
Ellad melihat Dwinda memilih milih berlian yang ia inginkan, bertapa senangnya wanita itu. Ketika Ellad menyuruh Dwinda memilih dengan sesuka hatinya.
Satu barang berhasil di pilih Dwinda, tapi Ellad tidak ada di belakangnya. Dwinda nampak binggung, begitu cepat suaminya pergi tanpa memberi tahu kepada dirinya.
"Dia pergi kemana lagi?"
Dwinda terpaksa menaruh kembali berlian yang sudah ia pilih dari pelayan yang berjaga di toko.
"Ellad kemana sih, katanya dia mau belikan aku berlian, tapi nyatanya malah pergi."
Sang pemilik bola mata coklat, kini merogoh tas mengambil ponsel untuk mengirim pesan kepada sang suami.
(Papah, ini kemana sih. Mommy cariin juga.)
Pesan dikirim Dwinda, tak kunjung dibalas juga oleh suaminya. Ia mulai duduk di kursi, untuk menunggu Ellad menghampirinya kembali.
Setengah jam berlalu, Ellad tak kunjung kembali. Membuat rasa bosan menyelimuti hati Dwinda.
Ia menatap layar ponsel, berharap jika sang suami membalas pesan yang sengaja ia kirim.
Beberapa kali di lihat, tetap saja tidak ada balasan dari Ellad, mengepal erat ponsel. Rasanya ingin sekali melemparkan ke atas lantai.
Pada akhirnya Ellad datang kembali, raut wajah istrinya kini kembali berseri. Tak susah payah ia menunggu kedatangan suaminya, yang tidak ia tahu kepergiannya.
"Kamu ini kemana saja sih, pih. Mommy cariin."
Ellad malah tersenyum, dan menjawab perkataan istrinya dengan begitu santainya." tadi aku ketoilet dulu sayang."
"Kok lama sih, mommy itu pengen kalung berlian. Kenapa papah tidak kasih uangnya saja pada mommy, kalau Papi main pergi begitu saja. Mommy kan jadi malu."
__ADS_1
Sepertinya Ellad sengaja meninggalkan istrinya itu, untuk melihat amarah Dwinda." ya maaf, namanya lupa."
"Kebiasaan deh, ya sudah ayo cepat kita beli berlian."
Dwinda mulai mengajak lagi sang suami untuk masuk ke toko berlian, karena wanita pemilik bola mata coklat itu tak sabar ingin segera memakai kalung berlian yang sudah ia temui.
Sosok seorang lelaki tiba-tiba datang menghampiri Dwinda dan Ellad.
" Dania, apa ini kamu?" tanya lelaki berparas tampan dengan wajah mulusnya. Terlihat sekali lelaki itu begitu sangat muda, membuat Dwinda mengenalnya.
"Siapa kamu?" tanya Dwinda, menutup wajah seperti malu pada lelaki berparas tampan yang menyapa dirinya.
Lelaki itu mengerutkan dahi dan berkata," masa kamu lupa, aku ini sahabat kamu. Joni. Oh ya, kamu ke sini datang sama papah kamu ya, aku baru tahu dia itu papah kamu."
Betapa malunya Dwinda, padahal ia berusaha menutupi setatusnya, dihadapan para sahabatnya. Tapi tetap saja dikenal, idetitas sengaja ia ganti.
"Heh, namaku bukan Dania. Namaku Dwinda, coba kamu tanya pada suamiku, " ucap Dwinda berpura pura, menutup nama aslinya. Jika nanti suaminya tahu, mungkin semua rahasia akan terbongkar, tapi tetap saja. Ellad sudah mengetahui semuanya, lelaki berambut putih itu hanya berpura pura tak tahu. Ia ingin kejujuran dari diri istrinya, tapi sampai sekarang sang istri masih menutupi semuanya.
Ellad, lelaki berambut putih kini bersalaman dengan lelaki berparas tampan yang mengaku sebagai sahabat Dwinda." Saya Ellad suami Dwinda. Nama istri saya bukan Dania ya."
Lelaki berparas tampan itu hanya menatap Ellad dari ujung kaki hingga ujung kepala, ia tak menyangka jika sahabatnya menikah dengan seorang lelaki tua.
Joni tetap saja menganggap Dwinda adalah Dania. Karena ia tahu betul semua postur tubuh sahabatnya itu.
"Om, jangan percaya sama dia, dia itu penipu." Tawa Joni mengelegar membuat Dwinda mengaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal.
Padahal dari dulu Dania yang mengaku sebagai Dwinda itu selalu mempunyai seorang pacar yang lebih muda dari umurnya. Tapi sekarang, sahabatnya pun kaget, dengan apa yang ia lihat.
Lelaki berparas tampan itu sedikit kemayu, dalam cara berjalan dan tingkahnya pun seperti wanita.
__ADS_1
"Memangnya kamu tahu apa tentangku, sudah jangan fitnah ya." cetus Dwinda, berharap jika Joni pergi dari hadapanya, ia tak mau melihat lelaki kemayu itu, membuat rencananya gagal.
"Alah, Dania, sudah mengaku saja. Kamu seorang dokter aja belagu." ucap lelaki kemayu dengan fostur tubuh lemasnya
Dwinda yang kesal dengan tingkah sahabatnya itu, kini menarik tangan sang suami. Untuk segera pulang, dan tak jadi membeli cincin berlian yang ia inginkan.
Lelaki itu seakan sengaja mengambil poto Dania sahabatnya, tentu saja akan ia sebarkan, supaya menjadi gosip baru ketika reuni datang.
Lelaki kemayu ini, kini mengejar Dwinda dan Ellad, menahan mereka berdua, Dwinda yang kini berhenti berucap." Heh, kamu ini kenapa sih, bisa bisanya seperti ini. Kamu mau bikin aku malu."
"Mm, bodo amat." ucap Joni memperlihatkan wajah imutnya.
"Eh Om, dia itu bukan Dwinda dia itu Dania, teman aku waktu SMA, dia jatuh miskin gara gara orang tuanya bangkrut, oh harus hati hati takut harta om habis sama dia." Joni sengaja mengompori Ellad, yang sudah tahu semua rahasia istrinya.
Dwinda kesal, menginjak sepatu lelaki kemayu itu dengan sangat keras. "Ahk, aduh sakit .... " Teriak Joni membuat Dwinda kembali menarik tangan suaminya. Untuk segera pergi menyingkir dari hadapannya.
"Heh, Dania pembohong, awas ya. Aku sebarin poto kamu baru tahu rasa, nikah sama kakek kakek, dasar miskin lu." Teriak Joni. Dwinda berusaha menahan diri agar harga dirinya tidak di jatuhkan begitu saja.
Mengerutu kesal, Dwinda berjalan lebih cepat dari sebelumnya. Mereka kini masuk ke dalam mobil,
"Kamu kenapa marah marah begitu mommy, memangnya dia itu siapa kamu. Sampai bersikukuh mengatakan nama kamu Dania Apa jangan jangan apa yang dikatakannya benar bahwa kamu itu bukan Dwinda?"
wanita pemilik bola mata coklat itu menatap ke arah suaminya dengan tatapan yang penuh kebencian, memarahi sang suami dengan berkata," Oh jadi papi lebih percaya lelaki kemayu itu daripada istri Papi sendiri, ya sudah Mommy mau turun pulang saja sendiri."
Ellad membiarkan istrinya turun dari dalam mobil, tak peduli jika Dwinda marah-marah gak jelas. Dwinda membanting pintu mobil suaminya, merasakan rasa kesal yang amat begitu tak mudah ya kendalikan.
Ellad membuka kaca mobilnya, menatap ke arah sang istri yang memperlihatkan raut wajah penuh amarah. Dwinda melipatkan kedua tangan ia menganggap jika suaminya akan merayu dan juga mengajak Dwinda masuk ke dalam mobil lagi.
Namun ternyata tidak sesuai harapan, Dwinda kini ditinggalkan pergi oleh suaminya sendiri. Membuat Iya berlari mengejar mobil Ellad yang sudah pergi meninggalkan dirinya yang masih berada di toko berlian yang diinginkan DWinda.
__ADS_1
"Papihhh, jangan pergi please."