
Begitu keras kepalanya lelaki berambut putih, berbadan tegap, ketika diberitahu dia malah mengamuk. Jika mayat dibiarkan tak dimandikan ia akan mengeluarkan bau tak sedap.
"Pak, saya tegaskan lagi pada anda. Dokter Maya harus segera dimandikan."
Kedua mata memerah karena habis menangis, menatap tajam ke arah Dwinda, " Maaf Pak Ellad, ini semua demi kebaikan istri bapak."
Ellad menarik napas, mencoba tetap tenang. Pada akhirnya ia mengikhlaskan sang istri untuk dimandikan segera, " Baik silahkan."
Kini para perawat mulai membawa jenazah Maya, untuk segera dimandikan dan diberi kain kafan.
Ellad masih tak percaya, hanya bisa duduk dengan menangis tersedu-sedu.
"Betapa cepatnya kamu meninggalkan aku, Maya."
Melihat Ellad duduk sendirian, ini kesempatan terbaik untuk Dwinda mendekat dan memberikan sebuah surat yang sengaja ia buat, dengan menyerupai tulisan Maya.
"Kesempatanku."
Dokter pemilik bola mata coklat kini melangkah mendekat ke arah Sang CEO, duduk di samping kiri sembari memberikan sebuah surat yang sudah ia siapkan dalam sebuah rencana.
Ellad masih dengan sifat cueknya, tak menerima surat yang disodorkan Dwinda.
"Pak, saya sengaja memberikan surat ini kepada Anda, karena sebelum almarhum meninggal dunia ia sempat memberikan surat ini kepada saya. Saya juga tidak tahu isinya dan apa alasannya almarhum Maya."
Dwinda berusaha merayu Ellad, untuk menerima surat. Sang CEO berusia empat puluh enam tahun, menatap sekilas ke arah wanita yang duduk di sampingnya, seketika tangan meraih surat. Dwinda tersenyum sinis, rencanya sudah berjalan mulus.
Tinggal tahap merayu Ellad agar mau menikahinya, perlahan tangan Ellad membuka lembaran surat, membaca isi surat. Kedua mata membulat, masih tak percaya dengan isi surat yang diberikan Dwinda.
"Surat apa ini?"
Lelaki tua itu melemparkan surat ke arah wajah Dwinda, tentulah membuat ia sedikit marah. Mengenggam erat surat itu.
Ellad kini berdiri meninggalkan Dwinda." Jangan berharap saya akan menikahi kamu."
Kemarahan di perlihatkan Ellad, ia tidak menanggapi isi dalam surat yang sudah di susun rapi oleh Dwinda.
__ADS_1
Sang pemilik bola mata coklat, kini ikut berdiri di balik punggung Ellad," kenapa Anda malah memarahi saya, jelas saya tidak punya salah sedikitpun pada Anda."
Mendengar hal semacam itu, tentu malah membuat Ellad semakin muak.
Membalikkan badan dan berkata," ini pasti akal akalan kamu kan, menulis dalam surat ini."
" Terserah anda pak, saya hanya menyampaikan surat itu saja dari almarhumah Maya. Jika Anda menerima silakan jika tidak saya tidak peduli." Dwinda berusaha menjadi seorang yang cuek, karena dengan cara itu ia bisa mendekati Ellad.
Untung saja sewaktu Maya masih hidup, Dwinda sering menanyakan tentang Ellad, sampai Maya begitu percaya, akhirnya menceritakan semuanya.
Padahal jika wanita lain menceritakan tentang suami, pastinya mereka akan menutupi. Tapi tidak dengan Maya begitu percayanya pada Dwinda, karena niat wanita tua itu hanya ingin menjodohkan sahabatnya dengan sang anak.
Dwinda berjalan pergi meninggalkan Ellad, lelaki berambut putih itu, sedikit merasa bersalah dengan apa yang ia katakan pada Dwinda.
Menarik napas, merasa malu jika memanggil wanita yang menjadi sahabat Maya.
Dwinda, tertawa pelan. Ia tahu jika Ellad pastinya merasa bersalah.
"Lihat saja nanti, aku akan membuat Ellad bertekluk lutut padaku."
Edric mulai sadarkan diri, ia terbangun. Dengan merasakan kedua kaki terasa kaku dan susah di gerakan.
"Ini kenapa ya, kakiku. Susah digerakin."
Edric berusaha beranjak berdiri, bangkit dari tidurya, " kenapa susah sekali."
Karena memaksakan diri, pada akhirnya Edric jatuh dari ranjang tempat tidur. Para suster masuk melihat suara terdengar keras dari ruangan Edric.
"Kenapa terasa kaku, apa yang terjadi denganku saat ini." Edric terlihat begitu panik, ia berusaha untuk bangkit berjalan seperti biasa, tapi tetap saja ia tak bisa bangkit berdiri.
"Tolong."
Edric berusaha berteriak meminta tolong kepada para suster ataupun dokter yang berada di rumah sakit ibunya.
Dwinda ternyata mendengar teriakan dari ruangan Edric, dengan terburu-buru ia berjalan untuk segera masuk ke dalam ruangan sebelum para dokter yang lain datang.
__ADS_1
Dengan langkah cepat, saat Dwinda masuk ke ruangan, ternyata para dokter sudah berada di sana. Dwinda berpura pura tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Edric.
"Ada apa ini?"
Edric berusaha dibantu oleh para perawat untuk diletakkan kembali di ranjang, dengan perlahan lelaki pemilik bola mata biru itu sudah pada posisinya.
Para dokter kini mengecek keadaan Edric, sampai dimana salah satu dokter berkata." Pasien Edric mengalami kelumpuhan."
Edric membulatkan kedua matanya, tak menyangka jika dirinya mengalami kelumpuhan. Tanpa sebab apa apa.
Dwinda tersenyum dalam kelilingan orang orang, saat melihat keadaan Edric.
"Ini tidak mungkin."
Kedua tangan Edric menggenggam erat kedua kerah baju dokter yang mengeceknya, dia memarahi dokter itu habis-habisan." kamu jangan mengada-ngada, tadi aku masih baik-baik saja bisa berjalan seperti biasanya. Tapi kenapa? Aku malah menjadi lumpuh seperti ini?"
Pertanyaan Edric membuat para dokter juga tidak mengerti, mereka hanya menduga-duga jika ada tekanan saraf yang terjepit, sehingga membuat Edric lumpuh pada kedua kakinya.
Orang yang sudah membuat Edric menjadi lumpuh, hanya bisa tertawa dalam hati melihat penderitaan yang dialami keluarga Ellad saat ini.
Tangisan yang ia lihat sama seperti dirinya saat menangisi sang ayah yang sudah meninggal, kelumpuhan Edric seakan menjadi sebuah kesenangan untuk Dwinda, di mana ia kemarin menderita melihat ibunya menjadi gila.
Semua sudah terbalas, namun tetap saja Dwinda tidak puas, ia masih ingin membuat orang-orang di rumah Ellad semakin menderita, apalagi dengan anaknya yang cuek dan juga sombong terhadap dirinya.
"Ini semua belum seberapa, masih ada penderitaan yang akan kamu rasakan setelah aku hadir dalam keluargamu, Edric. Papah mu sebentar lagi akan menjadikan aku sebagai ibu tirimu. kamu lihat saja nanti." Dwinda hanya bisa bergumam dalam hati, melihat tangisan keluar dari kedua mata Endric, saat itu ia mulai pergi dari ruangan anak dari Maya.
Namun, saat membalikkan badan, tiba-tiba tubuhnya tertabrak oleh seorang lelaki berbadan tegap, berambut putih. Yang tak lain ialah Ellad, lelaki jahat, penghancur dan pembunuh ayah Dwinda.
Karena tabrakan lumayan cukup terasa karas, membuat DWinda tersungkur jatuh ke atas lantai, sampai di mana ia berusaha menyodorkan tangan untuk membantu wanita pemilik bola mata coklat itu berdiri.
Namun karena rencananya yang ingin berjalan mulus, pada akhirnya DWinda berusaha menjadi seorang wanita cuek dan merasa dirinya sudah dianiaya oleh perkataan Ellad yang begitu menyakitkan.
Dwinda mengabaikan tangan Ellad, ia berusaha berdiri sendiri tanpa bantuan Ellad sedikit pun.
Kembali pergi melewati sang CEO dengan Wajah juteknya.
__ADS_1