
"Ehem."
Aira dan Edric merasa heran dengan suara batuk sopirnya yang terdengar seakan di sengaja.
"Kenapa?"
Sopir itu menangis dan menjawab." Sudahlah jangan perlihatkan kemesraan tuan dan nona. Kaya nggak lihat saja nasib jombol."
Semua tertawa dengan perkataan sopir Edric, di situasi seperti ini, sopir yang mengendari mobil dengan fokus bisa juga membuat kedua majikanya tertawa.
" Mungpung masih pagi, bagaimana kalau sekarang saja kita ke kampung," ucap Edric pada sang istri. Aira yang mendengar perkataan Edric tentu saja langsung menjawab dengan rasa cemas.
"Tapi tangan kamu belum sembuh total loh, masa ia sekarang kita pergi ke kampung, aku takut jika nanti kamu kenapa kenapa." balas Aira, begitu perhatian terhadap suaminya.
"Nggak papa, keadaanku sekarang membaik. Kamu jangan kuatir sayang. Kan ada sopir dan suruhan ikut dengan kita. Mereka kan bisa gantian bawa mobil, kalau kita tinggal santai saja. Bisa tiduran bisa makan, menikmati pemandangan." ucap Edric, Aira menganggukkan kepala, ia hanya mengiyakan perkataan Edric. Walau memang ada rasa kuatir terpendam dari diri Aira.
Kini mobilpun mulai berjalan, menuju kampung halaman Aira, berniat meluruskan semuanya. Agar tidak ada kesalah pahaman yang terjadi.
Aira juga sudah ingin melihat pemakaman ibunya sendiri, ia begitu rindu dengan rumah di kampung yang sudah lama tak ia tempati.
Perasaan sudah tak sabar, ingin segera sampai ke kampung halaman, melihat suasana rumah sekarang seperti apa.
"Kamu sudah tak sabar ya, ingin melihat rumah sekarang seperti apa?" tanya Edric pada istrinya.
"Iya, kok kamu tahu?" tanya balik Aira pada suaminya.
Tangan CEO muda kini memegang dagu Aira, ia tak tahan ingin mencium bibir mungil milik istrinya. Tapi apa daya, kedua suruhan tengah memperhatikan sang CEO pada kaca mobil.
Edric menyenderkan kepalanya pada bahu sang istri, terasa begitu nyaman.
Pada akhinya kedua insan terlelap tidur, terlihat mereka begitu nyaman saling berpelukan satu sama lain. Tentu saja membuat kedua suruhan semakin iri, apalagi setatus mereka masih singel.
"Lu, liat tuan dan nyonya mereka tertidur saling berpelukan terlihat nyaman sekali. Lah kita kapan," ucap Tarjo duduk di sebalah kiri, ia menatap ke arah jendela, merasakan nasib menjadi jombol yang tak laku.
__ADS_1
Sedangkan Andi, tengah fokus mengendari mobil, terlihat jika Andi tak begitu peduli dengan kemesraan kedua majikannya. Karena ia sudah nyaman dengan setatus jombolnya.
Makannya Andi dan Tarjo, punya perbedaan sangat jauh, walau keduanya bersetatus jomblo. Tapi tetap saja keduanya selalu kompak.
Perjalanan yang cukup lumayan melelah kan, bagi mereka.
Dengan terpaksa Tarjo, membangunkan kedua majikanya, karena perjalanan sudah sampai di tempat tujuan.
"Nona, tuan. Kita sudah sampai."
Kedua insan begitu mesra, saat tidurpun saling berpelukan, tentu saja membuat siapapun orang yang melihat akan merasa iri.
Karena saking lelahnya, kedua insan itu susah sekali di bangunkan oleh Tarjo, dengan keterpaksa sang suruhan meneriaki kedua majikannya.
"Baguuuuuun."
Akhirnya kedua majikannya bangun, mereka begitu kaget dan syok.
"Tarjo, kalian ini apa apaan, memangnya tidak bisa ya membangunkan kami berdua tidak sampai berteriak teriak."
"Sudah jangan memarhi mereka berdua, kasihan. Kemungkinan kita tidak bangun saat mereka membangunkan kita dengan pelan."
Edric membulatkan kedua matanya, masih ada rasa kesal pasa Tarjo." Ampun tuan, saya terpaksa membangunkan kalian dengan berteriak, karena sudah beberapa kalian saya bangunkan kalian begitu tidur nyenyak."
Aira yang memang selalu bersikap lembut pada para pelayan, apalagi pada suruhan Edric suaminya. Membuat mereka nyaman, tidak dengan Edric jika ia marah, selalu terlihat menyeramkan.
Aira menatap pada kaca mobil, ia tak menyangka jika pada akhinya mobil yang ia tumpangi sampai ke kampung halaman, melihat suasana desa selalu menyejukkan.
Tak ada polusi sedikit pun, selalu ada ketenangan. Dengan perlahan Aira keluar dari dalam mobil, Ia rindu dengan rumah yang ia tempati bersama dirinya dan sang ibu.
Aira melihat rumah ibunya, hampir terlihat sudah tak terurus, membuat rasa kecewa dan sedih dalam hatinya.
Betapa teganya Sodikin, membiarkan rumah ibunda Aira berantakan, tak beraturan. Aira berjalan, sembari membereskan semuanya.
__ADS_1
Begitupun dengan Edric dan yang lainnya, ikut membantu merapikan semuanya.
"Sodikin, lelaki tua itu benar benar keterlaluan. Bisa bisanya ia membuat rumah ini berantakan dan tak terurus."
Edric melihat semua album poto, dimana Aira masih kecil dan sang ibunda. Begitupun dengan ayah kandungnya.
Dengan isengnya, Edric mengambil poto pada album yang tergeletak di atas meja penuh dengan debu.
Kedua suruhan Edric, membantu dengan menyapu lantai dan juga membersihkan barang-barang yang berserakan di atas tak lantai.
Mereka begitu cekatan dalam membersihkan rumah, Aira berjalan menuju ke kamar sang Ibunda yang sudah lama ia tak lihat, perasaan rindu kini menggebu dalam hati, Aira memegang foto yang masih terpajang rapi di atas meja dekat ranjang tempat tidur ibunya, memeluk foto itu dengan begitu erat, menangis dan juga berkata." Maafkan Aira ibu, Aira baru datang lagi ke sini, Aira rindu sekali dengan ibu."
Edric mulai mencari keberadaan istrinya, yang tiba-tiba saja tak ada di depannya. Menjalankan kursi roda mencari ke setiap ruangan, hingga di mana Edric mendengar suara isak tangis dari dalam kamar.
Perlahan Ia membuka kamar yang terdengar dengar suara tangisan, perlahan dan pada akhirnya Edric melihat orang yang tengah menangis itu adalah istrinya sendiri.
Mendekat dan bertanya." apa kamu baik baik saja."
Aira mengusap kasar wajahnya, ia merasa malu dengan suaminya. Menundukkan pandangan, kedua pipinya memerah.
Aira hanya bisa terdiam, sampai dimana Edric memeluk dengan erat istrinya itu," Kamu jangan terlalu bersedih, doakan saja kepergian ibumu. Jangan takut sendirian, karena aku selalu ada di sisimu Aira."
"Terima kasih Edric, kamu selalu mengerti aku. Ketika aku tengah bersedih seperti ini."
"Pastinya aku akan selalu mengerti kamu, menyayangi kamu dan tidak akan pernah meninggalkan kamu Aira, aku sangat mencintai kamu. Hanya kamu sosok wanita yang mampu membuat aku Bangkit dari keterpurukan yang sudah lama menjelma dalam hidupku."
Tarjo dan Andi tiba tiba berlarian mencari keberadaan majikan mereka, terlihat raut wajah ketakutan saat keduanya melihat sang majikan berada di dalam kamar.
"Ada apa?"
"Di luar banyak orang!"
Terdengar suara teriakan, memanggil nama Aira. Membuat wanita desa itu terkejut ia melihat pada kaca jendela kamar ibunya, melihat orang orang di desa berteriak menyuruh Aira keluar dari dalam rumah.
__ADS_1
"Aira cepat keluar dari rumah ibumu."
Teriak ibu ibu di desa.