Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 141 Di rumah Edric


__ADS_3

Lucky tiba tiba saja panik sendiri, padahal sekarang dia sudah mengganti semua penampilan yang menjadi lelaki utuh," bodoh, ngapain coba panik, kan tahu sendiri. Mereka itu bahan kejailanmu."


Memukul jidat, Lucky mulai melangkahkan kaki kembali, untuk segera membuka pintu depan rumah. Edric dan Aira pastinya masih sibuk berdebat prihal mandi, jadi mau tidak mau Lucky harus membuka pintu rumah Edric.


Perlahan berjalan, tangan Lucky kini memegang clop pintu. Kedua lelaki tampan dengan badan kekar, wajah cerah. Mereka perlihatkan untuk bertemu sang pujaan hati, terlihat Carlos dan juga Welly berlagak sok keren, yang membuat Lucky melihatnya tambah jijik dan ngeri.


Carlos menurunkan sedikit kaca matanya, melihat sosok lelaki membukakan pintu. Dahi mengkerut dan bertanya." Kamu siapa?"


Lucky ingin sekali tertawa dengan pertanyaan bodoh Carlos, kalau sekarang Lucky jawab ia adalah Lilia pastinya mereka tidak akan percaya, jadi lebih baik Lucky diam saja terlebih dahulu dan nanti jika saatnya berkumpul. Baru Lucky mengatakan semuanya.


"Sepertinya akan seru." Mengangkat kedua alis, tersenyum lebar. Welly yang melihatnya merasa aneh." Heh, ngapain kamu senyum senyum begitu. Ih. Najis."


Perkataan Welly sedikit pedas, dia tidak tahu saja. Dokter yang ia cintai dan kagum kagumi sosok seorang lelaki.


"Oh, saya hanya bersikap ramah."


Suara Lucky sudah berubah, hanya tubuhnya yang masih terlihat mulus bak percis seperti wanita pada umumnya.


"Ramah, idih. Kamu tak selevel dengan kami, paham! Oh ya, aku lihat kamu percis si Lucky ya," ucap Welly, mendekat. Laga sombongnya masih sama seperti dulu tak berubah.


"Ya sudah, biar saya panggilkan pemilik rumah ini, jadi kalian berdua tunggu di luar ya," balas Lucky, masih tetap mempelihatkan sisi keramahnya. Walau tak di anggap sedikit pun.


Carlos dan Welly seakan tak terima dengan perkataan Lucky, mereka langsung menerobos begitu saja ke dalam rumah.


Lucky dibuat kesal oleh mereka, karena sifat jelek Carlos dan Welly yang keterlaluan.


"Edric, Aira."


Kedua insan tengah berdebat, ternyata sedang asik memainkan air. Hampir saja mereka los, untuk Aira sadar karena ia masih dalam masa nifas.


"Kamu dengan tidak?" tanya Aira, setelah mengosok punggung sang suami dengan batu bata.

__ADS_1


Dimana Edric sedikit meringis kesakitan." Pelan pelan, memang tidak ada cara lain selain pake itu, kan aku bilang ada lulur mandi. Palingan itu si Carlos dan Welly."


Bukannya merasa kasihan, melihat punggung Edric merah, Aira malah semakin mengosok punggung Edric." Alah, sudahlah. Tak usah pake lulur mandi segala, batu bata ini di kampung sangat lah ampuh mengusir daki. Dan kotoran di kulit. Nanti punggung kamu bakal mengkilat. Oh ya ngapain coba mereka ke sini pagi pagi sekali, seperti tidak ada kerjaan saja."


" Aduh, pelan sayang. Kulitku lecet nanti, kamu kaya enggak tahu aja mereka itu."


Aira langsung mengigat Lucky, hingga ia tersenyum dan membalas." Ya, lupa aku."


Selesai memandikan Edric, sang suami. Aira mulai membopong tubuh anaknya.


"Jadi apa nama anak kita?" Aira bertanya, saat suaminya keluar dari dalam kamar mandi.


"Aku kasih nama Erlangga. Bagaimana!" jawab Edric, masih sama. Memberi nama dalam awalan hurup E.


"Hurup E lagi, " ucap Aira menepuk jidatnya. Terlihat Aira sudah pasrah dengan pemberian nama anaknya.


Hanya karena nama anak mereka berdebat sampai seharian, " ya gimana lagi, nama E kan lambang keluarga CEO. Jadi mau tidak mau harus awalan E."


Dengan terpaksa Aira mengalah, ia sudah bosan berdebat. Edric melihat punggungnya, memerah. Membuat sang CEO beranak satu ini sedikit syok.


"Mau ngapain?"


Tanya Edric masih bercermin, ia menelan ludah. Seperti ketakutan, masih ada rasa trauma dalam diri Edric setelah tanda merah pada punggungnya.


"Mau cukur kumis kamu yang semakin hari semakin memanjang!"


Jawaban Aira tentulah membuat Edric terburu buru memakai baju dan keluar dari dalam kamar.


Ia berjalan dengan langkah cepat dan pergi untuk menemui Carlos, Welly," Sayang loh, kamu mau ke mana?"


"Aduh sayang, tak usah repot repot mengurusku. Kumis ini biar nanti aku saja yang cukur ya. Sekarang kan ada Welly dan Carlos, tak enak lah sama mereka!"

__ADS_1


Menutup pintu, Bruk .... Berjalan sembari menuruni anak tangga, "Sayang, kan aku sudah bilang ada Lucky ini."


Teriakan Aira tak di gubris sama sekali oleh Edric, ia tetap melangkahkan kaki menjauh dari istrinya.


Welly tersenyum melihat Edric turun dari anak tangga, mereka berdua tak sabar ingin menanyakan Lilia sang dokter cantik yang sudah mengkoyahkan hatinya hingga sekarang.


Sampai mereka rela mati matian bersaing agar bisa mendapatkan sang pujaan hati, " Lilia mana, Drik?" tanya Carlos merapikan kerah baju, agar nanti saat bertemu dengan pujaan hati, Carlos yang jadi pemenangnya.


Edric telihat ragu untuk mengatakan kebenaran. " Lilia .... Sebenar ..... "


Welly dan Carlos menunggu balasan Edric, hingga Lucky datang memotong obrolan mereka bertiga, agar suasana tak mencerkram dan sedih. Katika semua terungkap sudah.


"Oh ya, bagaimana kalau kita sarapan dulu, agar obrolan nanti terasa nyaman," timpal Lucky, membuat kedua lelaki berparas tampan dengan dandanan rapi mereka, terlihat kesal. Karena Lucky tiba tiba berucap di saat Edric mengatakan keberadaan Lilia.


Lucky berusaha memberi kode agar Edric tak mengatakan kejujuran terlebih dahulu.


"Oh ya, benar. Sebaiknya kita sarapan dulu, biar nambah tenanga, kebetulan aku lapar sekali."


Mereka berdua menarik napas, berusaha tetap tenang, agar tidak tersudut emosi. Walau sebenarnya kedua lelaki itu tak sabar ingin bertemu dengan Lilia, sang dokter cantik yang akan menerima salah satu dari mereka.


"Oh, ya. Kalian duduk duluan ya, kebetulan ada Lucky. Di sini, " ucap Edric. Kepada kedua sahabatnya.


Mereka sudah menduga jika lelaki bertubuh lembek itu adalah Lucky.


"Heh, aku nggak nyangka kita bertemu lagi di rumah Edric, sudah berapa lama kamu tinggal di sini. Reuni kenapa kamu tak datang?" tanya Carlos, lelaki yang banyak bicara.


Lucky malas menjawab pertanyaan kedua lelaki yang songong dihadapannya, ia berusaha menahan rasa kesal, menyuruh keduanya untuk duduk.


"Silahkan duduk." ucap Lucky simpel.


Welly selalu usil dalam hal apapun, ia mencolek pipi Lucky, dan berucap, " heh Carlos nanya sama kamu dari kapan kamu di sini. "

__ADS_1


Mereka berdua tetap bersikukuh ingin tahu, sejak kapan Lucky berada di rumah Edric." Hah, kalian ini, aku di sini dari semalam. Memangnya kenapa?"


Welly tersenyum dan kini tertawa, menatap ke arah Lucky dan menjawab." Idih, biasa aja kali, orang pada nanya juga biasa aja, kagak sewot."


__ADS_2