Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 67 Di penjara


__ADS_3

"Tolong cegah Aira."


"Baik tuan."


Memerintah para suruhan untuk menahan tangan Aira, sedangkan Edric kini berusaha duduk. Sampai akhirnya lelaki pemilik bola mata biru duduk dan mendekat pada istrinya.


Edric dengan terpaksa memukul punggung Aira hingga wanita itu jatuh pingsan, Edric sengaja. Hanya dengan cara memukul punggung Aira, wanita desa akan berhenti memberontak. Kedua suruhan di perintahkan untuk membopong Aira, memasukkan wanita itu ke dalam mobil.


Sodikin masih dalam rasa cemasnya, tak percaya jika Aira senekad itu ingin mencekik lehernya sampai mati. "Aira kenapa dia menjadi wanita nekad seperti itu, padahal aku mengira dia wanita lemah dan tak berdaya." Gumam hati Sodikin.


Edric menjalankan kursi rodanya, mendekat ke arah Sodikin." Kamu lihat tadi? Aira nekad bukan."


Sodikin masih terlihat syok berat, dengan kejadian tadi, ia hanya diam saat Edric mengajaknya berbicara.


"Ya sudah, besok aku akan menjebloskan kamu ke penjara, sebelum kamu habis oleh Aira," ucap Edric membuat lelaki tua itu menelan ludah.


"Apa kamu bisa memasukkan aku sekarang juga ke kantor polisi," pinta Sodikin kepada Edric. Terlihat sekali jika Sodikin benar benar takut oleh anak tirinya sendiri.


"Kenapa kamu takut?" tanya Edric, menutup mulut tertawa saat melihat wajah pengecut Sodikin.


"Sudahlah aku tidak takut, aku hanya ingin hidup. Jika kamu melepaskan tangan dan kakiku mungkin tadi aku bisa melawan anak tiriku itu!" jawab Sodikin dengan sombongnya.


Edric hanya mengangkat kedua alisnya, setelah mendengar kesombongan yang diucapkan sang lelaki tua.


Ia mulai pergi meninggalkan Sodikin, lelaki tua yang terus mengoceh seperti wanita ketika sedang marah.


"Edric, aku ingin dibawa ke kantor polisi sekarang, kamu dengar tidak," teriak sodikin, dengan harapan Edric mendengarkan perkataanya.


Edric tetap saja, menjalankan kursi rodanya, ia benar benar tak mempedulikan sang ayah tiri Aira.


Menaiki mobil, melihat istrinya pingsang membuat rasa tak tega dihati Edric.

__ADS_1


CEO muda itu mengusap pelan rambut pajang Aira, melihat kedua mata dan wajah berseri milik istrinya.


"Maafkan aku ya, Aira. Kamu jadi pingsan seperti ini, kalau aku biarkan. Nanti kamu malah masuk ke dalam penjara."


Edric menyuruh sopir untuk menjalankan mobil dan pergi dari gudang. Saat di dalam perjalanan, Edric mulai menghubungi polisi memberi bukti jika Sodikin bersalah.


"Selesai juga."


Tinggal Edric menunggu hasil polisi, dimana sodikin akan membekam di penjara untuk waktu yang lumayan lama. Semua beres, ia menatap ke arah sang istri, mencium jidat Aira.


Sampai dimana wanita desa itu terbangun, merasakan kecupan dari suaminya sendiri.


"Loh, kok sudah ada di dalam mobil lagi. Kemana si Sodikin gila itu, aku harus memberi dia perlajaran."


Edric berusaha menenangkan istrinya agar tidak larut dalam rasa kesal," kamu harus tenang, Pak Sodikin sudah di jebloskan dalam penjara. Jadi kamu tak usah susah payah membuat dia terluka, biar hukum yang berjalan."


Terlihat Aira nampak kecewa mendengar jika ayah tirinya dimasukkan ke dalam penjara, padahal Aira belum puas membuat ayah tirinya kesakitan dan menderita.


Edric mengusap pelan rambut panjang sang istri dengan membelainya penuh kelembutan," kenapa kamu malah bersedih seperti itu, apa aku salah sudah sok tahu membawa ayah tirimu ke dalam penjara?"


"Kenapa kamu malah menjebloskan lelaki tua itu ke dalam penjara, aku kan belum puas menghajar dia sampai bebak belur."


Edric tersenyum kecil dan menjawab." Aku takut jika kamu sampai membunuh dia, aku tak mau kamu masuk ke dalam penjara, kan dari tadi aku sudah berkata seperti itu. Kamunya malah ngeyel."


"Iya, tapi aku benar benar emosi dan kesal pada lelaki tua itu, setiap kali melihat dia, selalu terbayang akan pembunuhan sadis ibuku."


Edric memeluk Aira dengan erat, ia tahu dan merasakan bagaimana rasanya kehilanga sosok seorang ibu pastinya menyakitkan.


Apalagi, Aira sampai melihat pembunuhan ibunya sendiri di depan mata, tentulah membuat Aira syok dan terauma.


Sampai ia berencana membapaskan dendamnya pada orang yang sudah membuat sang ibu meninggal dunia.

__ADS_1


Aira ingin menyelidiki semuanya, ia berusaha memberanikan diri berbicara pada sang suami.


"Sayang, apa kamu mau mengantarkan aku ke kampung. Aku penasaran kuburan ibuku."


Mendengar hal itu, tentu saja membuat Edric sangatlah setuju dan dia pastinya mau mengantarkan Aira ke kampung halamannya, melihat pemakaman sang ibu.


"Baiklah kalau begitu."


Sang sopir baru ingat akan perkataan Sodikin, sampai ia mengigatkan kembali pada Edric.


"Tuan, apa kita tidak akan kena masalah kalau datang ke kampung Nona Aira, tuan ingat tidak apa yang dikatakan Pak Sodikin pada kita tempo hari."


Edric berusaha mengigat perkataan kemarin saat Edric dan sopirnya berencana untuk pergi ke kampung Aira.


Rasa penasaran, kini dirasakan Aira. Dengan lancangnya Aira bertanya pada sopir dan juga Edric. "Memang ya apa yang kalian takutkan, ayah tiriku berkata apa pada kalian."


Edric mulai menjelaskan semuanya, saat itu Sodikin berkata, jika Edric dan Aira masuk ke kampung. Para warga akan menghajar Edric, jadi mereka disalahkan atas kasus penganianya keluarga CEO dan tega membunuh Siti.


Padahal semua itu hanya perkataan omong kosong yang terlontar dari mulut Sodikin, agar dirinya bisa mengelabui semua orang bahwa Sodikin tidak bersalah.


Orang bersalah atas kematian Siti yaitu Edric dan Ellad sang CEO yang mereka semua anggap pembawa musibah.


Aira mendengarkan penjelasan sopir dan suruhan Edric ketika bercerita, saat itulan ia paham dan mengerti jika ayah tirinya ingin mengadu domba Ellad dan juga orang orang di kampung. Agar menganggap jika Ellad itu lelaki kejam yang mejual belikan gadis untuk kesenangan semata.


"Ya sudah kalian jangan kuatir, selagi ada bukti. Kita tak usah takit dengan orang orang di kampung. Mereka hanya bisa memojokkan kita semua tanpa berbuat apa apa."


Edric memegang tangan Aira dengan penuh cinta dan kelembutan." Apa kamu percaya padaku Aira, jika aku ini tidak ada niat jahat padamu."


Aira menempelkan jari tanganya pada bibir dengan berkata," jangan berbicara itu lagi, aku sudah percaya sekali padamu Edric. Karena kamu sudah membuat aku jatuh cinta padamu."


Baru kali ini Edric mendengar perkataan lembut keluar dari mulut istrinya, serasa tak percaya dan tak menyangka, seperti dunia milik berdua yang lain ngontrak.

__ADS_1


Aira menempelkan kedua tangan suaminya pada dada yang berdekat tak beraturan, seperti sebuah pertanda jika Aira juga begitu mencintai Edric sampai kapanpun.


Senyum tergambar pada bibir masing masing pasangan, sang sopir yang melihat kemesraan itu merasa sakit hati.


__ADS_2