Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 113


__ADS_3

Walau sekedar ciuman, itu sangatlah berarti untuk Edric. Iya mencintai istrinya karena ketulusan yang menerima dirinya apa adanya. Setiap kali memandangi wajah sang istri, Edric begitu candu. Tak bisa berbohong jika dirinya ingin selalu menyentuh sang istri, memuaskan diri dengan wanita yang begitu ia cintai.


Dreet ....


Suara ponsel yang baru diaktifkan oleh Edric, membuat dirinya kaget, karena ia melihat lima puluh panggilan tak terjawab dari pemberitahuan ponselnya.


CEO muda itu juga melihat, dua puluh pesan datang dari Siska. Padahal Edric sudah meminta cuti pada Siska selama dirinya dalam pengobatan.


Tapi kenapa Siska meneleponnya, apakah ada sesuatu yang penting?


Aira menghampiri suaminya, iya penasaran dengan wajah gelisa Edric." Kamu kenapa?"


Edric menatap ke arah sang istri yang melihat ponselnya, saat itulah sang CEO muda memperlihatkan panggilan telepon dan pesan yang datang dari sang Dosen.


"Loh, bukanya itu dari dosenmu ya. Sayang?" tanya Aira, membaca nama dari layar ponsel suaminya. Begitupun dengan pesan bertumpuk banyak.


"Iya, padahal aku suka meminta izin pada dosen itu. Tapi tetap saja dia menelepon dan mengirim pesan, dia itu tidak mengerti apa. Aku sedang menikamati liburan ini bersama istriku," ucap Edric membuat rayuan dan gombalan itu terdengar oleh telinga Aira.


"Mm, bisa saja kamu, " balas Aira mencubit pipi sang suami. Ia menarik handuk dan bergegas untuk segera mandi.


"Ke mana?" tanya Edric, memegang tangan sang istri.


"Kan aku bilang tadi, mau mandi. Idih, kamu budek ya!" jawab Aira. Membuat Edric menaruh ponselnya membawa Aira ke kamar mandi. Dengan mendudukan tubuh Aira pada pah*nya, mereka masuk mengunakan kursi roda.


"Akhh, Edric."


Teriakan Aira mengema, membuat Edric semakin menjadi jadi.


*********

__ADS_1


Siska menatap layar ponselnya, Edric tidak membuka pesannya sama sekali. Ia terlihat resah, gelisah, ingin mendengar suara Edric.


Tangan mulai menekan tombol panggilan, berharap jika Edric mengangkat panggilan teleponnya.


Perasaan gundah, rasa rindu berkelabut dalam hati, " Aku rindu. Kamu Edric, tapi kenapa kamu tidak menganggkat panggilan teleponku."


Siska melemparkan ponselnya ke atas kasur, ia merebahkan tubuh dan berkata." Mm."


Kedua mata ia tutup, dimana bayangkan Edric datang dalam tidurnya, ketampanan itu mengikat hati dan pikiran Siska.


Wanita itu tidak tahu jika Edric sudah menikah, ia hanya tahu bahwa Edric hanyalah seorang CEO muda.


"Hai, Siska. Aku datang kepadamu."


Edric seakan menghapiri Siska dalam balutan selimut hingga.


Membuka mata, Siska hanya bermimpi, ia kira semua itu kenyataan. "Menyedihkan sekali."


Siska mencari ponsel yang ia lemparkan ke atas kasur, menatap pada layar ponsel. Tetap saja Edric tidak membuka pesan dari Siska.


"Menyebalkan."


Melempar ponselnya kembali, Siska wanita berbody seksi itu bangkit dari ranjang tempat tidur, menggeliat manja kedua tangan.


Mulut menguap, mata ia sipitkan. Terlihat waktu masih menujukan pukul lima sore, terasa lama, ketika Siska menjadi dosen tidak ada raut wajah yang biasa ia lihat di kelas.


Kata semangat tak keluar seperti dulu, Siska lebih banyak menghabiskan waktu mengirim pesan pada Edric yang tak kunjung di balas.


Padahal baru dua hari di tinggal pergi, tapi Siska merasa rindu berat. "Apakah ini yang dinamakan cinta?"

__ADS_1


Pertanyaan mulai memburu hatinya mencari jawaban, berharap jika Edric merasakan hal yang sama. Ia berharap jika semua sesuai yang ia bayangkan, betapa hidup Siska sungguh berarti.


Banyak lelaki yang menginginkannya, namun wanita seksi itu selalu menolak dengan alasan, jika dirinya tidak mau berpacaran terlebih dahulu. Ia ingin memuaskan diri menjadi seorang dosen selama ia merasa bosan. Tapi dalam kenyataan, Siska sudah menyimpan satu nama di hatinya yang tak lain ialah Edric, muridnya sendiri.


Di usianya yang mengijak tiga puluh dua tahun, ia masih menjadi seorang gadis, tak ada niat ke jejang pernikahan. Siska terlalu menikmati masa masa kesendirianya, tanpa memikirkan kebahagiannya sendiri.


Kedua orang tuanya sampai merasa pusing, akan tingkah Siska yang ke kanak kanakan. Membuat mereka merasa kesal dan bosan, menasehati anaknya sendiri untuk segera menikah dengan lelaki yang ia cintai.


Namun jawaban Siksa, sungguh mengiris hati kedua orang tuanya." Ibu dan papa tak usah ikut campur, Siska sudah gede dan bisa mencari jalan kehidupan Siska sendiri. Tak butuh di atur atur. "


Setelah mendengar pernyataan dari anaknya sendiri, kedua orang tua Siska tak pernah ikut campur lagi. Mereka sudah berhenti menjodoh-jodohkan anaknya dengan lelaki yang mereka kenal.


Walau mungkin dalam perkenalan dan perjodohan itu banyak sekali lelaki yang ditolak oleh anaknya sendiri.


Kadang mereka bingung. Seperti apa lelaki yang diinginkan Siska, sampai anak mereka itu menolak penjodohan yang sudah jelas-jelas membawa kebahagiaan untuk Siska sendiri ke depannya.


Siska masih membayangkan lelaki yang menjadi muridnya, ia tersenyum manis di dalam kamar tidurnya. Walau terdengar konyol tapi itu kenyataannya, bahwa ia mencintai sosok lelaki yang lebih muda dari umurnya.


Sang ibunda yang sudah terlihat semakin tua, melihat sosok anaknya, jauh berbeda dari sebelumnya. Siska terkesan lebih ceria, dan juga memperlihatkan kebahagiaan.


"Apa kamu sudah menemukan. Jodoh kamu sendiri?" Pertanyaan sang ibunda membuat Siska menganggukan, kedua tangan anak itu memegang pipi sang ibunda dan berkata," nanti saatnya sembuh dari kelumpuhannya, aku akan membawa lelaki itu padamu. Bu. Jadi kamu tak usah kuatir, pastinya aku akan menikah dengan lelaki pilihanku sendiri."


Sang ibu menarik napas dengan perasaan lega, " syukurlah kalau begitu, Ibu berharap kamu bisa bahagia dengan pasangan dan juga pilihan kamu sendiri."


Siska tersenyum lebar, hanya karena bermimpi Edric ia sampai sebahagia itu. Siska memutar-mutar tubuhnya begitu ceria, walau pesan yang ia kirim kepada Edric belum dibuka juga.


Siska tak akan pernah kuatir jika ia bisa memiliki Edric sepenuhnya, ya tidak akan takut menua terlebih dahulu. Karena wajahnya yang cantik dan juga baby fresh, tak akan membuat orang menjelekkan dirinya dan juga Edric.


" Pokoknya selama Edric ada di luar negeri, aku harus pintar-pintar merawat diri, menjaga kulitku, dan wajahku ini, nanti setelah Edric pulang dari luar negeri, pastinya dia akan selalu melihat aku tetap cantik dan awet muda. Ahk senangnya, ketika mendengar pujian Edric. Oh ya, dari sanalah Edric akan meminangku dan menjadikan aku sebagai seorang istri. Walaupun satu kampus akan bergosip tentang seorang wanita yang menjadi dosen menikah dengan anak muridnya. Tak apalah, yang terpenting dari semua itu adalah kebahagiaanku. Aku tak sabar menantikan kepulangan muridku yang sudah membuat hatiku benar-benar jatuh cinta kepadanya, akan kuberi dia kejutan yang istimewa setelah kedua kakinya normal seperti dulu. aku sangat rindu kepadamu." Gumam hati Siskan saat bercermin di depan kaca.

__ADS_1


__ADS_2