Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 50 Pak Hasan dan Bu Aini


__ADS_3

Hasan yang baru saja menyalahkan mesin mobil, dibuat kaget dengan penampakan sosok wanita yang ia kenal. Jantung berdebar perasaan tak menentu, sosok yang ia tinggalkan, kini terlihat kembali di depan mata.


Wanita tua bernama Aini, datang menghampiri Laudia, memarahi anak itu.


Dugaan Hasan memang benar, nama ibu kandung Laudia, bekas mantan kekasih Hasan yang ditingalkannya dulu.


Tanpa sebab, dan tanpa alasan yang jelas. Hasan tega meninggalkan Aini di saat hawa napsunya sudah terpenuhi.


Karena tuntutan orang tua, Hasan meninggalkan Ainin demi pekerjaan yang kini ia tekuni. Sebagai seorang sopir.


Karena mendengar gaji yang fantastik, Hasan begitu tega, membuat Aini merana sendirian meninggalkanya begitu saja.


Bayangan masa lalu teringat kembali, keringat dingin bercucuran. Hasan merasakan rasa bersalah, setelah sekian lamanya berpisah.


"Aini."


Sang CEO muda yang duduk di mobil, merasa aneh, melihat sopirnya menyebut nama Aini. Dimana mata lelaki tua itu menatap ke arah ibunda Laudia.


Ia turun melihat pemandangan yang sedikit menyakitkan hatinya.


"Heh, dasar anak haram. Kenapa kamu tidak memberi uang saat kamu pergi bekerja. Ibu ini lapar."


Betapa malunya, Laudia melihat kedatangan Aini dengan memarahinya. Terlihat sekali, orang orang saling mengatai dan juga membicarakanya saat Aini terus meminta uang pada Laudia.


"Kenapa bengong saja. Ayo mana uanganya."


Laudia bingung ia sekarang tak punya uang seperserpun. "maaf bu, saya nggak ada uang seperserpun."


Aini tak segan segan menampar anaknya sendiri, pemandangan itu tentulah membuat Laudia semakin malu, ketika di marahi di depan umum.


"Bu, sebaiknya kita pulang, ayo."


Laudia berusaha menahan tangan dan badan sang ibu yang terus memberontak tak ingin pulang.


"Bu, ayo. Cepat kita pulang."


Air mata terus mengalir membasahi pipi, Laudia tak sanggup jika ibunya di lihat orang dan dijadikan bahas gujingan.


Apalagi Aini yang tak bisa mengendalikan amaranya sendiri. Tentunya membuat ia seenaknya di depan banyak orang memerahi dan mencaci anaknya sendiri.

__ADS_1


"Aini."


Laudia terkejut, di saat ia memeluk ibunya, Hasan memanggil nama ibunya.


Terlihat lelaki tua itu menangis, melihat Laudia berusaha menenangkan Aini.


"Bu, tenang ya. Tahan emosi ibu sendiri."


"Ibu tak bisa tenang, sebaiknya cepat kamu berikan uang agar ibu pergi dari hadapan kamu."


Pukulan kini mendarat kembali pada wajah Laudia, memang mental Aini begitu terganggu hingga ia tak sadar jika dirinya sudah melukai anak semata wayangnya sendiri.


"Cepat."


Tak segan segan Aini, menjabak rambut Laudia. Ia menarik paksa hingga dandanan Laudia hancur.


Hasan berusaha menenangkan Aini agar tetap tenang dan tidak menyakiti Laudia anaknya sendiri terus menerus.


Sampai dimana Hasan berkata." Aini, tenangkan dulu hatimu."


Kedua tangan Aini di pegang erat oleh Hasan, agar tidak terus menyakiti anaknya sendiri.


Kedua mata Aini membulat setelah melihat raut wajah lelaki yang sudah tega meninggalkannya, dimana keadaan Aini tengah mengandung dua bulan.


"Kamu. Dasar Baj*ng*n."


Aini tak menyangka bisa melihat lagi sosok pria yang sudah membuat dirinya benar-benar menderita, dia memukul-mukul dada bidang Hasan dengan sekuat tenaga yang ia punya.


Laudia yang melihat pemandangan di depan matanya, tentu saja merasa aneh. Bagaimana Hasan bisa mengenal ibunya, dan membuat Aini histeris mencaci maki Hasan.


Ada hubungan apa ibunya dengan Hasan di masa lalu. Sampai Hasan menangis dan menatap penuh rindu pada Aini.


Laudia, berusaha memisahkan Hasan dan juga ibunya," Lepaskan tangan ibu saya."


Laudia tak segan-segan mendorong tubuh Hasan, membuat lelaki tua itu tersungkur jatuh. Aini menunjuk Hasan dengan memarahi mencaci maki lelaki yang sudah membuatnya seperti orang gila sampai saat ini.


"Kenapa kamu datang lagi, hah. Sudah sekian tahun, kamu meninggalkan aku dan anak yang aku kandung." Emosi Aini tak terkontrol, sampai Aini berteriak histeris.


Sedangkan Hasan yang mendengar perkataan Aini. Tentu saja membuat ia tercengang kaget, setelah mendengar Aini? mengatakan seorang anak. Apa Aini hamil karena ulahnya yang sudah menggauli wanita yang tak berdosa itu. Membujuk agar ketika Hasan meninggalkan Aini, ia berjanji datang lagi. Tapi janjinya itu semua palsu.

__ADS_1


"Jadi saat aku meninggalkan kamu, ada darah dangingku yang kamu lahirkan?" Tanya Hasan pada Aini. Ia ingin mendengar jelas pengakuan dari wanita yang menjadi kekasihnya dulu.


Aini hanya bisa


Sang CEO, memberi kode pada orang orang yang melihat pemandangan keluarga yang tengah bertengkar, agar pergi dan tak berkumpul.


Jangan sampai ada orang yang berani merekam ataupun membuat masalah. Edric tentunya akan bertindak.


Hasan menangis, hingga dimana sang CEO menyuruh Laudia membawa ibunya, menenangkan dari keributan yang semakin tak kunjung usai.


"Sebaiknya kamu cepat bawa ibumu, ke ruangan kantor. Setelah itu kamu bisa menenangkan ibumu dari kemarahan."


Edric mulai memberikan beberapa lembar uang kepada Laudia. "Ini uang untuk kamu."


"Terima kasih, pak."


Laudia menerima uang yang diberikan Edric dengan senang hati, karena memang ya begitu membutuhkannya.


Laudia kini dibawa ke ruangan kantor, yang dikhususkan untuk orang yang tengah menunggu klien.


Sedangkan Hasan sang sopir, berusaha Edric bujuk, untuk tetap tenang dan duduk di dalam mobil.


" Sebaiknya kita bicarakan dulu di dalam mobil, setelah reda saya akan mempertemukan kamu lagi dengan ibunda Laudia."


Lelaki tua itu, kini menurut apa yang dikatakan Edric, ia masuk ke dalam mobil. Dimana Edric ingin mendengar cerita yang akan dilontarkan dari mulut lelaki tua yang menjadi sopirnya itu.


Wajah Hasan begitu penuh dengan air mata, terlihat ia melamun memikirkan Aini yang baru saja dibawa oleh Laudia.


Edric berusaha tetap tenang, menunggu lelaki tua itu meredakan segala perasaan yang mungkin mengganggu pikirannya.


"Jadi siapa wanita yang menjadi ibunda Laudia itu, apa dia masa lalu Pak Hasan, sampai ibunda Laudia itu marah besar terhadap bapak?"


Pertanyaan Edric mulai dijawab oleh Hasan, di mana lelaki tua itu kini menceritakan kejadian di masa lalu saat ia bertemu dengan ibunda Laudia yang tak lain ialah wanita desa yang selalu ia puja dan ia jadikan sosok pacar.


Aini begitu cantik dan juga menarik, yang menjadi kembang desa di daerahnya. Sampai Hasan yang tinggal di desa itu berusaha mendapatkan perhatian dan juga rasa cinta Aini.


Setelah ia mendapatkan apa yang ia inginkan, ada halangan yang membuat mereka tidak bisa bersatu. Yaitu kedua orang tua yang tak merestui karena Hasan yang terkenal miskin dan tak punya apa-apa.


Sampai Hasan tega melakukan perbuatan yang tak bisa dimaafkan. Iya dengan tega merenggut kesucian sang gadis desa dengan merayunya dan juga mengatakan setelah ia mendapatkan uang banyak, ia akan menikahi membawa lari gadis desa itu.

__ADS_1


__ADS_2