Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 118


__ADS_3

Ibunda Siska yang bernama, Ibu Iren, berjalan cepat ke arah Siska, terlihat ia begitu gelisa. Takut jika Siska merasa sedih kembali.


"Siska."


Membuka pintu kamar, Siska ternyata tertidur sembari mengigau, " Siska."


"Kasihan sekali kamu nak, sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan kamu, sampai kamu menjadi seperti ini?"


Bu Iren mengusap pelan rambut kepala anaknya, menenangkan dari kegelisahan di setiap tidur Siska.


**********


Pagi menjelang, Siska bangun dari tidurnya terlihat kedua matanya bengkak, karena habis menangis.


Sang ibu berusaha menampilkan senyumannya, menyemangati anak perempuan satu satunya itu.


"Kamu yakin nak, mau pergi ke ngajar?"


"Yakin, mam. Aku harus mengecek hasil skripsi anak anak!"


"Mm, ya sudah. Kalau begitu."


Bu Iren tak bisa melarang anaknya, ia takut jika membatasi aktivitas anaknya, malah membuat Siska tak bisa melupakan kesedihan.


Menjadi sang ibu hanya bisa mendukung sang anak tak bisa berbuat lebih, Iren belum bertanya pada anak semata wayangnya itu, kenapa ia terlihat begitu frustasi.


Apa penyebab permasalahannya saat ini.


Wanita berbadan raping, dengan baju yang biasa ia pakai ke kampus, membuat langkahnya sedikit ragu.


"Kenapa?"


"Tidak kenapa kenapa kok, mam!"


Siksa mencoba melebarkan senyuman, berharap jika senyuman itu diartikan sang ibu, jika dirinya baik baik saja.


Berpamitan pada sang ibunda, dan pergi melangkah menuju mobil yang akan ia kendarai.


"Hati hati ya, nak."


Dalam perjalanan menuju kampus, di dalam mobil Siska menangis kembali, membayangkan pujaan hatinya tengah bahagia bersama wanita yang menjadi istrinya.


Padahal ia membayangkan, jika dirinya yang bahagia bersama Edric, tapi pada kenyataanya, Siska malah menderita. Bayangan itu sirna sekitaka.


Hingga, suara teriakan terdengar .....


"Ahkk .... "


Ada korban tabrakan.

__ADS_1


*******


Sedangkan Edric terbangun di pagi hari, ia sudah bersiap menyambut kedatangan dokter bernama Lilia.


"Rapi betul." Sindir Aira, membuat Edric tertawa.


"Nggak mau ya liat, suami sendiri memperlihatkan ketampanannya." balas Edric, membuat Aira berusaha menahan tawa, sebari menyiapkan sarapan.


"Mm, memang mau di perlihatkan sama siapa, toh istri sendiri yang selalu liat setiap hari, " ucap Aira, memang saat Edric terlihat begitu rapi, aura wajahnya begitu terlihat bersinar.


Wanita mana yang tak akan tahan, melihat ketampanannya itu. Pasti semua wanita tak akan kuat ingin memiliki Edric, seperti kejadian semalam. Dimana sang dosen di kampus, ternyata menaruh hati pada Edric.


Untung lelaki yang menjadi suami Aira itu, adalah lelaki tipe setia, tak pernah Aira melihat Edric ramah kepada wanita yang ia temui. Ia selalu bersikap dingin dan tak pernah peduli. Apalagi terlalu dekat dengan wanita mana pun.


Kecuali dengan istrinya sendiri, Edric selalu bercerita kegiatan apapun bersama istrinya. Tak ada waktu yang mereka habiskan, selain mengobrol bercanda, di waktu sesibuk apapun Edric selalu meluangkan waktu untuk Aira.


Suara bel berbunyi, Aira mulai membuka pintu rumahnya.


Terlihat sosok wanita yang kemarin datang dengan pakaian dokternya.


Aira lupa jika dia bukanlah seorang wanita asli, melainkan sosok wanita kw.


"Hai."


Terlihat sekali dokter yang bernama Lilia itu, menyapa Aira. Tapi Aira menatapnya sini, merasa geli, bagaimana bisa seorang lelaki normal mau menjadi seorang wanita.


"Silahkan masuk."


Ia terlihat begitu sempurna bagaikan seorang putri, karena operasi yang begitu berhasil membuat dirinya menjadi wanita seutuhnya.


Aira melipatkan kedua tangan, tak ada rasa cemburu sedikitpun, setelah tahu dokter itu adalah seorang lelaki.


Lilia mulai menerangkan pengobatan apa saja yang akan ia lakukan untuk menyembuhkan sahabatmu.


Edric berusaha mendengarkan dengan fokus. Walau sebenarnya ia merasa tak nyaman, karena Lilia yang terlihat seperti seorang wanita, membuat Edric merasa tak suka.


"Hem. Ini minumanya."


Aira dengan ramahnya menyediakan minuman dan juga makanan ringan untuk tamunya.


"Terima kasih."


suara sang dokter begitu persis seperti suara wanita, begitu hebatnya dokter zaman sekarang.


"Ya."


Lilia menyuruh asistennya untuk memasangkan alat untuk terapi kedua kaki Edric.


Aira begitu penasaran, dengan pengobatan yang dilakukan wanita setengah laki-laki itu.

__ADS_1


Pengobatan lumayan terasa berat bagi Edric, karena kelumpuhan yang sudah lama ia rasakan, apalagi banyak sekali obat yang diberikan Dwinda sang pemilik bola mata biru itu.


Saat terapi kaki, Edric menceritakan semuanya, dimana Lilia, terlihat bersedih dengan nasib sang sahabat.


"Apa aku bisa sembuh, Lucky."


"Husss."


Lilia tak suka jika nama aslinya disebut, yang menempelkan jari tangan pada bibir Edric.


"Hem."


Aira yang memperhatikan mereka berpura-pura batuk, dimana Edric menghempaskan tak jari tangan sahabatnya yang sengaja ditempelkan pada bibirnya.


" kalau sudah selesai terapinya langsung pergi saja ya," ucap Aira seperti tak suka dengan Lilia yang begitu dekat dengan suaminya.


Aira bergegas pergi meninggalkan tempat pengobatan suaminya yang khusus disediakan di dalam rumah.


"Sudah aku bilang, jangan dekat dekat."


Lilia menampilkan wajah genitnya di hadapan Edric, mendekat duduk di samping kiri.


" sepertinya istri kamu tipe cemburuan ya, Kayaknya seru nih."


"Ya elah, dia itu sudah tahu asli kamu itu apa?"


"Asli apanya!"


"Sudahlah Lucky, mengaku saja. Ngapain coba kamu menjadi wanita jadi-jadian seperti ini, emangnya kamu tidak ingin menikah seperti aku, memiliki seorang anak dan hidup bahagia."


Laila menampar bahu sahabatnya, berlagak sok seperti wanita yang kecentilan, mencubit kedua pipi sahabatnya itu." kalau kamu ngomong gini imut deh."


"Idih, kok aku geli ya punya sahabat macam kamu."


" Sudahlah sahabatku yang ganteng ini dan sukses ini, kamu jangan terlalu mengkhawatirkan aku. Toh ketika seorang wanita yang mau menerima aku apa adanya, pastinya aku akan berubah kok."


"Jadi kamu mau merubah dirimu jadi sedia kala."


Lilia menganggukkan kepala tersenyum lebar,


"Apakah ada? kok aku tak yakin ya, soalnya wajah kamu itu sudah persis seperti seorang wanita seutuhnya."


Lilia menampar pelan pipi sahabatnya, dengan berkata." walaupun aku ini seperti wanita, tetap saja keperjakaanku masih ada, apa kamu mau lihat seberapa besar di dalam sini."


Menunjuk rok pendek yang dipakai Lilia, malah membuat Edric bergidik geri, "Eh, punyaku ini lebih gede jadi tak perlu aku lihat punyamu."


"Ya aku percaya, tapi kalau kamu penasaran, sekarang juga boleh lihat kok. Mau apa tidak?"


"Idih, siapa juga yang mau melihat batang sama batang."

__ADS_1


Lilia tertawa terbahak-bahak, menampilkan suara aslinya. Aira yang mendengar tawa seperti lelaki itu terburu-buru datang melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Ketika sampai di ruangan khusus pengobatan suaminya, tepat melihat sang suami dan sahabat jadi jdiannya membuat Aira terkejut.


__ADS_2