Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 65 Otopsi


__ADS_3

Dengan terpaksa Dwinda berlari, tapi ternyata tak terkejar juga. " Ellad benar benar tega sekarang, kenapa dia menjadi lelaki dingin dan begitu kejam. Membiarkan istrinya sendiri di sini."


Dwinda tak menyadari dirinya sendiri, bahwa dia sudah beberapa kali diberi kode oleh Ellad untuk berkata jujur, tapi nyatanya Dwinda tetap mejadi wanita pembohong dan tak mau mengakui dirinya sendiri.


Tentulah membuat Ellad marah besar dan meninggalkan Dwinda begitu saja, tanpa rasa kasihan sedikitpun.


"Dania eh, salah. Dwinda ya, kamu sudah membuat suamimu pergi meninggalkanmu. Kasihan sekali."


Sosok yang datang menghampiri Dwinda ternyata adalah Joni, ia seakan tak puas melihat penderitaan yang kini di rasakan Dwinda.


"Kamu lagi, sudah cukup kamu mengganggu hidupku."


Lelaki kemayu itu tertawa terbahak bahak, "sudahlah Dwinda. Jangan sok merasa terdzolimi, sebaiknya kamu akhiri tipuan kamu itu. Aku cuman mengigatkan saja, kalau lelaki tua itu sepertinya sudah mengetahui rencana jahat kamu."


Joni melipatkan kedua tangan berusaha menyadarkan sahabatnya, dari perbuatan yang tak baik dan harus segera di akhiri.


"Jangan sok tahu kamu, aku masih tetap pada pendirianku saat ini. Dan lagi aku tidak kenal sama kamu."


Dwinda tetap saja bersikap tak mengenal Joni, ia benar benar sudah di tutupi dengan rasa dendam sampai nasehat sahabatnya di acuhkan begitu saja.


"Dania atau Dwinda, aku ini bersikap baik sama kamu karena kasihan. Tapi kamu malah menganggap semuanya seperti tak berarti, ya sudah ya. Aku cuman ngigetin kamu saja, aku pergi dulu. Bayyy."


Setelah kepergian Joni, pada akhirnya Dwinda menghentikan mobil taksi, perasaanya bercampur aduk menjadi satu antara kesal dan juga cemas.


"Sialan, apa yang dikatakan Joni tadi. Malah membuat aku cemas. Memang beberapa kali Ellad seperti memancingku untuk berkata jujur. Jika benar apa yang aku pikirkan ini sama, bisa bisa rahasia terbongkar dan aku membekam di penjara." Gerutu hati Dwinda.


*********


Ellad masih dalam perjalanan menuju pulang, saat itu Ia mendapat panggilan telepon dari suruhannya. Dimana obat obatan yang sengaja diberikan Dwinda untuk Edric sudah ditemukan kandunganya.


Ellad semakin penasaran, ia berusaha mencari informasi sama ke akar akarnya. Supaya bisa mempunyai bukti akurat.


"Dwinda, kamu akan hancur. Siapa suruh kamu masuk ke dalam keluargaku dengan niat tak baik."

__ADS_1


Menarik napas, akhirnya Dwinda sampai di tempat suruhan yang ia tugaskan dari tadi pagi, Ellad sengaja membawa istrinya untuk mencari berlian, agar para suruhan Ellad dengan leluasa menggeledah tepat praktek Dwinda dan obat obatan yang selama ini Dwinda beri pada Edric.


Turun dari dalam mobil, sepertinya ada sesuatu yang akan di ungkap para suruhan Ellad, seorang dokter sengaja ia bayar.


"Bagaimana, apa sudah terlihat semuanya. Obat apa yang dimiliki istriku? Dan lagi kandunganya berbwahaya apa tidak."


Dokter kini memperlihatkan semua berkas putih hasil dari pengecekan obat. Ia menjelaskan semuanya, jika obat yang dimiliki Dwinda sangatlah berbahaya dan memicu kelumpuhan.


Deg ....


Ellad tentu saja terkejut dengan apa yang ia dengar, bagaimana bisa Dwinda sejahat itu. Membuat Edric mengalami kelumpuhan yang ternyata tak kunjung sembuh.


Lelaki berambut putih, kini merasa semakin murka, setelah mendengar dokter mengatakan semuanya.


Selama ini Ellad sudah mengabaikan Edric, membiarkan Edric ditangani dengan Dwinda yang berencana membuat kehidupan keluarganya hancur, pantas saja Edric menjadi lumpuh dengan waktu yang lama.


Ternyata semua ulah Dwinda, mengepal kedua tangan. Terasa kesal dan kini Ellad mulai menyuruh suruhannya untuk menyelidiki dokter yang menjadi sahabat Dwinda.


"Baik tuan."


Satu persatu semua terbukti dengan jelas, Ellad diam diam membuka semua kejahatan istrinya sendiri. Tak peduli jika ia akan berpisah dengan wanita yang dulu sangat ia cintai.


********


Dwinda pulang berteriak memanggil nama suaminya, berharap jika Ellad datang mendengar teriakannya saat itu.


"Papih."


Teriak Dwinda, wanita pemilik bola mata coklat itu. Kini berjalan melangkah pada anak tangga mencari Ellad yang belum terlihat keberadaanya.


Perasaan wanita berumur dua puluh delapan tahun itu sangatlah kesal terhadap sang suami, bagaimana tidak. Ellad pulang sendirian tanpa datang lagi ke tempat dimana Dwinda di tinggalkan.


"Papih, dimana sih dia, aku harus beri pelajaran suamiku ini."

__ADS_1


Dwinda mencari ke kamar dan ke taman, tak menemukan Ellad juga, bertanya pada para pelayan semua tak ada yang tahu.


" Sepertinya Ellad belum pulang ke rumah."


Dwinda mulai menelepon sang suami, menanyakan keberadaannya sekarang.


Panggilan teleponpun terhubung, Ellad belum juga mengangkat panggilan telepon dari Dwinda.


"Papih, kamu ini kenapa sih. Ayo angkat panggilan telepon dari mamah."


Dwinda terlihat kesal, ingin sekali membanting ponsel yang tengah ia pegang. Perasaan tak karuan, kesal dan benci menjadi satu.


*******


Ternyata Ellad tak mengangkat panggilan telepon dari Dwinda, karena ia tengah menguak semua rahasia dan rencana jahat istrinya sendiri.


Ellad pergi ke rumah sakit, yang dulu menangani istrinya, ia ingin menyelidiki kasus kematian istrinya dan mencari informasi di rumah sakit. Tempat Maya dan Dwinda bekerja.


Jika semua sudah terungkap dengan pasti, kini saatnya Ellad beraksi untuk menjebloskan Dwinda dan tak memberi maaf sedikit pun pada istrinya. Jika memang Dwinda terbukti bersalah atas semua rencana kematian Maya yang secara mendadak.


Saat menyelidiki orang orang di rumah sakit tempat Dwinda dan Maya bekerja, Ellad berusaha mencari orang yang paling dekat dengan Dwinda, dan bisa mengungkapkan semuanya, Ellad menyuruh suruhanya mencari informasi dengan sedetal mungkin. Jika ia yang turun tangan menyelidiki rumah sakit tempat istrinya bekerja, pasti orang orang di sana akan menutupi semua kejahatan Dwinda.


Ellad tahu, karena banyak orang orang munafik dan bermuka dua yang sudah menyelamatkan Dwinda dari kesalahannya sendiri. Apalagi rumah sakit tempat Dwinda sekarang sudah jatuh ketangannya sendiri, ketika baru menikah dengan Ellad Dwinda meminta membelikan rumah sakit pada Ellad atas nama dirinya. Ternyata rumah sakit yang ia beli adalah rumah sakit tempat dirinya bekerja.


Setelah menyuruh suruhannya, saat itulah Ellad mencari rumah sakit yang bersedia membantunya, mengecek jenazah sang istri yang sudah tiga tahun lamanya terkubur.


pengangkatan jenazah Maya untuk di otopsi di rumah sakit yang sudah di pilih Ellad tentu saja rumah sakit kusus tanpa orang sekitar tahu. Dalam kematian Maya ada ke janggalan pada tubuh istrinya yang sudah tiga tahun


meninggal dunia. Maya


Mati mendadak tanpa penyebab atau penyakit.


Pengambilan jenazah Maya saat itupun langsung dilakukan, tanpa sala satu orang pun tahu, jika ada yang tahu, kumungkinan besar semua akan sampai pada Dwinda dan ia bisa saja menggagalkan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2