Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 46 Ke desa Aira


__ADS_3

"Aggg."


Suara erangan terdengar begitu jelas, Aira penasaran, kenapa dengan Dwinda? Bisa bisanya wanita itu berteriak di tengah malah seperti ini.


Aira berjalan, melihat kearah kamar Dwinda. Pintu tak terkunci rapat. Wanita Desa itu terkejut melihat Maria Tengah duduk di atas pinggang Dwinda.


"Bi Maria?"


Aira menahan tawa dengan menutup mulutnya agar tidak terdengar oleh Dwinda. Maria seperti sengaja mengerjai Dwinda, sampai berniat memijitnya dengan begitu tak lazim.


Seperti dendam, sengaja dipukul pukul.


"Bi, Maria ada ada aja."


Ingin rasanya, ikut serta menindih dan menginjak punggung Dwinda. Tapi Aira tak kuasa, ia mengurungkan niat mengintip Dwinda lebih lama, melihat penderitaan yang dibuat Maria.


Pada akhirnya, Aira berjalan kembali, untuk segera menghampiri sang suami, setelah layanan servis yang ia buat pada Edric.


Edric tengah meringkuk kelelahan di atas kasur, membuat wanita desa itu membaringkan badan di sisi kiri sang suami.


Pelukan erat dari tangan kekar membuat rasa nyaman pada diri Aira, wanita desa itu tersenyum kecil.


"Aku mencintai kamu, Aira."


Kata kata Edric mampu membuat jiwa meronta ronta, menerima semua kata kata dan perasaan yang diluapkan Edric.


Jam menunjukkan pukul dua belas malam, Aira yang tertidur tiba tiba terbangun, memimpikan sosok wanita tua bongkok yang ternyata ibunya sendiri.


"Ibu."


Edric tentulah terkejut dengan teriakan sang istri, ia bangun dan melihat apa yang terjadi dengan Aira.


"Kamu kenapa?"


Napas berburu, terlihat Aira tak bisa mengendalikan diri, ia seperti merasakan bahwa mimpi itu nyata.


"Ibu."


"Aira, apa kamu rindu ibumu?"


Menatap ke arah Edric dengan kedua mata berkaca kaca, " Apa yang kamu rasakan sekarang?"


Tangan kekar CEO muda mengusap perlahan rambut yang menutupi wajah." Akhir akhir ini kamu sering bermimpi ibumu, sebenarnya apa yang terjadi?"


Bagaimana menjelaskan pada Edric sedangkan lelaki yang berada di sampingnya adalah tersangka yang sudah membuat kematian sang ibunda itu terjadi.


"Tidak ada, Aira hanya rindu pada ibu."

__ADS_1


Edric tersenyum dengan menjawab." Bagaimana kalau kita bertemu ibumu. Besok."


"Sepertinya tidak mungkin, dia sudah meninggal dunia."


"Kenapa tidak bisa, kita kan bisa menjenguk kuburan ibumu."


Apa yang dikatakan Edric memang benar, jika Aira bisa menjenguk hanya melihat kuburan sang ibunda. Akan tetapi ia tidak tahu keberadaan kuburan ibunya sendiri, karena setelah kematian wanita yang sudah melahirkannya. Aira tak tahu sang ayah tiri menguburnya atau tidak.


Dan lagi Aira juga tak tahu dimana keberadaan sang ayah? Mungkin melarikan diri? Atau bersembunyi?


"Aira tidak tahu kuburan ibu, setelah datang ke sini! "


Edric merasa heran, " Loh, kenapa bisa."


"Ibu mati, saat aku dibawa ke rumah ini. "


Aira hampir menceritakan dengan detail mencerita dirinya sendiri, tapi ia tahan karena balas dendam itu harus terjadi.


Jika tidak, terlalu Indah untuk hidup bahagia dalam penderitaan orang lain.


"Aira, aku tidak mengerti dengan perkataan kamu. Akhir akhir ini, seperti membuat sebuah teka teki agar aku mengerti."


"Aku lelah, mau tidur lagi."


Aira merebahkan tubuhnya, untuk segera tidur.


"Sepertinya aku harus menyelidiki semuanya." Gumam hati Edric.


Sang CEO muda kini merebahkan tubuhnya di samping kiri Aira, memeluk tubuh wanita desa yang menjadi istrinya itu.


********


Pagi hari .....


Aira belum juga bagun dari tidurnya, sedangkan Edric sudah bangun terlebih dahulu. Ia bergegas menyiapkan keperluanya untuk pergi ke kampung Aira, walau jadwal seorang CEO muda begitu padat.


Berusaha memaksakan diri, dan mengatur jadwal sebelumnya.


Kemungkinan besar, Edric akan mendapat semburan tak menyenangkan dari Siska sang dosen, tapi bagi dirinya itu tak penting.


Yang terpenting sekarang, bagaimana caranya bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Aira.


Setiap membahas tentang Ibu, Aira seperti tertekan dan kebingungan.


Semua perlaratan kuliah sudah tersusun rapi, Edric menyurih suruhan ayahnya mengatarkannya ke kampung Aira.


Namun, ada sesuatu yang aneh. Para suruhan tidak mau dengan alasan Ellad memberi pekerjaan yang begitu banyak pada mereka.

__ADS_1


Dengan memperlihatkan uang, membayar mereka berkali lipat, akhirnya Edric mampu membuat sang suruhan mengantarkannya.


"Saya mau mengantarkan anda tuan."


" Mm, bagus kalau begitu. Sekarang kita berangkat."


Di dalam perjalanan sang CEO muda itu di beri tugas yang begitu banyak oleh Siska, walau hanya lewat leptot, tapi Siska begitu keterlaluan.


Entah tujuan dari dosen itu apa, sampai ia membuat Edric kewalahan mengerjai tugas kuliahnya.


Walau di beri keringanan tapi bukan berarti di beri tugas yang menumpuk.


"Si dosen gila ini, benar benar keterlaluan."


Menggerutu kesal, Edric mengacak rambutnya kasar, ia mengerjakan dengan perasaan tak menentu antara pusing dan malas.


Dua jam dalam perjalanan, Edric akhirnya bisa mengerjakan pekerjaan kuliahnya, iya mulai fokus melihat jalanan menuju ke desa.


Perjalanan yang benar-benar menempuh jarak yang lumayan jauh, apalagi Desa itu begitu terpencil.


Edric dengan rasa penasarannya bertanya kepada suruhan ayahnya yang kini mengantarkannya menuju Desa Aira," Saya hanya ingin bertanya kepada kamu? ketika kamu membawa Aira ke rumah. Apa di saat itu Ibu Aira meninggal dunia?"


Deg ....


Jelas bukan ini yang diharapkan sang suruhan Ellad. Iya ragu mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.


"Oh ya, jika kamu mengatakan kejadian waktu Aira dibawa ke rumah. Saya akan usahakan membayar kamu lebih dari gaji kamu selama sebulan ini."


Membahas tentang gaji, tentulah sang suruhan Ellad tertarik, hingga saatnya ia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Aira.


"Sebenarnya, Ibu Aira adalah korban pembunuhan ayah tirinya."


Kedua mata Edric membulat setelah mendengar kata kata pembunuhan, memang di awal bertemu dengan Aira, wanita desa itu sempat membahas tentang pembunuhan yang tak ia jelaskan.


"Kenapa bisa?"


"Maafkan kami tuan muda, kami hanya menjalankan tugas saja sebagai suruhan Tuan Ellad."


"Coba kamu ceritakan semuanya dengan detail."


"Saya akan ceritakan, tapi saya berharap jika tuan muda tidak melaporkan kasus ini kepada polisi, kami yang berada di rumah Aira hanyalah sebagai sanksi mata atas pembunuhan ayah tiri Aira kepada ibunya. Selebihnya kami tidak tahu apa apa."


"Baik, saya pastikan kamu aman. Hanya saja saya ingin mendengar langsung dari mulut kamu, sebagai sanksi mata atas pembunuhan ibunda Aira saat kejadian itu terjadi. "


Pada akhirnya suruhan mulai mengatakan semua yang terjadi di saat mereka membawa paksa Aira berhadapan dengan CEO Ellad.


Di saat semua mulai diceritakan sang suruhan, tiba tiba mobil menabrak seseorang, Edric terkejut. Ia melihat keluar siapa orang yang ia tabrak saat itu.

__ADS_1


Betapa terkejutnya suruhan Ellad melihat orang yang ia tabrak.


__ADS_2