Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 138


__ADS_3

Carlos menunggu di depan apartemen Lilia sang dokter wanita yang menyembuhkan Edric, ia terlihat gelisah. Karena jam delapan malam tidak ada tanda tanda kepulangan Lilia sama sekali.


Padahal hatinya berdebar dan penasaran, karena ia sudah tak sabar ingin mendengar jawaban dari Lilia, akan pilihannya.


"Semoga saja Lilia, memilihku. " Harapan Carlos begitu besar pada wanita yang berprofesi sebagai dokter.


Menatap layar ponsel, beberapa kali Carlos mengirim pesan pada Lilia, meneleponnya. Tapi tak ada respon sama sekali dari sang dokter.


"Lilia kenapa kamu tak mengangkat panggilan teleponku saat ini, ada apa denganmu. Apa kamu memilih Welly untuk menjadikan pendamping hidupmu?" Pertanyaan dan pikiran jelek dari kepala Carlos terus mengelilingi isi kepalanya.


Menyandarkan badan pada tembok dekat pintu apartemen sang dokter, berharap jika Lilia langsung merespon panggilan teleponnya dan juga membalas pesan.


"Kenapa." Carlos lelaki yang terbiasa gonta-ganti wanita, seperti tergila gila akan sosok seorang dokter cantik bernama Lilia.


Ia rela tidak melirik wanita lain, berharap jika Lilia adalah wanita terakhir dan pendamping dalam hidupnya. Karena selalu terbayang-bayang akan bayangan dalam pikiran dan dalam mimpi setiap kali tertidur.


"Lilia, kamu benar-benar wanita luar biasa, membuat hatiku lemah dan tak bisa berpaling ke wanita lain." Gumam hati Carlos.


Senderan punggung kini turun ke atas lantai, dimana Carlos terduduk dan memukul tembok sesekali.


Brukkk ....


Hantaman keras, membuat tangan terlihat memerah.


"Aduh, sakit."


Carlos memegang tangannya yang mengepal, kesakitan. Ia ingin menjerit tapi tak kuasa, meniup niup, berharap tidak terasa sakit lagi.


"Bodoh, kenapa coba malah melukai diri sendiri, memang ya, aku karena wanita. " Gerutu Carlos pada dirinya sendiri.


Carlos duduk, membiarkan ponsel tergeletak di atas lantai, karena menunggu jawaban dari Lilia. Ia nampak frustasi dan menjambak rambut dengan kedua tangan.


"Baru kali ini merasakan cinta sampai seperti orang gila saja."

__ADS_1


Menarik napas mengeluarkan secara perlahan, berharap tenang dan jauh dari kemarahan, karena ia sadar diri sudah tiga jam menunggu Lilia di depan pintu apartemennya.


Menatap layar ponsel kembali, tetap tak dibalas. " Lilia, Lilia, kamu kenapa sih?"


Welly keluar dari lip, mendengar suara Carlos, ia masih merasakan rasa kesal, karena bertabrakan dengan seorang lelaki berparas tampan.


"Untung saja, aku tak terluka." Ucap Welly, berjalan menuju ke apartemen Lilia.


Ia sebagai laki laki, sangatlah penasaran dan tak sabar mendengar jawaban Lilia yang sesungguhnya.


Malas menunggu hari esok, karena tak bisa tidur dari tadi. Terpaksa Welly keluar rumah hanya ingin menemui Lilia, ia mengira jika dirinya saja yang akan datang ke apartemen sang dokter.


Ternyata Carlos yang lebih dulu datang ke tempat Lilia, ia kalah cepat. Tapi melihat Carlos hanya berdiam diri di luar dengan posisi duduk seperti belum masuk ke apartemen.


"Kenapa dia malah duduk seperti itu?" tanya Welly pada dirinya sendiri, ia penasaran. Ingin menemui tapi gengsi karena dirinya sering mengolok ngolok karena tak sesuai janji dan peraturan.


Sedangkan Welly sama saja. Tak jauh berbeda, hanya karena wanita mereka menjadi lelaki bodoh dan tak mempedulikan diri mereka sendiri.


Yang mereka tak tahu jika Lilia sang dokter adalah sahabat mereka sendiri Lucky.


karena permakan wajah dan jarang melihat Lucky, tentunya membuat Carlos dan Welly tak sadar.


Hingga mereka mengira jika Lilia sang dokter adalah wanita sesungguhnya.


Tak bisa dibayangkan bagaimana jika mereka berdua melihat perubahan Lucky yang sekarang apa kecewa atau marah.


Welly tak berani mendekati Carlos duduk sendirian di depan pintu apartemen Lilia sang dokter.


"Kenapa dia seperti orang frustasi begitu, duduk sendirian di depan Apartemen Lilia, apa dia ingin mencari cara licik." Gumam hati Welly, terlihat laki laki itu seperti kesal karena Carlos datang lebih dulu.


Welly bingung antara menghampiri atau tak peduli. Welly kini mengambil ponselnya dalam tas yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi.


Menatap layar ponsel, di mana ia menelepon Lilia beberapa kali tak juga diangkat, mengirim pesan pun tak dibalas. Rasanya hati Welly terasa sakit, baru pertama kali ya diabaikan seorang wanita yang menjadi impian hidupnya, untuk menjadikan pendamping dan ibu untuk calon anak-anaknya nanti.

__ADS_1


"Kenapa kamu tak mengangkat panggilan teleponku Lilia, ada apakah gerangan."


Welly kini memutarbalikkan tubuhnya, untuk menaiki lift apartemen. Ia berjalan perlahan, menunggu lift itu turun ke bawah.


Welly berencana untuk menunggu di dalam mobil saja, karena jika ia menunggu di depan pintu apartemen Lilia, pastinya ia akan berdebat dengan Carlos.


Banyak mencari alasan untuk menang dalam perdebatan mereka berdua.


Carlos mulai berdiri untuk pergi dari apartemen milik sang dokter, percuma menunggu begitu lama. Jika tidak ada respon sedikitpun dari Lilia, Carlos berjalan gontai, terasa berat dan lemas. Karena sang pujaan hati mengabaikan dirinya begitu saja.


Carlos merasakan sakit hati yang baru saja ia rasakan, setiap kali berhubungan dengan seorang wanita. Tak pernah merasakan rasa sakit, Carlos selalu enjoy dan merasa senang jika diputusin oleh sosok seorang wanita yang tak menyukai dirinya.


Karena memang ia tipe lelaki tak tahu diri yang selalu gonta-ganti wanita setiap kali ia menginginkannya.


Namun dengan Lilia, amat sangat berbeda. Bagaimana tidak berbedanya, Lilia berbeda sekali dengan wanita-wanita di luar sana, sang dokter itu terlihat begitu santai dan juga jutek.


Tentulah membuat Carlos yang melihatnya terpesona dan juga menginginkan Lilia untuk menjadikan dia sebagai seorang istri.


"Lilia, apa kamu tidak bisa menjawab sekarang saja, siapa lelaki yang akan kamu pilih. Aku benar-benar penasaran dengan jawaban kamu saat ini, semalaman ini aku tidak bisa tidur. Resah karena takut jika kamu tidak memilihku, mungkin saat itu aku akan mati rasa." Ucap Carlos berjalan keluar dari apartemen.


Welly berusaha menyembunyikan dirinya sendiri, iya tak mau jika Carlos melihat dirinya ada di depan parkiran apartemen milik Lilia.


Namun, Carlos mengerutkan dahi, sedikit menyipitkan kedua matanya, melihat mobil yang terasa tak asing bagi dirinya.


"Seperti kenal dengan mobil itu, apa dia. Welly."


Welly yang sengaja bersembunyi di dalam mobilnya, berharap tidak diketahui oleh Carlos.


Carlos yang sudah menyalakan mesin mobil, tiba-tiba saja menyoroti senter pada mobil Welly.


Welly mengira jika sahabatnya itu sudah pergi, saat mendengar mesin mobil dinyalakan, tapi kenyataannya Carlos menghampiri, mengetuk kaca mobil, meminta Welly untuk keluar dari mobilnya.


Welly tak menyangka jika Carlos sejeli itu, bisa menyadari mobil milik Welly.

__ADS_1


__ADS_2