
"Sebenarnya saya tidak tahu setelah melakukan hal yang terlarang Aini sampai hamil, " ucap Hasan, ada rasa sesal yang mendarah pada hatinya, setelah mendengar kata umpatan dari Aini bahwa dirinya adalah seorang lelaki baj*ng*n.
"Memangnya Pak Hasan tidak pulang lagi ke desa, untuk menepati janji yang dulu Pak Hasan ucapkan untuk Ibu Aini?" tanya Edric, sang CEO muda itu menyimak cerita masa lalu sopirnya.
"Saya pulang saat menepati janji saya, hanya saja karena uang yang saya miliki tidak memenuhi sarat kedua orang tua Aini, saya di usir lagi oleh mereka bedua, tanpa Aini tahu!" jawab Hasan, air matanya tak terbendung lagi ia menangis di hadapan Edric.
Sang CEO muda seperti Edric tak pernah memandang rendah para pekerjanya. Ia selalu mengerti dan membuat para pekerja selalu senang saat berkerja di rumah atau menjadi sopirnya.
"Sepertinya ada kesalah pahaman yang terjadi antara kalian berdua. Kemungkinan besar penyebabnya kedua orang tua Aini, saya curiga mereka membuat akal akalan agar kalian tidak bersatu." ucap Edric, menebak semua cerita sopirnya.
Hasan menundukkan kepala dan membalas ucapan sang CEO, " apa yang dikatakan tuan memang benar, saya sudah berniat mengajak Aini kawin lari tanpa restu kedua orang tuanya. Namun sayang sekali, saat saya datang untuk menghampiri Aini tanpa sepengetahuan keluarganya, Aini sudah menikah dengan lelaki lain."
Edric mengambil ponsel pada saku celananya, ia kini mengirim pesan pada Laudia. (Apa ibu kamu sudah tenang, Laudia?)
Di saat Laudia, memeluk sang ibu. Ia melihat pesan pada ponselnya datang dari sang CEO.
Membaca pesan dan melihat raut wajah ibunya yang kini menatap jendela dengan perasaan kosong.
(Ibu saya sudah agak tenang, hanya saja ia terlihat tertekan saat melihat Pak Hasan.)
Balasan mulai diterima oleh Edric, sang pemilik bola mata biru itu membalas pesan Sekertarisnya.
(Sepertinya, saya tidak usah mempertemukan Pak Hasan dengan ibu kamu dulu, karena kondisi ibu kamu yang tak setabil.)
Membaca setiap baris kata, ada rasa kagum pada diri Laudia pada Edric. Tapi berusaha ia tepis, karena itu tak mungkin.
Tring, pesan datang lagi. Laudia melihat isi pesan dari Edric lagi. (Apa kamu tidak membawa ibu kamu berobat.)
Selama ini memang Laudia tak pernah membawa ibunya ke rumah sakit, karena biaya yang sangat mahal, membuat ia tak berani membawa sang ibu ke rumah sakit. Atau di tangani ke Psikiater.
(Saya tak berani membawa ibu saya. Untuk berobat, pak.)
Melihat balasan Laudia membuat Edric merasa heran tentunya.
( Kenapa?)
__ADS_1
Edric bertanya, hanya ingin mendengar alasan yang pasti, agar dirinya bisa membantu sampai Ibunda Laudia sembuh.
(Karena kendala biaya, pak. Apalagi saya baru memulai bekerja, dan saya belum mempunyai uang seperserpun. Apalagi bapak saya seorang pengangguran yang susah mencari kerjaan.)
Dengan sepontan, Laudia mengeluarkan unek unek yang ia rasa. Karena dengan cara ini mungkin mentalnya bisa tetap waras.
(Ya sudah, kalau hanya kendala itu. Saya akan bantu kamu, dengan syarat.)
Laudia, wanita bertubuh tinggi semampai itu, membulatkan kedua matanya saat membaca pesan dari sang CEO yang akan membantunya, hatinya merasa senang dan tentulah bahagia..
Hanya saja ada syarat yang belum ia ketahui, sampai memberanikan diri bertanya.( Syarat apa?)
(Syartanya yaitu, gaji kamu aku potong perbulan. Untuk membayar uang ganti berobat ibu kamu. Bagaimana?)
Laudia, hampir berperasangka buruk, ia mengira bahwa dirinya akan dijadikan istri Sang CEO, nyatanya tidak. Laudia terlalu berkhayal seperti di dunia novel.
Mengusap dada, menenangkan gejolak jiwa yang hampir terfanah akan kebaikanya.
Namun ternyata, kebaiknya hanya sekedar meminjamkan uang. Laudia merasa sedikit kecewa.
(Baiklah, pak.)
Edric masih bersama Hasan, lelaki tua yang terlihat sekali berharap pada Aini.
"Pak Hasan, tenang ya. Saya sudah menyuruh Laudia membawa ibunya ke rumah sakit, untuk pengobatan. Sepertinya Ibu Aini, mengalami ganguan kejiwaan, sampai ia tega melukai Laudia. " Ucap Edric menepuk punggung lelaki tua yang menjadi sopirnya itu.
Hasan berterima kasih sekali pada Edric, ia berharap jika Aini sembuh dan bisa menerimnya kembali.
"Oh ya, Pak Hasan?"
Sopir itu, berusaha membersihkan air matanya yang basah mengenai pipi, menjawab perkataan Edric." Iya pak, kenapa!?"
"Oh ya, tadi saya baca pesan dari Laudia, bahwa ibunya sudah mempunyai suami. kemungkinan besar kalau dia masih menikahi lelaki yang dijodohkan kedua orang tuanya dulu, jadi Pak Hasan jangan terlalu berharap dengan Bu Aini. Saya berharap Pak Hasan tetap fokus pada tujuan bapak kedepanya."
Nasehat yang terlontar dari mulut Edric hanya bisa membuat Hasan meredakan kekecewaanya
__ADS_1
Raut wajah Hasan terlihat sekali tak senang, dengan jawaban yang terlontar dari mulut Edric. Bagaimana bisa kekasihnya masih memiliki seorang suami, padahal Hasan sangat berharap sekali pada Aini, ia ingin sekali bersama dengan wanita yang sangat ia cintai dari dulu. Karena cintanya tak pernah pudar dan hilang ditelan waktu.
"Ya sudah, cepat antarkan saya pulang ke rumah. Kebetulan sekali, saat ini saya sedang merindukan istri saya di rumah, kemungkinan besar ia menunggu dan mengkhawatirkan keadaan saya."
"Baik Tuan."
*********
Mobil yang sudah melaju, membuat Laudia mengeluarkan ibunya dari dalam kantor.
"Bu, sebaiknya kita makan dulu. Yuk."
Sang ibu masih terlihat melamun, saat kejadian memelukan menimpa dirinya, Laudia yang menerima sang ibu apa adanya. Hanya bisa tetap sabar.
Laudia, mencari tempat makan, ia berjalan bersama sang ibu. Hingga dimana Laudia, melihat tempat rumah makan.
Mereka kini masuk ke dalam rumah makan itu, awalnya suasana terlihat biasa saja, tak ada yang perlu di kuatirkan.
Laudia mulai memesan makanan kesukaan ibunya, ada rasa tenang dan bahagia. Sang ibu akan merasakan perawatan di rumah sakit, untuk ganguan mentalnya.
Setelah memesan makanan yang cukup lumayan banyak untuk ibu dan juga dirinya, Ludia dengan lahapnya memakan masakan yang sudah disajikan diatas piring, yang baru saja diantarkan para pelayan.
Dengan lahapnya, Aini juga makan dengan wajah senang, melihat Laudia membelikan makanan. Membuat ia tak segan-segan menghabiskan pesanan yang sudah tersedia di atas meja.
Saat Laudia beres menghabiskan makananya, ia meninum jus, dan melihat sosok lelaki yang ia kenal. Membuat minuman itu muncrat Dan Hampir saja mengenai ibunya.
"Laudia, kalau minum itu jangan buru buru."
Terkadang sang ibu menasehatinya dengan baik. dan terkadang ibunya itu selalu memarahinya habis-habisan.
"Kamu kenapa?" sang Ibu bertanya ketika anaknya membulatkan kedua mata, melihat ke arah depan seperti ada sesuatu yang ia ketahui.
"Laudia." Lamunan Laudia membuyar, Ketika sang Ibu berteriak dan memukul bahunya.
Laudia berusaha menghentikan ucapan sang ibu.
__ADS_1