Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 90 Mengantar ke rumah sakit


__ADS_3

Edric kini sampai di rumah sakit, dia mulai memanggil para perawat untuk segera membawa istrinya yang terlihat begitu lemah.


Perawat datang dengan membawa kursi roda, untuk memindahkan Aira, membawa wanita berbulu mata lentik itu masuk ke ruangan UGD.


Edric kini dibantu oleh kedua suruhannya agar bisa duduk di kursi roda, mereka semua menunggu Aira dalam pemeriksaan. Berharap jika sang istri baik-baik saja.


Sepuluh menit pemeriksaan, Aira dibawa ke ruang rawat inap, di mana dokter keluar memberi berita gembira.


"Kenapa dengan istri saya, dok?"


"Selamat istri bapak tengah mengandung!"


Mendengar jawaban dari sang dokter, tentu saja membuat Edric sangat senang, itu berita yang diharapkan Edric saat berada di kampung halaman sang istri.


Karena tubuh Aira yang begitu terlihat lemah, membuat para perawatan membawa air ke ruangan inap agar beristirahat.


Edric dengan kedua suruhannya, menyusul ke ruangan melihat keadaan sang istri dengan raut wajah kebahagiaan.


Terlihat Aira diam, menatap kaca di ruangan itu.


Ia tak menyangka balas dendamnya, akan menjadi sebuah kebahagiaan bagi diri Edric.


Masih ada rasa tak percaya, ketika Aira mengandung. Ia mengusap pelan perutnya,.


Edric datang dengan senyuman kebahagian, saat menatap Aira duduk di atas ranjang rumah sakit.


"Aira."


Mendekat dan berkata?" kamu hamil sayang."


Aira menganggukkan kepala, dimana Edric memeluk istri tercintanya itu.


"Terima kasih, sudah membuat kebahagiaan untukku."


Ellad kini menelepon kembali, dimana Edric langsung memberi kabar gembira.


"Halo."

__ADS_1


"Halo, Edric. Kamu masih ada di mana?"


"Aku ada di rumah sakit!"


Mendengar kata rumah sakit membuat Ellad terkejut. " Ada apa, kenapa kamu bisa ada di rumah sakit?"


Pertanyaan Ellad membuat pemilik bola mata biru itu menjawab," Daddy sebentar lagi akan mempunyai cucu."


Ellad merasa senang mendengar kabar dari anaknya, ketika Edric mengatakan jika lelaki berambut putih itu akan memiliki cucu.


Walau jarak mereka jauh, seperti bukan keluarga. Sebagai seorang CEO muda, Edric tetap menghargai Ellad sebagai ayahnya.


Hanya Ellad yang terlalu egois dari dulu, mementingkan kebahagiaannya, tanpa mementingkan perasaan dan juga kebahagiaan anak semata wayangnya.


Kedua mata lelaki tua itu berkaca-kaca, setelah merasakan rasa sesak dan amarah terhadap Dwinda, Ellad diberikan kejutan luar biasa dari Edric.


"Daddy ikut senang mendengar kabar kalau Aira tengah hamil."


"Ya sudah, Dad. Edric mau menemani Aira dulu, nanti sore aku pulang ke rumah."


"Baik."


Namun setelah mendengar kabar menyenangkan dari anak semata wayangnya itu, Ellad mengurungkan niatnya untuk tidak meminum minuman keras yang akan memabukkan dirinya.


Ellad memutar balikan mobil, untuk pergi ke pemakaman istri pertamanya. Di setiap perjalanan menuju ke pemakaman, Ellad merasa bahagia. Ia Tersenyum ceria, Tak sabar ingin segera menemui istri pertamanya.


"Aku rindu kamu Maya."


********


Dwinda melihat para sopir hanya berdiam diri, tidak melakukan apa yang diperintahkan Dwinda sama sekali.


Terlihat sopir, menganggap bahwa sang Nyonya di depannya hanyalah orang biasa. Mereka menuruti printah Maria, yang tidak usah melayani lagi sang nyonya.


Karena kemungkinan besar, sebentar lagi Ellad akan menceraikan Dwinda.


"Kenapa kalian malah diam saja? Aku katakan cepat urus mobilku saat ini juga. Ganti bannya sekarang juga."

__ADS_1


Para sopir tak memperdulikan apa yang dikatakan sang nyonya, mereka lebih baik diam.


"Kalian Ini budek apa gimana sih, dari tadi aku perintah kalian buat benerin ban mobilku, tapi kalian malah diam saja saling menatap satu sama lain. Atau jangan-jangan kalian mau aku pecat sekarang juga. "


Dwinda terlihat begitu sok berkuasa di rumah Ellad.


Dengan berkacak pinggang di depan para supir, Dwinda rasakan segan membentak mereka," kalian ini kenapa sih, malah diam saja, aku kan sudah perintahkan kalian berapa kali, aku ngomong tapi kalian malah diam saja seperti ini. Sebenarnya kalian ini kenapa sih."


Dwinda mempertanyakan perubahan para sopir yang tidak mau mengerjakan perintahnya.


Sampai dimana salah satu sopir memberanikan diri untuk berbicara.


"Maaf, nyonya. Kami tidak ada hak lagi untuk menuruti perintah nyonya, karena .... "


Sopir itu kita kuasa berbicara kembali, mereka belum yakin kalau Dwinda akan kusingkirkan oleh suaminya sendiri.


Dwinda mengerutkan dahi, ia memposisikan diri seperti biasa, "Karena apa, hah .... "


Dwinda berusaha mempertanyakan kepada para sopir untuk mengatakan kejelasan yang sebenarnya, mengapa mereka tidak mau diperintahkan oleh Dwinda.


"Ayo jawab. Jangan diam saja."


Para pelayan mulai datang, Maria dan Ratna memberanikan diri menghadapi Dwinda.


"Maaf Nyonya, kami diperintahkan oleh Tuan Ellad agar tidak melayani anda lagi. Jadi anda harus mandiri tidak usah mengandalkan para pelayan di sini. Kebetulan sekali Tuan Ellad yang mengatakan semuanya, jadi tolong jangan membentak kami atau kami akan laporkan bentakan Nyonya kepada tuan."


"Apa-apaan kalian ini, kenapa kalian berkata seperti itu. Mana mungkin Ellad berkata seperti itu aku ini istrinya kalian ini hanya mengada-ngada saja, sudah cepat para sopir benar kan ban mobilku ini, kalau tidak kalian akan aku pecat. Ingat itu," Dwinda tak mau kalah dengan para pelayan dan juga sopir di rumah, iya berusaha menjadi dirinya sendiri dan memarahi para sopir. begitupun menakuti para pelayan, agar tetap melayaninya dan mendengarkan perintahnya saat itu juga.


"Maaf Nyonya, kami tidak bisa, anda bisa membawa mobil anda ke bengkel saja sendirian tidak usah menyuruh sopir. "


Mendengar Ratna berbicara seperti itu, tentulah membuatku Dwinda kesal dan semakin tak bisa mengendalikan amarah.


Dwinda berusaha meminta sebuah kunci mobil yang berjajar di rumah Ellan," mana mobil ini, aku akan bawa saja mobil ini cepat sini kuncinya."


Maria mulai menjawab perkataan Dwind. "Maaf sebelumnya. Anda juga tidak diperbolehkan memegang fasilitas di rumah ini, yang anda pegang hanyalah barang anda sendiri, di sini semua milik Tuan Ellad dan juga Tuan Edric. Jadi anda tidak berhak memakai barang sembarangan."


Dwinda melipatkan kedua tangannya berusaha menahan kekesalan dalam dada ketika Maria berbicara seenaknya ." Sudahlah kalian jangan mengada-ngada, aku juga tahu kalian ini bersekongkol kan untuk bisa membuat aku pergi dari rumah ini, cepat kembalikan kuncinya jangan banyak basa-basi aku tidak banyak waktu sekarang.''

__ADS_1


Sang sopir tak memberikan kunci mobil. Mereka malah pergi begitu saja." Eh kalian mau ke mana? kan aku dari tadi minta kunci mobil Kenapa kalian malah pergi."


Maria dan Ratna kini membalas ucapan dan bentakan Dewinda, "kami hanya menuruti perintah Tuan. Jadi dimohonkan anda untuk tidak membentak ataupun menyakiti para pelayan di rumah tuan. "


__ADS_2