Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 156


__ADS_3

Pagi hari, terlihat raut wajah Aira begitu berantakan sepertinya Aira habis bergadang semalaman.


"Aira kenapa dengan wajah kamu?" tanya Edric, lelaki yang menjadi suami Aira terlihat tampak segar.


"Kamu tanya aku kenapa? Jelas semalam kamu enak tidur, aku jaga anak kita tahu tidak!" balas Aira sedikit bernada tinggi.


Edric tertawa, melihat raut wajah istrinya yang tertawa." Ya sudah, maafin aku ya."


Aira berusaha tersenyum, setelah Edric meminta maaf padanya," ya."


Edric mulai berangkat untuk kuliah kembali, ia sudah berjanji akan menyelesaikan perkuliahannya.


"Ya sudah, aku berangkat dulu ya," ucap Edric pada sang istri, tak lupa mencium kening dan bibir Aira.


"Mm, bau." Aira kesal, ia mencubit pipi suaminya, dan berkata." Ihk, dasar."


Cubitan itu sedikit terasa menyakitkan, tapi Edric merasa senang karena melihat Aira kini tersenyum bahagia.


Edric tak lupa mencium kening jagoan kecilnya, " Ayah pergi dulu ya sayang."


Melabaikan tangan, dimana Edric berpapasan dengan ibu tirinya. Terlihat kedua mata mereka saling beradu, memperlihatkan betapa bencinya Edric pada ibu tirinya itu.


Pak Hasan sudah menyiapkan mobil, Edric naik dengan wajah bahagianya.


Sampai di kampus.


Suasana nampak ramai, semua orang yang tadinya cuek pada Edric menyapa dengan begitu ramah dan lembut, " Hai Edric?"


Banyak semua Siswa menyapa Edric, karena mereka tahu jika lelaki lumpuh yang dulu mereka hina adalah seorang CEO.


"Edric, apa kabar?" Siswa yang tadinya, merendahkan Edric dari kalangan wanita atau laki laki ingin sekali berteman dengannya.


Namun, Edric terlihat tak suka, dan ia lebih menikmati hidupnya menjadi pria dingin di luaran.


Melangkah dengan memperlihatkan karisma yang begitu keren dihadapan para anak anak kampus.


Terkagum kagum, Edric begitu banyak di dekati oleh para wanita di kampus.


Siska melihat sosok itu, perlahan mendekat dan berkata." Hai Edric, selamat pagi."

__ADS_1


"Pagi juga."


Hanya kata kata itu saja yang terlontar dari mulut Edric saat bertemu dengan sang dosen, cuek sekali, seperti tak ada artinya. Siska masih memedam cinta, berusaha memegang dada menahan getaran cinta saat melihat muridnya sendiri.


"Aku harus meminta maaf pada Edric, setelah jam kampus selesai. " Gumam hati Siska.


Siska ternyata kembali lagi mengajar Edric, ia mengira jika akan ada dosen lain dan pada kenyataanya tidak.


Di jam pelajaran Siska, memberikan semua murid lebar soal yang harus dikerjakan, begitu pun dengan Edric, namun ada satu surat diselipkan dalam lembar soal itu agar segera dibaca oleh Edric.


Membuka lembar soal, Edric perlahan membaca dalam kertas itu, ( Boleh kita bertemu di kantin setelah jam istirahat. Ada yang aku mau bicarakan soal semalam.)


Edric menatap ke arah Siska, dimana mereka saling menatap satu sama lain dan dari sanalah Edric memberi kode." oke."


Siska nampak senang, karena ia ingin meminta maaf pada Edric karena ulah dirinya yang sudah membuat kekacauan di restoran. Siska juga ingin menyampaikan kata maaf untuk Aira, ia merasa malu akan dirinya sendiri.


Jam pelajaran sudah selesai, waktunya Edric pergi ke kantin, dan di susul oleh sang dosen. Mereka duduk saling berhadapan.


"Ada apa Ibu Siksa menyuruh saya ke kantin, memangnya ada masalah penting apa?"


Edric bertanya lebih dulu, ia melabaikan tangan pada pelayan kantin untuk memesan makanan, Siska melihat ketampanan Edric benar benar terpana, hingga ia lupa akan tujuanya.


Saat pesanan dibuatkan, Edric menatap ke arah Siska dan bertanya?" Apa yang akan kamu katakan kepada saya?"


Deg .....


Melihat tatapan Edric, membuat Siska menahan diri, ia menundukkan wajah. Menatap layar ponsel, melihat apa wajahnya sudah cantik.


Edric berpura pura batuk, dimana Siska berhenti mengaca.


"Bukanya kamu mau mengatakan hal penting, ayo katakan. Kenapa malah diam saja," tegas Edric tak suka berbasa basi dengan Siska.


Wanita itu lupa akan tujuannya, hingga dimana ia berkata," sebenarnya aku menyuruh kamu datang ke sini untuk meminta maaf soal tadi malam, karena efek obat dan minuman yang diberikan para sehabatku, membuat aku seperti tak sadarkan diri."


"Lalu sekarang, kamu sudah sadar?" tanya Edric seakan membuat rasa malu berlebihan pada Siska.


Wanita itu dengan wajah polosnya berkata," ya, aku minta maaf, dan tolong sampaikan rasa maafku terhadap Aira istri kamu, aku benar benar menyesal. "


Tangan Siska mulai memegang kedua punggung tangan Edric, tapi dengan sigapnya Edric menjauhkan tangannya agar tak di pegang sembarangan oleh Siska.

__ADS_1


Rasa malu semakin menjadi jadi, pada akhirnya Siska, terdiam membisu. Seakan tak bisa berkata kata, Edric mulai menjawab." Untuk masalah kemarin aku sudah memaafkan kamu, jadi tenang saja. Jangan terlalu di pikirkan, oh ya nanti jika aku pulang akan ku beritahu istriku. Oke."


Edric beranjak berdiri untuk segera pergi dari hadapan Siska, ia meninggalkan Siska dengan rasa malu pada dirinya.


Tak ada obrolan panjang lebar, semua datar dan benar benar tiada arti." Menyedihkan. "


*********


Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi di mana Edric mulai berangkat menaiki mobil, menjalankan aktivitasnya di dalam kantor.


Hari hari, terasa menyenangkan, dia lalui. Tak ada kendala sendikit pun, semua orang-orang benar-benar menatapnya kagum, karena kini Edric sudah bisa berjalan kembali.


Ellad mulai menyingkir dari kursi CEO, ia beralih ke kursi bawahannya.


Edric melihat pemandangan itu kini berkata," kenapa Daddy malah duduk di sana, duduklah di sini, biar Edric di ruangan lain.


"Tapi."


Edric sudah melihat sifat ayahnya yang memihak padanya tadi malam, hingga iya mempersilahkan sang ayah untuk duduk di kursinya.


"Duduklah, Dady. Aku tidak akan menyuruhmu untuk turun pangkat. "


Mendengar hal itu sang ayah tersenyum dan berkata," terima kasih."


"Kenapa berterima kasih, aku sudah melihat tadi malam, Daddy mendidik Dwinda dengan baik, jadi aku putuskan ayah tetap pemilik prusahaan ini."


"Terima kasih, Edric."


Pelukan Edric layangkan, betapa bahagianya mereka berdua, "Oh ya Edric. Apa bisa kamu memberi kesempatan untuk Dwinda memaafkan kesalahnya. Dady melihat dia terlihat frustasi, takut jika nanti bayi yang dia urus kenapa kenapa."


"Masalah itu, nanti akan Edric pikirkan. Sekarang Dady urus saja urusan kantor dan didik Dwinda agar tidak membuat ulah lagi."


"Apa benar itu, Edric?"


"Ya, Daddy jangan kuatir ya!"


Menarik napas ada sedikit. Harapan memulai hidup bahagia, bersama keluarga seutuhnya.


"Semoga saja, ada keindahan di keluargaku, saat Edric memaafkan Dwinda. Dan membuat Dwinda menjadi wanita yang baik, melupakan balas dendam, menjadi ibu seutuhnya untuk anakku yang ia urus sekarang." Gumam hati Ellad. Dengan harapan yang penuh dalam dirinya.

__ADS_1


__ADS_2