Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 60 belum puas.


__ADS_3

"Ahk, sial. Kenapa harus di kunci segala. Aku jadi tidak bisa masuk ke dalam kamar."


Dwinda terus-menerus memanggil pembantu agar segera datang membukakan pintu kamar tamu, ia sudah tak sabar ingin membasuh seluruh badannya yang terasa begitu lengket dan kotor.


Dwinda yang memang seorang dokter tak bisa menahan kotoran yang berada di tubuhnya. Iya ingin segera mungkin membersihkan tubuh yang benar-benar begitu lengket karena keringat dingin yang terus bercucuran.


"Maria." Beberapa kali memanggil nama pembantu di rumah, tak ada satupun yang datang.


"Lina."


"Ratna."


"Pada kemana coba mereka. Di situasi seperti ini mereka benar benar tidak bisa diandalkan." Gerutu Dwinda, meresa frustasi dengan keadaanya yang sekarang.


Tiba tiba saja Ellad datang dengan membawa beberapa kunci pada tanganya, ia memperlihatkan semua kunci kunci itu pada sang istri.


"Dwinda sayang, apa kamu lagi mencari benda ini." Mendengar suara Ellad tentu membuat wanita pemilik bola mata berwarna coklat itu tersenyum senang.


"Owh, Ellad. Aku senang jika kamu datang ke sini, membawakan kunci untukku." Dwinda mendekat, menghampiri sang suami yang tengah menyender pada tembok yang tak jauh darinya.


Sosok lelaki berambut putih dengan tubuhnya yang kekar, begitu terlihat santai. Ia tak ada niat untuk membukakan pintu ruang tamu, atau menyuruh sang istri masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri. Waw sungguh permainan yang benar benar licik, diperlihatkan Ellad untuk sang istri.


"Kamu ini memang suami terbaikku, Ellad."


Tiba tiba saja, Ellad dengan sengaja menjatuhkan kunci kamar dihadapan istrinya. Tak mempedulikan jika sang istri harus memungutnya seperti gembel.


Ellad senang dengan permainan anak kecil yang ia perankan, ingin melihat sampai dimana istri kesayanganya itu kuat, menahan semua tingkah yang dilakukan Ellad.


"Sayang, kenapa kamu jatuhkan sih," ucap Dwinda seperti ingin menangis, saat melihat kunci itu sudah berada dibawah lantai.


"Aku nggak sengaja sayang, kalau sengaja mungkin akan semakin sakit apalagi kalau ketahuan," balas sang suami, sebuah kode keras sengaja dilayangkan suaminya itu, agar ia bisa mengakui kesalahnya.


Keringat dingin semakin banyak berproduksi, tak peduli dengan ucapan Ellad, Dwinda lebih fokus mengambil kunci kamar agar dia segera mandi dan membersihkan diri.


Perutnya sudah bersuara dari tadi, tentulah membuat ia merasa lemas dan tak berdaya, Ellad yang ada dihadapannya. Hanya tersenyum sembari melipatkan kedua tangan, ia begitu tega dan tak merasa kasihan terhadap sang istri.

__ADS_1


Mungkin karena rasa sakitnya yang terlalu dalam, membuat ia hanya bisa melakukan semua itu.


Disaat sudah lemas, kunci yang di jatuhkan Ellad begitu banyak, membuat Dwinda bingung mencarinya, entah dimana kunci kamar tamu.


Lelaki berambut putih dengan tubuhnya yang kekar kini meninggalkan Dwinda, tak mempedulikan istrinya yang terlihat kelelahan itu.


Ellad berjalan menuju meja makan, ia duduk dan menikmati makanan yang sudah di sediakan para pelayan di rumah.


"Rasanya nikmat. Senikmat aku mengerjai istriku yang tidak tahu diri itu." Gerutu Ellad pelan.


Melahap semua tanpa rasa kasihan terhadap istrinya, tidak ada rasa kepeduliannya lagi. Ellad lebih nyaman menikmati hidupnya. Tanpa beban sedikit pun dalam hatinya.


"Tuan, kemana Nyonya." Maria menanyakan Dwinda yang memang menyuruhnya menyiapkan makanan di atas meja segera mungkin.


Namun setelah makanan sudah tersedia, Dwinda tak ada, maka dari itu ia menanyakan kepada Ellad.


Lelaki berambut putih yang tengah makan, tak suka jika diganggu dan diberi pertanyaan. Ia kini membentak sang pelayan dengan memukul meja.


"Jika aku tengah makan, jangan sebut nama dia." ucap tegas Ellad.


Maria yang takut dengan perkataan majikannya kini menutup mulut, pergi dari hadapan sang tuan.


Maria yang penasaran keberadaan majikan wanitanya itu, kini berjalan mencari keberadaannya.


"Kemana ya, Nyonya Dwinda."


Setelah mencari ke sekeliling rumah, Betapa terkejutnya Maria melihat Dwinda tengah berjongkok mencari sebuah kunci kamar, ia tak mengerti kenapa Ellad sampai sebegitu mengerjai istrinya.


"Apa karena Dwinda tak berkata jujur?" Pertanyaan mulai terbesit dalam diri Maria, seorang pelayan yang sudah memberitahu kebusukan Dwinda selama ini pada Ellad.


Ternyata memberi tahu semua kebusukan istrinya, membuat Ellad tak segan segan mengerjainya habis habisan.


"Ternyata Tuan Ellad aslinya kejam ya."


Maria dengan terburu-buru pergi dari sana, ia tak mau jika nanti sang tua melihatnya.

__ADS_1


Dwinda yang masih fokus mencari keberadaan kunci kamar tamu, kini menggerutu kesal dan berkata." Sialan, kemana kunci itu, ya tuhan dari tadi aku mencari keberadaan kunci kamar tamu ini tak kunjung ketemu dan tak pas di pintu."


Dwinda hampir putus asa dengan pencarianya, ia ingin makan, karena perutnya yang sudah terasa lapar dan tak berdaya.


"Jika aku makan dalam ke adaan seperti ini, rasanya tak mungkin." Gerutu Dwinda.


Sampai akhirnya, Dwinda menemukan kunci kamar tamu dengan waktu yang cukup lumayan lama. Ia berjalan gontai dengan tubuhnya yang benar-benar sudah lemas karena belum terisi energi sedikitpun, membuka itu kamar dengan kunci yang sudah ia temukan pada akhirnya, pintu kamar tamu itu terbuka.


Dwinda sangatlah senang dengan apa yang ia lihat sekarang, dirinya bisa mandi dan juga membersihkan diri dari semua kotoran dan debu yang menempel.


"Wah, rasanya aku tak sabar ini segera mandi, membersihkan diri ini dari kotoran-kotoran yang sudah membuat badanku bau sekali."


Ellad yang sudah selesai makan, menyuruh Ratna untuk mematikan air yang menyambung ke dalam kamar tamu.


Ratna kini mendengarkan apa yang dikatakan sang tuan, dia bergegas pergi untuk segera mematikan saluran air menuju ke kamar tamu.


Maria yang melihat Ratna sahabatnya kini bertanya dengan rasa heran.


"Kamu sedang apa? Ratna."


"Eh, Maria, aku di suruh tuan buat mematikan saluran air menuju kamar tamu!"


Jawaban Ratna yang membuat Maria mengigat sang Nyonya yang ternyata tengah mencari kunci kamar tamu.


"Apa jangan jangan, Tuan mau mengerjai nyonya lagi, benar benar jahat juga ya tuan." ucap Maria dalam hati.


Ratna yang sudah selesai menjalankan apa yang diperintahkan sang tuannya, ini berpamitan kepada Maria untuk memberitahu tuannya bahwa Semua sudah dilakukan dengan beres.


"Ya sudah ya Maria. Aku mau menghadap tuan dulu memberitahu bahwa tugasku sudah selesai, dan lagi sekarang waktunya untuk bersantai semua sudah beres. Kamu ngapain terus ada di sini, lebih baik kita makan saja sebelum tuan Edric datang begitupun dengan Nyonya Aira. Kamu tahu kan kalau ada mereka pasti semua akan repot."


"Aku tahu, kamu duluan saja, aku mau membersihkan taman terlebih dahulu."


Ratna kini menghadap Ellad, memberitahu bahwa tugasnya selesai.


"Sudah selesai, tuan."

__ADS_1


"Bagus, kalau begitu."


"Rasakan kamu Dwinda."


__ADS_2