Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 95 Aira tak menyangka.


__ADS_3

Aira mendengar suara teriakan Dwinda, membuat iya langsung bertanya kepada Maria. " Suara Dwinda. Kenapa dengan dia?"


Maria menjawab pertanyaan Aira menampilkan wajah bahagia," sepertinya Nyonya Dwinda sedang diamankan polisi."


Aira yang tak tahu menahu, merasa heran dan bertanya kembali." Loh, kenapa Dwinda di amankan polisi, memangnya di membuat suatu tindakan kriminal apa?"


Pelayan berumur tiga puluh delapan tahu, hanya mengangkat kedua bahunya, ia juga tak mengerti kenapa Dwinda bisa diamankan polisi. Padahal yang ia perlihatkan pada Ellad hanya sebuah video saat Dwinda mengoda Edric.


Tubuh lemas Aira, membuat ia memaksakan diri untuk melihat ke luar rumah. Tapi Maria menahan sang Nona, agar beristirahat menjaga kandungannya.


"Nona mau kemana? Sebaiknya Nona jangan ke luar rumah, kondisi nona tidak sedang baik."


Aira tak mempedulikan Maria, ia memaksakan diri untuk berjalan melihat apa yang sudah terjadi di luar rumah.


Perasaan sudah tak karuan, akhirnya Maria menuntun majikannya keluar dari rumah, melihat pemandangan dimana Dwinda ikut ke dalam mobil polisi.


"Tuh kan, sudah saya bilang Nona. Nyonya Dwinda dibawa polisi, sepertinya dia sudah membuat tindakan kriminal pada Tuan Ellad."


Aira menatap ke arah Maria, " kamu tahu dari mana."


"Asal nebak saja."


"Mbak Maria, hem. "


Maria menutup mulut tertawa dihadapan Aira, dimana wanita desa itu menggelengkan kepala.


Edric menyadari jika istrinya berada di belakang punggungnya.


"Aira, kenapa kamu malah keluar rumah. Kamu harus istirahat, kondisi kamu belum setabil."


"Aku tadi mendengar suara teriakan, jadi penasaran ingin melihat ke luar rumah."


Ellad akan menjadi saksi kejahatan Dwinda, kini menaiki mobil sendiri. Edric menatap ke arah istrinya yang tengah mengandung buah hatinya, memegang kedua pipi Aira dan berkata." Sebaiknya kamu istirahat. "


Edric memerintahkan Maria untuk membawa Aira masuk kembali ke dalam rumah.


Dimana Edric mengikuti dari arah belakang punggung sang istri.

__ADS_1


Setelah sampai di dalam kamar, Maria membantu Aira untuk menyandarkan tubuh.


"Kamu istirahat dulu ya, jangan kemana mana."


Maria berpamitan untuk keluar, sedangkan Edric menunggu sang istri di dalam kamar. Tangan kekar mengusap pelan rambut kepala Aira," aku mau tanya sama kamu, sebenarnya kenapa dengan Dwinda. Kenapa bisa, Dwinda dibawa oleh polisi?"


Pertanyaan Aira membuat tangan Edric berhenti, ia menarik napas, mengeluarkan terasa berat. malas menceritakan kejahatan Dwinda.


Aira meraih tangan Edric yang berhenti di atas kepalanya, mempelihatkan kedua mata berbinar, agar sang suami mau menceritakan semuanya.


"Baiklah kalau kamu mau tahu, kenapa Dwinda dibawa oleh polisi. "


Menganggukkan kepala, Aira dengan wajah fokusnya mendengarkan cerita dari suaminya. " Dwinda sudah membunuh ibuku dan membuat aku lumpuh."


Deg .....


Aira tak menyangka saat Edric mengatakan kejahatan Dwinda, ia mengigat kejadian dimana sang pemilik bola mata coklat itu hampir menusuk tubuhnya dan menyalahkannya karena hadir di keluarga Ellad.


Aira menundukkan pandangan, ia menyesal telah bertanya hal itu, " maafkan aku, karena bertanya seperti itu."


Edric tersenyum kecil, ia menatap wajah istri dan kedua bola mata berbinar itu, membuat hasratnya tak tahan ingin mencium dan membawa sang istri kealam nirwana.


"Kenapa harus minta maaf, kan kamu tidak salah." Edric memegang dagu sang istri. Membuat ia merasa tak kuat hingga bibirnya menyentuh bibir tipis milik istrinya.


Mendapat ciuman yang halah, membuat Aira tersenyum. " Edric, aku berbicara serius."


Edric mengeluarkan rayuan gombalnya." Aku malahan dua rius."


"Apaan sih."


Keharmonisan mereka terkadang membuat orang yang melihatnya pastinya merasa iri.


"Apa kelumpuhan kamu bisa sembuh?" tanya Aira, penasaran, ada rasa tak tega pada suaminya. Ia ingin melihat Edric bisa berjalan normal.


"Entahlah, karena selama ini aku terlalu percaya dengan pengobatan Dwinda. Merasa tak yakin akan sembuh!" jawab Edric terdengar putus asa. Aira memegang bahu sang suami.


"Kenapa berbicara seperti itu, aku yakin kamu pasti sembuh jika mendapatkan pengobatan terbaik, " ucap Aira menyemangati lelaki yang kini menjadi suaminya.

__ADS_1


Edric semakin cinta terhadap istrinya, ia tak salah memilih seorang gadis desa untuk menjadi pendamping hidupnya. Perasaanya seperti berbunga bunga, hatinya bahagia.


"Terima kasih Aira, aku tak bisa menjadi diriku sendiri, jika aku tidak menemukan kamu saat itu juga. Kamu sudah membuat hari hariku bahagia dan tenang," ungkap Edric, meluapkan semua isi dalam hatinya.


Aira mencoba bangkit memeluk sang suami dengan penuh cinta." Aku juga tidak akan menjadi diriku sendiriku sendiri, jika kamu tidak hadir dalam hidupku saat itu."


Maria melihat kebahagian Aira, ikut merasakan semua itu. Ia ternyata sengaja mengintip mendengarkan obrolan Aira dan juga Edric saat menceritakan Dwinda.


"Wah, gosip baru nih." Maria meninggalkan pintu kamar Aira, ia berjalan menuju ke dapur untuk menceritakan kejahatan Dwinda pada teman temanya, dimana Dwinda sekarang dibawa ke kantor polisi.


"Berita bagus."


Ratna berjalan terburu buru, hingga kedua pelayan itu beradu. " Aduh Maria, kenapa kamu jalan tidak hati hati sih."


Maria mengusap kepalanya yang terasa sakit, ia mendengus kesal, menatap pada Ratna." Ahk, kamu juga sama."


Maria menarik tangan Ratna dan berkata," kamu tahu nggak?"


"Mm, tahu apa!?" jawab Ratna degan menyugingkan bibir bawahnya.


"Musuh kita si Dwinda, masuk ke dalam penjara. Karena kasus kematian Bu Maya dan juga kelumpuhan Tuan Edric," ucap Maria, setelah mendengarkan obrolan antara Kedua majikannya di dalam kamar.


Ratna membulatkan kedua mata, masih tak percaya." Serius kamu, kalau ngomong."


Maria memukul tangan Ratna," aku serius. " Menjiwir telinganya sendiri," aku dengar dengan kedua telingaku." Tangan mulai memposisikan kembali," awalnya aku tak percaya. Karena Tuan Edric yang mengatakan semuanya dari sana aku percaya."


Menghelap napas, Ratna tak menyangka jika Dwinda sejahat dan selicik itu.


"Kamu dengan apa alasanya, kenapa Dwinda melakukan semua itu?" tanya Ratna pada Maria.


Maria langsung pergi, ia tak mendengarkan kembali obrolan kedua majikannya di dalam kamar tidur. " Entahlah aku juga tidak tahu, hanya mendengar itu saja. Selebihnya aku tidak tahu."


Ratna menyenderkan tubuh di atas meja, melipatkan kedua tangan," mm. Kamu aku kira kamu tahu kenapa Nyonya Dwinda melakukan semua itu."


Maria mengibaskan tangan kanannya, ia tersenyum senang dan berkata," sudah masalah itu tak penting, sebaiknya kita beritahu kabar ini pada para pelayan lainya. Biar kita rayakan hari menderita si nenek sihir itu, dimana ia sekarang masuk ke dalam penjara. "


Ratna, setuju dengan ucapan sahabatnya. " Ide yang bagus tu, ya sudah kita beritahu semua pelayan, sepertinya mereka akan senang dan happy. "

__ADS_1


Ratna dan juga Maria berjalan terburu buru. Untuk pergi ke dapur, memberi sebuah pengumuman yang mengasikan.


__ADS_2