
Setelah sampai di rumah sakit, Edric mulai dibawa ke ruangan UGD untuk segera diperiksa secara langsung. Sedangkan Aira hanya bisa menunggu di luar ruangan.
Terlihat raut wajah penyesalan dalam diri wanita desa itu, tangannya bergetar. Takut jika terjadi sesuatu yang begitu serius kepada suaminya, sampai di mana ia akan menjadi tahanan.
Aira tiba tiba saja, mengingat perkataan suaminya di dalam kamar mandi. Yang dimana Edric bertanya," apa kamu mencintaiku Aira."
Meremas rambut dengan kedua tangan, perkataan itu terus terngiang pada pikiran Aira.
"Ahk, kenapa aku terus menerus mengigat kata kata Edric."
Aira terlihat semakin bersalah, ia hanya bisa menunggu dengan wajah cemas dan penuh kekuatiran.
*******
Sedangkan di dalam ruangan UGD Edric menyuruh para dokter untuk berbohong pada Aira, sengaja agar ia tahu isi hati wanita yang menjadi istrinya itu.
Ketika seseorang mempunyai uang apapun bisa dilakukan, awalnya para dokter menolak. Tapi Edric berusaha meyakini para dokter, kalau semua ini demi kebaikan.
Dengan memohon dan meminta pertolongan, sampai akhinya sang dokter setuju.
Edric bisa tersenyum lega, jika para dokter dan suster bisa diajak kerja sama.
"Rencana dimulai."
Memang semua ini rencana sang CEO muda , untuk bisa mengungkapkan kebenaran yang terjadi bahwa Edric tidak tahu, akan Aira yang ternyata dibeli oleh sang ayah untuk dijadikan istrinya. Dan lagi, Edric tidak sengaja mengurung ayah tiri Aira, untuk bisa memperjelas semuanya.
"Semoga saja dengan ini, semua berjalan lancar. Aku akan menyadarkan Aira bahwa aku tidak ada niat memanfaatkanya dan lagi aku tulus menyayanginya." Gumam hati Edric, saat tertidur di ranjang rumah sakit.
Menarik napas, alat rumah sakit yang biasa dipakai pasien ketika koma sudah dipasang rapi pada badan Edric, mungkin ini keterlaluan tapi dengan cara ini Edric bisa tahu ketulusan Aira.
Dwinda dan juga Ellad masih dalam perjalanan menuju rumah sakit, mereka sedikit terlambat. Karena mengalami kemacetan yang sangat parah.
Dwinda mengerutu kesal di dalam mobil, ia terus menerus mengoceh menyelahkan Aira dari kejadian yang menimpa Edric.
__ADS_1
"Tuh, papih lihat sendiri kan. Aira itu gadis berbahaya, buktinya Edric sekarang dicelakai olehnya sampai Edric masuk ke rumah sakit."
Ellad yang tengah mengendarai mobil, berusaha fokus melihat jalanan yang begitu padat. Membuat ia benar benar kesal dan murka," papih, dengar tidak apa yang dikatakan mommy, papih ini sebenarnya saya nggak sama anak sendiri?" tanya sang istri, dengan raut wajah memerah memperlihatkan amarah.
Lelaki tua berambut putih itu hanya bisa menahan kekesalan saat sang istri terus saja mengoceh dan memarahinya," CUKUP, Mom. Apa bibir mommy itu bisa diam tidak. Papih pusing dengarnya, dari tadi mommy itu menyalahkan Aira terus menerus."
Dwinda hanya memajukan kedua bibirnya, Ketika sang suami membentak dan sedikit memarahinya.
"Ya kan mommy itu sayang sama Edric, jadi kan .... "
Belum perkataan Dwinda terlontar semuanya, Ellad malah mengeluarkan perkataan yang membuat Dwinda terdiam tanpa menjawab satu patah katapun.
"Papih, kok curiga ya. Kalau mommy itu suka sama Edric."
Deg ....
Jantung Dwinda tiba tiba berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Ia menjawab dengan gugup. " M-m, pa-pih ini ngomongnya ngawur, mana ada ibu tiri jatuh cinta sama anak tirinya! "
Ellad menggelengkan kepala, setelah mendengar jawaban yang terlontar dari mulut istrinya, yakini fokus kembali mengendarai mobil. Sedangkan Dwinda berusaha diam, tak mau memulai lagi obrolan, takut jika rencannya terbongkar.
Terlihat raut wajah kesal terlukis pada Dwinda, menatap tajam ke arah Aira, wanita pemilik bola mata coklat, ingin sekali menyalahkan semuanya kecelakaan yang terjadi pada Edric. Sepenuhnya pada Aira.
Namun karena Ellad menjadi berbeda dari biasanya, Dwinda tak berani membuat keributan. Ia tak mau jika rahasianya terbongkar, dan malah menyebabkan kegagalan.
Dwinda sudah berjanji kepada kedua orang tuanya, untuk membalaskan dendam kepada Sang CEO. Dwinda ingin membuat Ellad merasakan apa yang dirasakan kedua orang tuanya dulu.
Sang pemilik bola mata coklat kini duduk di samping kiri Aira, dengan membisikkan suatu perkataan yang membuat Aira menjadi kesal," aku tahu semua ini pasti ulahmu kan? Dasar pembunuh."
Aira yang tak bisa mengendalikan diri, mencekram lengan tangan Dwinda dengan berkata, " Jika memang iya, kenapa? Apa kamu mau aku bunuh?"
Mendengar hal seperti itu, tentulah membuat Dwinda terdiam sembari menahan rasa sakit. Karena cakraman tangan Aira begitu kuat.
"Sakit."
__ADS_1
Aira dengan sengaja menancapkan kukunya pada lengan sang ibu tiri, iya kesal dengan wanita yang berani ikut campur dengan masalahnya.
Dwinda ingin sekali menjerit kesakitan, tapi dirinya tak berdaya. Ellad malah tidak ada, Dwinda tak menyadari kepergian suaminya itu.
"Kenapa? Mau meminta bantuan ya, Kasihan sekali, suaminya pergi!"
Aira semakin berutal, dari awal dia sudah memperingati Dwinda. Jangan selalu membuat amarah dalam diri Aira, jika dirinya tidak mau celaka.
"Lepaskan tanganmu itu," ucap Dwinda berusaha memberontak, tapi Aira malah semakin menjadi-jadi, ia terus menekan tangannya. Hingga Ellad datang.
"Aira, Dwinda."
Panggilan Ellad, membuat Aira berusaha memperlihatkan kesedihannya. Agar lelaki tua itu tak menyadari jika Aira sengaja menyakiti Dwinda.
Dwinda yang sudah lepas dari rasa sakit akibat cengkraman Aira, kini mendekat ke arah sang suami. Berusaha meminta perlindungan, agar Aira tidak berani lagi menyakiti dirinya.
"Aira, kamu yang sabar ya. Edric pasti sembuh, Dady mau tanya sama kamu, sebenarnya kenapa Edric sampai bisa terluka parah?"
Deg ....
Pertanyaan Ellad, tentulah membuat Aira bingung.
Bagaimana Aira menjelaskan semuanya, jelas jelas Aira, sudah berniat melukai Edric.
Namun, semua gagal karena Edric yang ternyata sudah mengetahui semuanya.
Andai saja semuanya berjalan lancar, kemungkinan besar Ellad juga akan mati pada hari yang sama, ketika rencana Aira sudah dimulai.
"Aira, kenapa kamu diam saja?" tanya Ellad, membuat Aira hanya bisa menundukkan pandangan, sedangkan Dwinda sudah tak tahan, ingin membuat Aira mengatakan kejujurannya.
"Sebenar .... "
Ellad kini memegang bahu Aira, mengusap pelan dan berkata," jika kamu tak sanggup mengatakanya jangan paksakan, Dady tahu kamu pasti masih merasakan rasa trauma atas kejadian yang menimpa Edric."
__ADS_1
Sang pemilik bola mata coklat itu tentu saja terkejut, kenapa bisa Ellad berkata seperti itu, seakan membela Aira. Dwinda sangat geram dengan apa yang dikatakan suaminya, mengepalkan kedua tangan menahan semua amarah yang terpendam dalam diri Dwinda.
Aira tersenyum tipis jika ayah Edric tidak menekanya untuk menjawab pertanyaan yang tentunya membuat Aira pastinya bingung dan takut.