Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 74 Kepulangan Ellad


__ADS_3

Dwinda berjalan keluar dari kamarnya, hatinya merasa hancur. Tubuhnya lemas, ia merasa tak ada arti lagi hidup di dunia, setelah kejahatanya terungkap.


Lina dan juga Maria, bersembunyi didekat tembok, melihat wajah penuh kesedihan sang Nyonya.


"Enak baru tahu rasakan, menderita."


Maria kini menarik tangan Maria untuk segera tidur dan beristirahat, " ayo kita tidur."


Dwinda yang merasakan rasa lemas karena memikirkan Ellad, berteriak memanggil para pelayan di rumah.


Pelayan yang sudah tidak suka dengannya, hanya bisa mengabaikan Dwinda, dimana sang Nyonya berteriak. Meminta dibuatkan kopi.


Berkacak pinggang, Dwinda kembali berteriak." Kemana para pelayan di rumah ini."


Karena tak melihat para pelayan, pada akhirnya Dwinda berjalan pergi menuju ke dapur ia membuat kopi untuk dirinya sendiri. Dengan rasa kesal dan juga perasaan tak menentu.


"Dasar pembantu tak berguna. Aku pecat baru tahu rasa kalian." Setelah selesai membuat kopi, Dwinda mulai pergi untuk segera menikmati kopi yang ia buat."


Berjalan gontai, terlihat Dwinda merasa tak senang. Ia menangis mengigat Ellad bersama wanita yang mengangkat panggilan teleponnya.


*********


Sasa masih berada di kamar hotel, ia tersenyum senang setelah mendapat mangsa baru. Perasaanya lega, melihat isi dompet Ellad begitu penuh dengan uang berwarna merah.


"Wah, sepertinya dia orang kaya. Yes."


Sasa mengambil semua uang pada dompet Ellad, beranjak berdiri, tangan lelaki berambut putih memegang tangan Sasa.


Membuat wanita itu terkejut," ahk sial, kenapa dia menahan tanganku."


"Mau kemana kamu?" tanya Ellad tak sadarkan diri, Sasa langsung menyingkirkan tangan sang CEO.


"Dasar tua bangka, emang enak uangnya aku habiskan," ucap Sasa, terburu buru pergi dari kamar hotel yang di tempati Ellad.


Ia tersenyum dalam kebahagian dan berkata." Wah, senangnya kalau begini kan enak. Bisa makan enak, soping dan jalan jalan."


*******


Pagi hari Ellad bagun, memegang kepala merasakan rasa pusing." Ahk."


Sudah lama baru meminum minuman keras lagi, kini perasaanya sedikit lega. Ia merasa bahwa tadi malam ada seorang wanita yang menemaninya tidur.


Tapi sekarang wanita itu tidak ada dihadapanya," kemana wanita tadi malam ya. Padahal dia masuk tanpa seizinku dan sekarang menghilang tiba tiba."

__ADS_1


Ellad mulai memegang ponsel, melihat isi ponselnya apa Edric menelepon. Saat melihat tak ada sang anak menelepon atau mengatakan kabar, begitu pun dengan Andi. Sang suruhan tak membalas pesan dan telepon dari Ellad.


Ellad hanya melihat pesan dari Dwinda, tentu membuat ia malas membalas pesan dari istrinya sendiri.


Lelaki tua itu kini beranjak turun dari ranjang tempat tidur, untuk segera membersihkan tubuh yang tercium bau keringat dingin.


*******


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Dwinda masih tertidur, terlihat dari bawah mata yang menghitam.


Wanita pemilik bola mata coklat tak sanggup lagi menahan perasaan sedihnya, hingga ia bangun dan menangis lagi.


"Ellad, kenapa kamu belum pulang juga. Aku kuatir terhadap kamu, tega sekali kamu Ellad?"


Teriakan Dwinda di dalam kamar tidur.


Maria masih mendegar teriakan dari dalam kamar


sang nyonya, dia bergegas membawakan makanan untuk Dwinda.


Tok .... Tok ....


Beberapa kali ketukan pintu dilayangkan oleh Maria, Dwinda tetap saja tak merespon. Membuat ia dengan terpaksa membuka pintu kamar sang majikan.


"Nyonya."


"Nyonya."


Sampai Maria menyalakan lampu kamar Dwinda, terlihat wanita itu tengah duduk dengan rambut berantakan.


"Ahkkk." Berteriak Maria begitu kaget dengan penampakan Dwinda yang terlihat berantakan.


"Maria, berisik. Kenapa kamu malah berteriak di sini, sana kehutan," ucap Dwinda. Mengusir Maria.


"Nyonya, maaf sebelumnya, saya bawakan sarapan pagi untuk nyonya," balas Maria. Menaruh makanan pagi untuk sang Nyonya.


"Ya sudah, cepat kamu pergi sana," usir Dwinda. Tak suka dengan kedatangan pelayan.


Ia melihat jam pada dinding kamarnya, menujukkan pukul delapan pagi, Ellad belum juga kembali, membuat perasaan semakin tak menentu.


"Kemana Ellad, kenapa dia tidak pulang juga." Dwinda mulai memaksakan diri untuk mandi, ia takut jika Ellad pulang. Berdandan rapi agar bisa meminta penjelasan pada suaminya tadi malam.


******

__ADS_1


Ellad keluar dari kamar hotelnya, ia segera mungkin mengendarai mobil, sedangkan Sasa berdiri melihat kepulangan lelaki semalam yang ia temani.


"Wah, benar dugaanku. Ternyata dia itu cowok tajir, pantas saja duitnya banyak. Kira kira dia bakal balik lagi ke hotel nggak ya, kalau balik lagi jadi untuk besar buatku, rasanya tak sabar deh. Buat mangsa baru lagi," ucap Sasa saat melihat kepergian mobil Ellad yang sudah menjauh.


Wanita berambut panjang dengan tinggi badannya yang semampai, menggengam kartu nama Ellad. Wanita itu ternyata mencuri kartu nama Ellad dengan sengaja.


*******


Dwinda mulai keluar dari kamarnya dengan dandanan yang sudah sangat rapi, untuk segera menyambut kedatangan sang suami, karena ia tahu jika meluluhkan Ellad dengan memanjakan kepulanganya.


"Semoga ini berhasil, aku bisa menaklukan hati Ellad, setelah ia tahu rencana busukku."


Dwinda menunggu kedatangan sang suami di depan rumah, sembari membaca majalah kesukaannya, terlihat sekali wajah bahagia Dwinda tampilkan untuk suaminya.


Beberapa menit menunggu, akhirnya Ellad sampai juga di rumah.


"Ellad sudah pulang."


Dwinda berdiri, merapikan bajunya. Begitupun dengan rambut yang sengaja terurai. Pemilik bola mata coklat, mendekat ke arah Ellad, saat lelaki berambut putih itu turun dari dalam mobil.


Terlihat sekali Ellad tak merespon panggilan Dwinda, ia pergi melewati istrinya dengan raut wajah juteknya.


Senyuman untuk Ellad yang sudah di persiapkan Dwinda dari tadi pagi, tiba tiba memudar. Hilang tanpa jejak sedikit pun. Ellad mengabaikan istrinya dengan begitu cepat berjalan pergi.


"Papih. Kamu kenapa sih, kok wajahnya cemberut gitu saat liat mommy." Dwinda memperlihatkan kemajaanya di depan Ellad, dengan harapan jika Ellad mengasihaninya.


Namun ternyata, Ellad malah lebih cuek. Dia pergi dengan berjalan lebih cepat dari biasanya, agar Dwinda tak sanggup mengejar Ellad.


"Papih."


Langkah yang begitu cepat, mampu membuat Dwinda terjatuh karena memakai hak tinggi.


"Ahk, sakit. Papih."


Teriakan dan rengekan rasa sakit akibat terjatuh di abaikan Ellad, Dwinda kini di tertawakan para pelayan di rumah. Melihat betapa menyakitkannya saat terjatuh.


Dwinda berusaha berdiri, ia ingin mengejar kembali Ellad." Papih, tunggu mommy."


Dwinda menatap ke arah para pelayan, menyuruh mereka untuk membangunkan Dwinda karena sudah tak sanggup berdiri.


"Heh, kalian. Kenapa diam saja, cepat bantu aku berdiri." Perintah Dwinda di abaikan para pelayan, mereka pergi menjauh untuk menjalankan tugas masing masing.


"Heh, kenapa kalian malah pergi. Dasar pelayan bodoh cepat kembali." Teriak Dwinda. Tanpa ada satu pelayanpun yang berani mendekat ke arahnya .

__ADS_1


__ADS_2