
Dosen bernama Siska itu sangatlah keterlaluan, bagaimana bisa ia duduk di dekat suami orang yang sudah memiliki seorang anak, ke mana urat malu dosen itu.
Aira berusaha tetap tenang tidak terpojokan akan amarah, karena ia masih punya harga diri. Untuk tidak mamalukan dirinya di depan orang lain, Aira mencoba mencari ide, untuk bisa menyingkirkan sang dosen dengan cara yang elegan.
"Edric, kenapa kamu tidak menghubungi saya, kita kan dosen dan murid yang begitu dekat dan akrab, masa kamu bisa melupakan saya begitu saja."
CEO muda yang menjadi suami Aira, sedikit mencium bau alkohol dari mulut sang dosen.
Mengibaskan tangan di depan hidung, Aira merasa jengah dengan kelakuan dosen itu.
"Apa bisa anda duduk sedikit menjauh, tidak terlalu dekat dengan suami saya?" tanya Aira dengan nada yang begitu sopan, iya tak mau memancing keributan hanya gara-gara seorang dosen yang begitu akrab dengan suaminya.
Dosen bernama Siska itu benar-benar tidak memperdulikan Aira, dia hanya menatap ke arah Edric dengan penuh cinta. "Edric gimana kalau kamu gabung dengan aku di sana." Siska menunjuk ke arah teman temannya.
Aira kini menumpahkan air yang berada dihadapan Siska dengan sengaja, berpura pura. Mengambil tisu.
Air itu langsung mengenai baju mewah Siska dimana Aira berkata," ups. Maaf ya, enggak sengaja."
Siska mengigit giginya, merasa kesal karena bajunya basah. " Kamu ini punya mata apa tidak."
Siska sedikit membentak, walau pelan. Tetap saja membuat Edric tak terima.
"Jangan pernah membentak wanita yang aku cintai," balas Edric, sedikit bernada tinggi.
Kedua pipi merah, dengan mata berbinar menatap ke arah Edric. Tangan mulusnya, menutup mulut dan berkata." Ups, maaf ya. Maklum aku syok, jadi begitu."
Aira melihat dosen itu, benar benar tak tahu malu, seperti cacing kepanasan yang menggeliat-geliat, ingin masuk ke dalam tanah. Namun tanah itu keras tak bisa ia masuki.
Siska kini tersenyum dan mengajak Edric mengobrol, " Wah, sekarang kamu sudah bisa jalan ya. Aku benar benar salut kepadamu."
Edric hanya diam tak bergeming lagi, ia malas menjawab. Membiarkan Siska berbicara sendirian, Aira mulai mecari cara lagi.
Tring ....
Aira ternyata mengirim pesan pada Edric.
(Masa kamu biarkan cacing panas itu di dekatmu. Sebal deh.)
Gerutu Aira mengirim pesan dengan emozik marah.
Edric senang jika Aira marah, itu tandanya sang istri begitu sayang. (Lalu aku harus apakan dia?)
__ADS_1
Mengirim emozik seperti orang bingung.
Edric begitu sengaja sekali, ingin membuat amarah Aira merajalela.
(Mikir dong, kalau gitu terus aku pulang sendiri. Awas saja tak kukasih jatah, jika apemku sudah kering.)
Deg ....
Membaca pesan dari Aira tentulah membuat Edric panik, bagaimana bisa ia tahan tanpa tak di beri jatah oleh istrinya. Itu semua tidak bisa baginya.
(Baik baik, kamu lihat saja ini.)
Aira tersenyum, saat balasan pesan dari sang suami, membuat ia tak sabar ingin melihat apa yang akan dilakukan Edric.
Siska masih terlihat berbicara sendirian, menceritakan hal-hal yang membuat ia bahagia. Dimana tak ada respon sekali dari Edric, hingga dimana sang CEO muda menyuruh Siska berdiri.
"Siska."
Panggilan Edric membuat Siska merasa senang, apalagi namanya begitu pas dipanggil oleh sang murid.
"Iya kenapa?"
Edric menyenderkan dagu pada telapak tanganya, " Coba berdiri."
"Apa?"
Siska seperti sengaja mendekatkan telinga ke arah Edric, pura-pura tak terdengar.
Edric mulai meneriaki dosen di hadapannya," Berdiri."
Siska tersenyum manja, dimana Aira hanya medelik kesal, mengerutkan bibir, melihat betapa tak ada harga dirinya sang dosen itu.
Karena teriakan Edric, membuat para pengunjung di restoran menatap ke arahnya. Semua memandang dengan rasa heran, sedangkan Siska dengan kesempatan hampir mencium bibir Edric.
Aira yang melihat pemandangan itu, menempelkan vas bunga pada bibir Siska yang akan mencium Edric. " Sayang kamu lihat vas bunga ini."
Siska merasa kesal, karena aksinya gagal. Sedangkan Edric tersenyum dan mulai menyingkirkan kursi.
Siska tak menyadari jika kursinya di pindahkan begitu saja, membuat ia terduduk di lantai. Makanan yang baru dibawa pelayang, sengaja Edric senggol hingga mengenai rambut dan badan Siska.
Memalukan benar benar memalukkan saat itu, ia mendapatkan hukuman yang lumayan setimpal dengan keganjenannya pada suami orang.
__ADS_1
Aira tersenyum tipis dan berkata," Wah, beravo."
Nampak Siska merasa benar benar malu kali ini, karena ia duduk dengan keadaan kotor karena makanan. Sedangkan sang pelayan tak tahu jika akan ada kejadian tak menyenangkan seperti ini.
"Ya ampun, maafkan saya tuan."
Edric menyelipkan uang untuk sang pelayan, dan memesan lagi makanan.
Edric menahan tawa. Iya sama sekali tidak mau membantu Siska, dimana sang dosen berdiri dan berlari menuju kamar mandi.
Aira merasa puas melihat pemandangan seperti itu, dari tadi itulah yang ia harapkan. Bukannya hanya basa-basi semata, membuat hatinya begitu cemburu.
"Gimana, sayang."
Aira memperlihatkan jempolnya kepada sang suami," luar biasa sekali aku suka dengan cara seperti itu."
Pelayan mulai membereskan kekacauan tak sengaja diperbuat, membersihkan makanan yang berserakan di atas lantai.
" kerugian ini biar pelayan saya yang ganti," ucap seorang lelaki yang mempunyai restoran mewah.
Edric memaafkan kelakuan pelayan itu. Sebenarnya bukan salah pelayan itu melainkan Edric yang sengaja menyenggol, makanan yang baru saja dibawa pelayan di restoran mewah itu.
"Saya sudah memaafkan pelayan itu, biarkan saja saya yang mengganti rugi atas kekacauan ini. "
Mendengar hal itu, pemilik restoran itu sangatlah senang. Memberikan sebuah hidangan gratis yang begitu mewah dan mahal.
"Karena anda baik terhadap pelayan kami dan mau memaafkannya, saya akan memberikan sebuah hidangan gratis yang tentunya paling mahal di restoran ini."
Aira tak menyangka setelah mengerjai Siska, mereka malah mendapatkan hadia luar biasa.
"Wah, benar itu?"
"Tentu!"
Pemilik restoran itu kini memanggil para pelayan untuk menghidangkan makanan gratis dan bernilai sangat mahal.
Aira tanpa terlihat begitu gembira melihat hidangan itu langsung tersaji di atas meja, berterima kasih kepada sang pemilik restoran.
"Karena anda sudah memberikan hidangan gratis yang begitu mahal kepada saya. Saya pastikan restoran anda akan semakin ramai pengunjung," ucap Edric memberikan kartu namanya kepada sang pemilik restoran.
Lelaki tua itu tampaklah terkejut, melihat kartu nama yang diberikan Edric kepadanya, membuka kacamata masih tak percaya dengan apa yang ia baca," Jadi anda adalah CEO Edric anak dari CEO Ellad. Bagitu beruntungnya sang pemilik restoran bisa bertemu dengan keluarga Ellad, karena bisnis mereka bisa membuat jaya restoran itu."
__ADS_1