Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 102


__ADS_3

Wanita tua yang menjadi Ibunda Dwinda itu seperti tak menerima bahwa Ellad adalah suami dari anaknya, ia kini menunjuk pintu keluar ruangannya," cepat kamu pergi dari sini, aku tidak butuh omong kosongmu itu. sejahatnya anakku tidak mungkin menikahi lelaki tua seperti kamu. Dan mana mungkin dia sampai tega menghancurkan keluarga kamu."


Ellad tersenyum akan wanita tua itu yang menyuruh dirinya untuk keluar dari ruangan. Ia terlihat murka, wajahnya memperlihatkan kemarahan yang sesungguhnya.


Perasaannya kadang berubah-ubah, karena penyakit depresinya, belum bisa terobati.


"Baik, saya akan pergi dari ruangan anda. Hanya saja, saya hanya menyampaikan sesuai kenyataan dalam ucapan saya."


Ellad mulai melangkah pergi meninggalkan wanita tua itu, ia tak peduli dengan kemarahan dan juga ketidakpercayaan akan sang ibunda yang sudah melahirkan Dwinda.


Dengan penuh semangat sebagai seorang CEO, Ellad berjalan dengan penampilan bak seperti model. Walau di umurnya yang sudah tua, Ellad terlihat gagah, ia masih terlihat segar dan bugar, walau rambutnya sudah memutih semua.


Ellad menjalankan mesin mobilnya, ia terburu-buru pergi untuk segera melaksanakan pekerjaannya di dalam kantor, " sungguh menyenangkan."


Senyum licik terukir dari wajah sang CEO, Ellad tak pernah menduga, jika hubungan antara anak dan ibu tidak begitu baik-baik saja.


Dreet ....


Ponsel terdengar berdering, Ellad mulai! mengangkat panggilan telepon dari kantor polisi.


Ia merasa heran karena pihak polisi menelpon dirinya. Apa sudah terjadi sesuatu pada Dwinda.


"Halo."


"Halo, permisi Tuan Ellad. Saya dari pihak polisi ingin mengatakan tentang keadaan istri anda?"


Ellad mengerutkan dahi sambil menyetir mobilnya, ada rasa heran, mendengar nada bicara polisi kepada dirinya." Ada apa?"


"Saya mengharapkan kedatangan anda ke kantor polisi sekarang juga, karena ada masalah dengan istri anda!" jawab Pak Polisi, terdengar begitu serius pada telinga Ellad.


Lelaki tua berambut putih itu kini menancapkan gas mobilnya untuk segera sampai kantor polisi.


"Apa yang sudah di lakukan Dwinda, sampai polidi menyuruhku untuk datang."

__ADS_1


Tidak butuh waktu yang begitu lama untuk sampai di kantor polisi, lelaki berambut putih itu sudah menghentikan Mobilnya di depan gerbang polisi.


Terlihat sekali kedatangannya disambut dengan begitu baik, Ellad berjalan perlahan ia mulai masuk ke dalam kantor.


Polisi mulai menyuruhnya untuk duduk, memberitahu tentang kelakuan istrinya yang keterlaluan.


"Apa yang sudah dilakukan istriku, sampai kalian memanggil aku datang ke sini?" pertanyaan lewat membuat para polisi saling menatap satu sama lain.


Ellad duduk dengan wajah serius ya, ia jarang sekali menampilkan keramahan kepada orang lain.


"Kami menyuruh anda datang ke sini, hanya ingin memberitahu bahwa tahanan bernama Dwinda sudah melakukan tindakan pembunuhan."


Deg ....


Mendengar hal itu tentulah membuat sang CEO terkejut, masih ada rasa tak menyangka dalam dirinya bahwa sang istri sudah tega melakukan pembunuhan untuk pertama kali di dalam penjara.


"Kenapa bisa? Bukanya di penjara ini sangat ketat, dengan para penjaga polisi? Kenapa bisa lengah seperti itu?" Ellad tak langsung menyalakan istrinya, semua itu pasti ada sebabnya. Kenapa wanita ber bola mata coklat itu melakukan pembunuhan.


"Apa ada saksi atau bukti pembunuhan itu!?" Ellad melontarkan pertanyaan kepada polisi yang ada di hadapannya.


Mendengar penjelasan yang diceritakan sang polisi membuat Ellad yakin.


"Kalau begitu, apa yang akan kalian lakukan. Menyiksanya, atau menghukumnya seumur hidup di dalam penjara?"


Pertanyaan Ellad, membuat para polisi menelan ludah. Ellad terlihat begitu beringas, ia sudah tidak memperdulikan istrinya yang cantik jelita bak seperti putri model.


Ellad tak memberi kesempatan pada sang istri, untuk bisa membela dirinya. Ellad benar-benar membuat Dwinda terjatuh dalam rencananya sendiri, hancur akan rasa egoisnya.


Rasa penasaran kini menyelimuti hati Ellad, iya penasaran dengan istrinya yang belum Iya lihat selama sehari. Ingin melihat keadaannya yang sekarang seperti apa?


Meminta pada polisi untuk mempertemukannya dalam waktu kurang lebih setengah jam.


Polisi mengagukan kepala, mereka kini mulai membawa ketahanan Dwinda, untuk berhadapan dengan Ellad.

__ADS_1


Dwinda dengan wajah polosnya, tersenyum kecil di hadapan sang suami. Ia mulai duduk, dengan senyum liciknya.


"Mm, baru sehari kamu di dalam penjara, sudah bikin onar. Kamu malah membunuh teman tahananmu, apa kamu tidak takut dengan hukuman yang nanti akan bertambah?"


Pertanyaan Ellad membuat wanita pemilik bola mata coklat itu, menahan amarah. Ia seakan hilang dalam kemanjaannya, wanita yang selalu memperlihatkan. Sisi lembutnya kini menjadi seorang penjahat yang begitu beringas.


Ellad melipatkan kedua tangannya di atas meja, ia menatap ke arah mata istrinya dengan memperlihatkan senyuman, " kenapa kamu malah diam saja saat aku bertanya. Apa ada yang salah dengan diriku?" Pertantaan Ellad, kini membuat wanita itu memukul meja, polisi yang kaget dengan Dwinda, mulai mendekat.


Namun, Ellad menghentikan langkah para polisi agar tidak mendekat dengan dirinya.


"Kurang ajar kamu."


Dwinda mulai menampilkan sifat aslinya, ya ingat sekali menjambak rambut dan juga menyakiti sang suami, agar lelaki tua bangka yang ia anggap sebagai suaminya itu mati seketika.


"Oh, ya. Tadi aku menemui ibumu dan mengobrol dengan ibumu," ucap Ellad. Amarah yang tadinya meluap-luap kini mereda.


"Kamu bertemu dengan ibuku?" tanya Dwinda, masih tak percaya dengan perkataan suaminya.


"Ya, memangnya kenapa. Dia ramah, baik dan sedikit tak waras bukan?" Mendengar pertanyaan Ellad membuat Dwinda menyadari semuanya, memang sang Ibu mempunyai gangguan sakit jiwa, setelah kepergian ayahnya.


Dwinda Sudah lama tak pernah menengok ibunya sendiri, ia merasa acuh dan tak memperdulikan wanita tua itu.


Karena setiap kali ibunya melihat wajah Dwinda wanita tua itu langsung meraung dan memukul-mukul wajah anaknya sendiri.


Maka dari itu, Dwinda tak mau lagi menengok ibunya sendiri, demi kesehatan sang ibu ia berusaha menjauh dan tak memperdulikan wanita tua itu.


Kedua matado Dwinda berkaca-kaca, Iya tak bisa lagi menahan Kerinduan kepada sang ibu, karena hatinya yang begitu sayang.


Membuat dirinya ini harus menelan derita, Ellad melihat perubahan dari wajah istrinya, terlihat sekali ada kekecewaan di sudut kedua mata sang istri.


Apa lagi rasa penyesalan," kenapa kamu diam, oh ya. Sekarang keadaan ibu kamu sudah baik-baik saja, kebetulan sekali kau rasanya hampir memulih 100%."


Dwinda menyia-nyiakan Ellad yang begitu baik hanya karena balas dendam.

__ADS_1


Padahal semua sudah menjadi takdir, tak ada yang harus disesali. Semua harus bisa menerima kejadian yang sudah menyakiti hati dan tak mungkin terulang kembali.


"Kenapa kamu senekad itu mengobrol dengan ibuku, apa tujuan kamu sekarang," bentak Dwinda, memukul kembali meja.


__ADS_2