sosok seorang wanita yang ternyata aslinya laki laki.
"Apa liat liat, Hah."
Para perawat wanita itu seperti ketakutan, dengar suara Lucky yang menggelegar. Membuat mereka menundukkan wajah dan pergi begitu saja dari ruangan Aira.
...
__ADS_1