Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 99 Pertama kalinya


__ADS_3

Mereka bertiga mulai menikmati makan malam yang kini sudah tersaji di atas meja.


Terasa lengkapnya kebahagiaan keluarga Ellad saat ini, walau tak ada seorang wanita menemani Ellad di sampingnya.


Bagi dirinya, melihat kebahagiaan seorang anak adalah hal yang utama. Di usianya, Ellad ingin menghabiskan waktu bersama anak-anaknya, menghilangkan rasa egois. Untuk berusaha tidak jatuh cinta lagi terhadap seorang wanita.


"Loh, Daddy malah melamun? Apa ada yang dipikirkan?" Aira begitu perhatian terhadap mertua lelakinya, ia selalu bertanya di saat Ellad terlihat bersedih.


Aira terkadang mengingatkan Ellad pada Maya, karena perhatian Aira begitu sama dilakukan Maya di waktu Maya masih hidup.


Beruntung sekali Edric mendapatkan sosok seorang wanita seperti Aira.


"Sudahlah, Daddy itu jangan banyak ditanya. Dia itu lagi merenung, karena memikirkan nanti malam tidak mempunyai seorang teman tidur."


Perkataan Edric membuat sang ayah memukul kepalanya lagi," Sembarangan, kata siapa? Sok tahu."


Edric mengusap kasar kepalanya, merasakan sakit yang lumayan terasa, membuat kepalanya berdenyut karena merasakan pukulan beberapa kali dari sang ayah. Aira hanya sebagai menantu, tersenyum kecil, menahan tawa melihat kerusuhan antara anak dan ayah yang seperti anak kecil.


"Ya terus, kalau Daddy memang punya teman tidur, siapa coba? kok bilang Edric sok tahu. Halu ini Daddy!" jawab Edric dengan kekoyolannya sebagai seorang anak.


"Heh, itu guling kan teman tidur, Daddy. Jangan bilang nggak punya teman tidur," ucap sang ayah. Membuat Aira membulatkan kedua mata begitupun dengan Edric tertawa terbahak-bahak.


"Daddy, masa guling teman tidur, " sindir Edric merangkul bahu sang istri, memperlihatkan Kemesraan kedua insan itu." Kalau teman tidur tuh kaya gini, bukan guling. Haduh, " tawa semakin keras terdengar dari mulut Edric.


"Terserah kamu saja lah, " ucap sang ayah mengaku kalah dengan sindiran anaknya, tanganya, menahan dagu.


"Apa kalian bahagia, jika Daddy seperti ini," balas sang ayah. Tentu saja membuat kedua insan itu menatap Ellad dengan penuh kebingungan.


Edric menggelengkan kepala dan menjawab," bagaimana pun Daddy, kita tetap suka dan sayang pada Daddy."


Menarik napas mengeluarkan secara perlahan, Ellad tersenyum akan perkataan anaknya," apa itu caranya mengoda, seorang Daddy."


Edric yang biasanya tampil keren dan berkarisma, sekarang malah menampilkan bibirnya, ia buat seperti mulut ikan yang tengah benapas.


Aira menutup mulut suaminya dan berkata," nggak lucu jelek."


Menyingkirkan tangan, mencium kening Aira.

__ADS_1


Aira hanya melihat sisi luar seorang CEO yang terkenal dingin dan jarang bercanda. Tapi dengan Edric ia sederhana dan tak suka terlihat cool di depan orang lain.


Walau memang Edric dari segi manapun sudah terlihat karismanya, karena ketampanan asli dari seorang Ellad keturunan bule.


Ellad yang jarang tertawa, kini memperlihatkan kekocakanya, ia tertawa senang melihat kedua anak anaknya bahagia. Setelah kasus Dwinda terungkap. Ellad malah semakin mengerti, jika hidup tak usah menuruti kata egois.


Ia melihat layar ponsel, mengigat perkataan Dwinda tentang ibunya yang berada di rumah sakit jiwa. Besok Ellad akan menemui wanita yang menjadi ibu Dwinda," mm. Daddy kenyang, bagaimana kalau kita pulang."


"Ya sudah, ayo."


*********


Di rumah pelayan tengah mengadakan hiburan semata, memakan daging dan juga menyalakan musik. Mereka menari menikmati alunan musik.


Maria dan Ratna seperti terlepas dari penjara, akan tahanan, siksaan Dwida seenaknya.


"Aku bersyukur, si Dwinda itu membekam di dalam penjara, mudah mudahan saja, ia kekal di dalam penjara. "


"Iya aku juga sama. Mengiginkan begitu, Si Dwinda kekal di penjara, kalau bisa sampai mati saja."


"Ya benar."


Para tahanan sudah tertidur, sedangkan ia sedirian meratapi nasibnya.


"Kenapa aku malah kalah dengan si Ellad itu, harusnya sekarang aku menang," gerutu Dwinda, mengacak rambut yang sudah berantakan. Perasaanya kesal, hatinya bercampur aduk menjadi satu.


Seorang tahanan bangun, ia melihat Dwinda memangis, menghampiri wanita itu.


Menendang badan Dwinda, hingga meringis kesakitan.


"Heh, tidur. Bukan nangis," bentak tahanan itu pada Dwinda.


Wanita pemilik bola mata coklat itu menatap tajam ke arah sang tahanan. Tentulah membuat Dwinda tak bisa menahan amarah.


Ia mengacak rambut sang tahanan, menarik hingga membenturkan pada tembok.


"Bisa tidak kamu jangan merusak suasana hatiku." Dwinda nekad, menyakiti sang tahanan, ia sengaja membuat tahanan itu kesakitan karena sudah berulah dengan menganggu kesedihannya.

__ADS_1


"To-lo-ng."


Sang tahanan itu berusaha meminta tolong pada sahabatnya, agar bisa selamat dari siksaan Dwinda.


Namun karena Dwinda menyumpal mulutnya, mematahkan kedua tangan sang tahanan, dan.


Beberapa kali, memukul wajahnya, Lalu ia memukulkan kepalanya hingga keluar darah.


Entah kenapa di situasi mecangkramkan yang dilakukan sang pemilik bola mata coklat itu tidak disadari oleh para tahanan yang tengah tertidur pulas di dalam penjara.


"Kamu berani lagi padaku."


Tak segan segan, Dwinda membuat sang tahanan mati, ia melupkan kekesalannya dengan mengambil pisau yang selalu di bawa teman sang tahanan.


"Kamu tahu ini apa?" tanya Dwinda. Wanita itu sudah tak berdaya lagi, di kesempatan itu, Dwinda menusukkan pisau pada dada sang tahanan dengan begitu sadis.


Tahanan itu terkulai lemah di atas lantai, hingga menghembuskan napas terakhirnya, sang pemilik bola mata coklat itu berusaha menghindari tuduhan. Menghindari barang bukti, menyimpan pisau yang selalu dipakai teman sang tahanan ke tempatnya kembali, Dwinda membasuh semua darah yang menempel pada tangannya.


Polisi tidak ada yang menyadari aksi pembunuhan itu, hanya ada satu teman dalam sel tahanan berpura-pura tidur dan tak melihat kejadian mengenaskan yang dibuat oleh Dwinda.


Ia mencoba untuk tidak ikut campur, Iya ketakutan dengan berpura-pura tidur. Selesai membersihkan diri, ia kembali duduk untuk tertidur, sembari menatap perlahan mayat yang sudah tak berdaya.


Dwinda memastikan tidak ada orang yang melihat pembunuhannya, dia berusaha Tetap tenang membuat tahanan itu tidak terlihat seperti orang mati.


Pagi hari, Dwinda bangun. Terlihat para tahanan membangunkan wanita yang ia bunuh tadi malam.


Jeritan para temanya, membuat semua orang bangun dan melihat ke arah teman yang sudah tak bernyawa.


"Ada apa ini. "


Pagi sekali sudah di hebohkan dengan kematian salah satu pelayan, Dwinda hanya duduk di ujung melihat segerombolan pengecut baginya, ia medelik kesal, mengepalkan tangan.


"Sialan, kenapa mereka berkumpul seperti itu, membuat pengap rasanya di ruangan ini."


Polisi mengamankan tahanan yang lainnya, untuk ditanyakan kematian tahanan lain, mereka dibawa ke ruang pertanyaan.


"Cepat keluar. "

__ADS_1


Dwinda seperti sampah yang digiring begitu saja, hidupnya kini penuh tekanan, tak ada kebahagian menghampirinya.


__ADS_2