Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bba 87 Masa lalu Dwinda 12


__ADS_3

Dwinda mencoba mencari cara, untuk tidak terpancing akan omongan Edric yang terus memojokkannya agar berkata jujur.


"Sialan, dia semakin hari semakin membuat aku stress." Gerutu hati Dwinda, kedua tangan saling beradu mencoba mencari alasan. Agar tidak terpancing.


Dwinda memberanikan diri untuk menetap ke Edric, ia mencoba menjawab perkataan lelaki yang ada di hadapan." Bukannya dengan berpenampilan seperti ini, semua wanita akan terlihat nyaman di pandang lelaki dan terlihat sopan? Kenapa kamu selalu mensangkut pautkan penampilan dan kebaikan saya dengan ibumu? Saya hanya seorang wanita biasa yang diajak berteman dengan ibumu."


Mendengar hal itu tentu saja membuat Edric malah kehabisan kata kata, wanita yang ia benci selalu menampilkan sisi kelemahanya, tak pernah marah atau membantah.


"Sekarang apa yang kamu inginkan dari saya. Jika memang tak suka dengan saya, suruh ayah kamu tidak mempekerjakan saya di rumah ini."


Dwinda mencoba merendahkan hati, mengalah demi memenangkan perdebatan antara dirinya dengan Edric.


"Mm, jadi kamu mencoba memperlihatkan sisi kelemahanmu menjadi seorang wanita di depanku. Hebat."


Setiap kali Dwinda berlindung pada kepura puraannya Edric seakan tahu. Semua itu, ia benar benar luar biasa dalam melihat segala kejahatan dalam diri Dwinda.


"Sialan, punya apa sih dia. Sampai tahu kejahatanku."


Edric mulai menyuruh Dwinda untuk masuk ke dalam kamarnya, seperti memperlihatkan keramahan secara tiba-tiba setelah pemilik bola mata biru itu selalu menyalahkan Dwinda.


"Cepat masuk, aku ingin ada pelayan yang menjagaku saat aku dalam tahap pengobatan."


Salah satu pelayan bernama Maria kini menjadi seorang penunggu saat Edric tengah dalam pengobatan. Edric takut jika wanita bernama Dwinda itu melakukan hal yang tidak baik pada dirinya.


Jelas Dwinda tidak akan melakukan hal apapun, dia akan menjadi sosok wanita baik, saat belum menjadi istri CEO. Setelah sah menjadi istri CEO, saat itulah sosok Dwinda akan bangkit lagi.


"Edric, kamu memang menyebalkan." Gerutu hati Dwinda.


Wanita itu masuk ke dalam kamar Edric, terlihat ada pelayan yang menunggu di dalam. Seperti biasa Dwinda menampilkan diri sebagai seorang dokter saat mengobati Edric.


Menjalankan terapy dan menyuntikkan sebuah obat yang malah memperlambat kesembuhan Edric.


Setiap hari itulah dilakukan Dwinda, hampir membuat dirinya bosan. Berangkat pagi dan pulang sore dengan bayaran yang lumayan besar, Dwinda puas, walau dalam satu bulan ia mengobati Edric. Dirinya sudah bisa membayar biaya rumah sakit sang mamah dan mencukupi hari harinya.

__ADS_1


Terkadang ia selalu mencari kesempatan untuk mendekati Ellad, mengirim pesan hingga terkadang Ellad selalu mengatakan kekagumannya pada Dwinda.


Ellad baru kali ini mengajak Dwinda untuk makan malam bersama, ia terus mencari kesempatan untuk merayu Ellad, sampai dimana puncak pertahanan Ellad rapuh.


"Dwinda, bagaimana perkembangan anak saya dalam kelumpuhannya."


"Edric sekarang sudah lumayan membaik, hanya saja tidak butuh waktu yang sebentar, mengobati kelumpuhan Edric untuk menjadi normal kembali."


"Sebagai seorang ayah aku terlalu sibuk mengurus Edric, sampai semuanya kuserahkan padamu."


"Pak Ellad, tidak usah kuatir. Mengurus pasien seperti Edric sangatlah mudah. Bapak jangan kuatir. Oh ya, saya lihat bapak belum memiliki pasangan hidup?"


Sontak pertanyaan Dwinda, tentu membuat Ellad terdiam membisu, bagaimana bisa Dwinda menanyakan hal yang tak mungkin di dapatkan lagi.


Separuh hatinya seakan hilang, semenjak Maya meninggal dunia, kini hanya kesibukan dalam pekerjaan yang selalu menemani hari-hari Ellad, agar tidak merasa bosan saat sosok seorang penyemagat tidak berada di samping.


Dwinda seperti mencari kesempatan dalam kesempitan, disaat seseorang tengah bersedih, Dwinda memberanikan diri mengatakan perasaan yang sebenarnya tidak ada dalam dirinya.


Ia hanya meluruskan rencananya dan juga keberhasilan untuk mendapatkan Ellad, membuat lelaki di hadapannya menderita.


Mendapatkan sentuhan dari Dwinda, tentu saja membuat sang CEO terkejut.


"Izinkan saya menjadi pengganti di dalam hati anda."


Deg ....


Ellad merasa heran dengan gadis di hadapannya, mana mungkin sosok Dwinda bisa mencintai Ellad yang hanya seorang sosok lelaki tua bangka.


"Jangan bercanda kamu, Dwinda?"


Ellad mempertanyakan semuanya, ia tetap saja tak percaya akan ucapan Dwinda.


" Untuk apa saya bercanda, saya ini berkata serius!"

__ADS_1


Dwinda berusaha meyakini lelaki tua di hadapannya.


Ellad tak percaya diri, ia melepaskan genggaman tangan dari Dwinda. Menundukkan pandangan," Sudah Dwinda. Saya tidak bisa menikahi gadis belia seumuran anak saya, rasanya tak pantas."


Dwinda berusaha dengan keras, ia kini meraih kembali tangan Ellad," Kenapa tidak bisa, Pak. Kalau saling cinta semua bisa menjadi sepasang suami istri."


Ellad, terlihat gugup. Ia melepaskan kembali genggaman erat kedua tangan DWinda, berdiri dan berpamitan pergi kepada gadis yang berada di hadapannya.


"Saya pulang dulu, apa kamu bisa pulang sendiri."


Ellad benar-benar pergi saat itu, ia tak memperdulikan Dwinda yang masih duduk di kursi restoran.


Menarik napas kasar, Dwinda memukul meja, sampai pengunjung di restoran itu menatap dirinya.


Ellad pergi dan sudah menaiki mobil, sedangkan Dwinda pulang dengan menaiki taksi karena sudah di tinggal pergi.


Kedua tangan Ellad bergetar, hatinya masih dalam rasa kebingungan. Antara ingin dan takut, karena mencintai gadis seperti Dwinda tentu tidak akan di setujui oleh Edric.


Pagi hari, kejadian semalam begitu memilukan. Ellad kini bertemu kembali dengan Dwinda, terlihat Dwinda masih menampilkan wajah ramahnya di hadapan Ellad, ia berusaha menggoda kembali sang CEO. Agar bisa jatuh kepelukannya.


Walau tak muda, ia akan berusaha menjerat Ellad sampai dapat.


Ellad tampak gugup, sebagai seorang lelaki tua merasakan jatuh cinta lagi itu adalah hal memalukan, apalagi Ellad sudah berumur empat puluh lima tahun dan mempunyai anak remaja.


"Pak Ellad, selamat pagi. Saya mau mengontrol kesehatan Edric hanya saja. Edric lagi tidur, saya mau keluar sebentar." Pamit Dwinda. Dengan senyuman mengoda. Tentulah lelaki tua kesepian itu terpancing dan ingin memiliki senyuman manis dan bibir tebal milik Dwinda.


Langkah yang terlihat segaja berjalan pelan, membuat Ellad memanggil nama Dwinda.


"Dwinda."


Senyuman terlukis pada bibir tebal Dwinda, ia melirik ke arah Ellad dan menjawab dengan nada lembut dan kedua mata yang berbinar." Ada apa, Pak?"


Jarak umur mereka memang jauh berbeda, tapi hati Ellad tak bisa dibohongi, ia terpana akan cantik dan keagunan yang dimiliki Dwinda.

__ADS_1


"Saya mau meminta maaf pada kamu masalah semalam, saya tega meninggalkan kamu sendirian di restoran. Apa kamu tidak marah?"


Dwinda memperlihatkan sisi kelembutan untuk seorang wanita, ia mendekat dan berkata." Untuk apa saya marah, jelas saya yang harusnya minta maaf pada anda. "


__ADS_2