Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 86 Masa lalu Dwinda 11


__ADS_3

Sambungan panggilan terputus, Dwinda tanpak senang dan bahagia, ia pulang menuju rumah dengan wajah sumringah dan hati berbunga bunga.


Besok akan kembali ke rumah Ellad, dengan berpakaian lebih sederhana seperti Maya. " Mungkin aku tidak bisa menaklukan hati Edric sekarang, tapi nanti. Lihat saja."


Dwinda tak suka dengan pakaian sederhana dipakainya, ia terburu buru melepaskan pakaian yang baru ia beli.


"Pakaian tak nyaman."


Wanita bergaya gelamor itu, kini menganti pakaiannya dengan pakaian seksi. " Ini gayaku." Berlengak lengok di depan cermin, menampilkan jati dirinya sendiri.


Merebahkan tubuh, membayangkan wajah Edric terlihat begitu tampan. Ada getaran dalam jiwa terasa pada diri Dwinda.


Ia tersenyum senang, padahal jika tidak membunuh Maya bisa memiliki Edric. Tapi bukan itu tujuan Dwinda, bagi dirinya Edric hanya anak kecil yang masih bergantung pada ayahnya.


Jadi percuma balas dendam lewat Edric, tidak akan membuahkan hasil, maka dari itu. Dwinda hanya menjadikan Edric sebuah mainan kecil sesekali ia juga ingin merasakan ketegapan dan ketegaran tubuh Edric.


"Mm, tak sabar ingin cepat cepat masuk dan menjadi keluarga Ellad. " Dwinda kini berguling ke sisi kiri, melihat ke arah jendela. Mengangkat tangan seperti mengerakan jari bagai pistol.


"Dorrr, semua akan leyap di tanganku. Lihat saja nanti."


Dwinda kini menutup kedua matanya, dimana suara ponsel berbunyi.


Meraih benda yang tak jauh dari dirinya, Dwinda kini menempelkan benda itu pada telinga.


"Halo."


"Halo, Dwinda. Kamu ada di mana? Si Edric anak CEO Ellad mengirim lagi polisi ke rumah sakit."


Dwinda mulai bangun dari tidurnya," Sudahlah kamu jangan khawatir, percuma dia melaporkan rumah sakit ibunya pada polisi. Toh, dokter di rumah sakit semua sudah bekerja sama."


"Iya juga sih, tapi aku takut."


"Sudahlah Lisa, jangan parno begitu. Santai saja, semua tidak akan masuk ke dalam penjara. Kamu kaya tidak tahu aku saja."


"Mm, iya juga sih. Aku jadi malas bekerja kalau ada polisi begini."


"Hanya beberapa hari saja, jadi sabar saja."


"Ya aku tahu itu, kamu dimana? Apa sedang bertugas di rumah Ellad.".


" Cih, mana ada aku betugas di sana. Kamu tahu sendirikan si Edric itu bikin aku geram. Dia tidak mau buat aku semakin menderita."


Lisa tertawa di atas penderitaan Edric, ia senang melihat sahabatnya.


"Tertawa lagi?"


"Iya dong, kan kamu bahagia!"

__ADS_1


"Good."


Panggilan telepon mulai dimatikan sebelah pihak, Dwinda kini menutup kembali kedua matanya.


Untuk tidur siang, orang lain bekerja di rumah sakit, dirinya hanya bisa bermalas malasan dan mendapat gaji.


Kebetulan sekali, Dwinda yang memegang rumah sakit, sebagai tangan kanan kepercayaan Maya.


"Enaknya jadi kepercayaan orang."


Dwinda benar benar menikmati hari itu, ia hanya merasakan kesenangan dan ketenangan. Begitupun kepuasan akan balas dendamnya yang terpenuhi.


*******


Namun tidak dengan Edric, ia amat depresi. Hidupnya selalu di atur oleh sang papah. Apapun Edric inginkan harus melalui Ellad.


Sebagai seorang anak CEO satu satunya, Edric butuh kebebasan, ia tak mau dikekang dan selalu menuruti apa keinginan sang papa.


Ia ingin menjadi sosok lelaki yang mandiri dan bisa mempunyai perusahaan nya sendiri.


Walau semua mungkin tak mudah bagi dirinya, Edric akan berusaha belajar agar mampu menyaingi ayahnya sendiri, jika semua itu terjadi.


Tak ada aturan lagi bagi Edric, harus selalu menurut perintah sang ayah.


Edric menggenggam erat buku yang baru saja ia baca, ia sudah mempelajari beberapa halaman tentang bidang bisnis yang akan ia kelola saat itu juga.


"Aku harus bisa."


Seorang pelayan datang menghampiri Edric, pelayan itu membawakan jus untuk sang tuan muda, yang di mana Jus itu terdapat sebuah obat dari Dwinda.


"Ini minumanya tuan."


"Terima kasih."


Edric tak tahu dalam minumannya itu terdapat racun, yang sengaja diberikan Dwinda kepada pelayan. Dimana Dwinda menyuruh pelayan untuk menaburkan obat setiap sore dan malam pada minuman Edric.


Obat itu akan memperlambat kesembuhan kaki Edric, menekan Edric untuk menjadi laki laki lumpuh.


*******


Pagi hari.


Dwinda mulai bergegas pergi ke rumah Ellad, ia sudah berdadan rapi, layaknya seorang Maya. Yang salu menampilkan make-up polos dan baju seadanya.


Ini adalah taktik Dwinda, agar Ellad terpesona. Semakin Ellad melihat penampilan Dwinda, semakin ketertarikkan itu mucul.


Apalagi tampilan yang menyamai Maya.

__ADS_1


Ellad tak akan tahan dengan godaan diberikan Dwinda setiap hari.


Maya turun dari taksi, ia melihat rumah seperti istana Itu tampak sepi. Padahal kemarin begitu ramai banyak pelayan yang berjajar menunggu keluarnya Ellad dari dalam rumah.


"Tumben sepi, biasanya ramai."


Dwinda mulai berjalan menuju pintu rumah Ellad, ia melihat penjaga rumah tengah bersantai.


Terkejut melihat penampilan Dwinda seperti istri Ellad, yang tak lain ialah Maya.


"Nyonya Maya."


Dwinda menampilkan senyuman di depan para penjaga.


"Nama saya Dwinda, saya dokter yang akan merawat Edirc."


Mereka saling menatap satu sama lain, " Dokter Dwinda."


Baru menyebut nama itu, salah satu penjaga tahu, bahwa Dwinda sering datang ke rumah sang majikan bersama Nyonyanya.


Namun, masih ada rasa heran dalam diri para penjaga karena melihat sahabat Maya begitu berbeda jauh dari sebelumnya.


Mereka menatap ke arah Dwinda dari ujung kepala hingga ujung kaki," kenapa kalian melihat saya begitu?" Tanya para pelayan. Mereka seperti orang yang terlihat kebingungan karen perubahan derastis dari Dwinda.


"Kenapa kalian menatap saya seperti itu?" tanya Dwinda, melipatkan kedua tangan. Ia tak suka dengan kedua penjaga yang terus menatap dirinya yang berpenampilan seperti Maya.


Kedua penjaga itu tersenyum dan kini membukakan pintu untuk Dwinda masuk.


"Silahkan."


Dwinda menatap sini pada kedua penjaga di rumah Ellad." Dasar mata keranjang."


Baru saja masuk ke dalam rumah, Dwinda sudah disambut hangat oleh seorang lelaki yang duduk di kursi roda.


Edric ternyata menatap penampilan Dwinda yang semakin hari semakin menuruti ibunya.


Kecurigaan semakin membuat Edric yakin.


"Ternyata kamu datang juga ke sini setelah aku kemari mengusir kamu, dasar tidak tahu malu. Mengadu pada papahku dan .... "


Dwinda terlewat kesal, kepada Edric, ia dengan sengaja memotong pembicaraan Edric." Saya bukan wanita pengadu, saya hanya menjalankan tugas yang diperintahkan oleh ayahmu sendiri, jadi jangan mencoba memfitnah saya."


"Mm, seorang dokter dengan penampilan yang menyerupai Ibuku sendiri, rasanya tak pantas. Seperti ada niat terselubung."


Edric memutar kursi rodanya mengelilingi tubuh Dwinda, melihat penampilan yang membuat Edric sangat tak suka.


"Ada niat apa kamu berpenampilan seperti ibuku."

__ADS_1


__ADS_2