
Welly dan Carlos pulang dengan membawa kekecewaan, Welly kesal ia masih mengharapkan cinta Lilia yang ternyata ia adalah Lucky.
"Bagaimana endingnya jadi memilukan seperti ini, wanita yang aku cintai ternyata adalah seorang laki laki."
Mengusap kasar wajah, Welly duduk di mobil. Ia mulai menjalankan mesin mobilnya. Pulang dengan rasa sedih yang mendera pada hati, mengirim pesan sudah tak ada jawaban dari Lilia,. Welly masih tak percaya.
"Sial, kenapa bisa si Lucky itu menjadi sosok seorang wanita. Selama ini aku .... "
Welly membayangkan dirinya, pernah mencium pipi Lilia yang ternyata adalah seorang laki laki.
Ia mengusap dan membersihkan bibirnya berulang kali.
Membuang ludah, " hah, aku benar benar seperti orang gila. Di kerjai selama setahun ini, memang si Edric itu tak waras."
Menggerutu kesal pada dirinya sendiri, Welly mencoba melihat cermin mobil, ia sudah tak sabar ingin mengencangkan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Sial."
Berbeda dengan Carlos, ia malah menangis bersedih dan menciptakan lagu." Oh ternyata selama ini ..... Orang yang aku cinta sama sama memiliki pedang .... Ohh, kenapa bisa."
Mengendari mobil dengan pelan, tak mau larut dalam kemarahan." Kenapa bisa si Lucky menjadi sosok seorang wanita, nyaris wajahnya tak memperlihakan sosok seorang. Laki laki, apa yang ia pakai sampai bisa seperti wanita."
Pesan mulai datang dari Welly kepada Carlos.
(Car, apa kamu merasakan sakit hati. Bukan karena putus cinta, tapi mendengar kenyataan pahit, jika sebenarnya Lilia itu adalah Lucky.)
(Hah, ya. Aku tak menyangka jika Si Lilia itu berpedang.)
(Maksud kamu? )
( Sama sama kaya kita punya pedang bukan tempatnya.)
(Kita harus memberi pelajaran sama si Lucky itu.)
(Nggak ah, aku sudah malas. )
(Loh, memangnya kamu nggak sakit hati apa dan membalaskan dendam pada si Lucky.)
(Malas tiada guna dan sekarang aku kecewa.)
(Ya sudah, kalau kamu tidak mau balas dendam biar aku saja.)
__ADS_1
Welly seperti ingin melakukan sesuatu hal saja, sampai sampai ia berkata seperti itu.
Pesan pun berhenti sampai Carlos menolak untuk bekerja sama.
Hingga pesan datang lagi dari Carlos, Welly mengira jika sahabatnya itu tidak akan membalas pesan. Tapi nyatanya masih ada balasan pesan lainya.
(Sebaiknya stop kita balas dendam. Mungkin ini semua teguran untuk kita, kerena sudah jahil terhadap orang lain.)
"Tumben-tumbenan dia sok bijak." Ucap Welly dalam hati.
(Tapi Si Lucky pantas mendapatkan hukuman.)
Welly mengirim pesan pada Carlos. Kembali, seperti tak puas jika tidak mengerjai dan balas dendam pada satu sahabatnya itu.
(Memang iya, tapi coba kita renungi diri kita sendiri, selama ini kita sering usil pada sahabat sahabat kita semua, Kamu tahu sendirikan, mereka pastinya merasa risih dengan kelakuan kita. Sebaiknya kita rubah diri kita, kamu tahu sendirikan kita sudah berada di fase yang harusnya menikmati masa jadi ayah. Bukan malah jadi jomblo terus menerus.)
Welly memajukkan bibir bawahnya, Baru kali ini mendengar perkataan Carlos sok bijak dan menyadari dirinya sendiri.
(Ya sudah kalau nggak mau di ajak kerja sama.)
Carlos melihat isi pesan dari sahabatnya hanya bisa mengelengkan kepala, karena Welly tak mau berubah rubah.
Ia membiarkan Welly, tak peduli dengan apa yang akan dilakukan sahabatnya itu. Yang terpenting sekarang Carlos mencari pasangan hidupnya.
(Ya elah luh, sok benar saja.)
(Bodo amat.)
Welly kesal pada dirinya sendiri, ia kini mematikan ponselnya dan fokus melihat ke arah jalanan.
********
"Aira. Edric. "
Panggilan suara Lucky membuat kedua insan itu membalikkan badan dan berkata. " ya kenapa?"
"Aku pamit dulu ya!" balas Lucky, memperlihatkan senyuman ramahnya. Seperti tak ada beban yang menyelimuti hati Lucky saat itu, ia mejadi sosok orang tang terlihat bahagia.
"Loh, mau ke mana. Baru saja selesai makan?" tanya Aira, kepada Lucky. Lelaki itu hanya tersenyum tipis dan mulai melangkahkan kakinya pergi dari rumah Aira.
"Aku pamit mau pulang ke rumah ayahku. kebetulan sekali ayah dan kedua adikku mengajak untuk pergi berlibur. " pamit sembari melabaikan tangan ke arah Aira dan Edric terlihat jika usaha tidak pernah menghianati hasilnya.
__ADS_1
"Wah, sepertinya menyanangkan sekali." ucap Edric sedikit berteriak. Dimana sahabatnya itu sudah sampai di depan mobil.
"Tentu saja, kapan lagi aku berkumpul dengan ayahku dan kedua adik adikku." balas Lucky tak kalah berteriak, menjawab perkataan sang sahabat. Ia membuka pintu mobil, untuk berangkat pergi menuju ke rumah sang ayah.
"Benar juga sih. Ya sudah hati hati di jalan ya," Teriak Edric melabaikan tangan.
"Oke."
Lucky tak kalah berteriak, sembari menyalahkan mesin mobilnya.
Merubah Lucky menjadi lelaki sejati sudah terlaksana, walau begitu butuh proses dan waktu yang lama. Begitupun dengan kaki Edric, sembuhnya kaki sang CEO muda dan sebuh pula Lucky menjadi lelaki pasa umumnya.
Menatap mobil sang sahabat yang sudah pergi jauh, Air memberikan ponselnya pada Edric dimana satu pesan datang dari sang ayah.
"Nih, pesan dari Daddy."
Edric langsung meraih ponsel istrinya, melihat pesan dari sang ayah.
(Bagaimana ke adaan kalian di sana? Daddy di sini rindu kalian. Daddy mendengar sekarang kamu sudah bisa berjalan lagi. Edric. )
Selama di luar negri memang mereka jarang berkomunikasi, atau mengirim pesan. Karena kesibukan dalam mengurus Edric agar sembuh dengan baik cukup menguras waktu dan tenanga.
"Sepertinya Daddy mengiginkan kita pulang, kasihan juga sih. Kalau kita berlama lama di sini. "ucap Edric terdengar menghuatirkan sang ayah.
Aira mengerti apa yang dirasakan suaminya." Ya sudah besok kita pulang saja, kasihan Daddy pasti dia tak ada teman mengobrol. "
"Lalu Erlangga, bagaimana?" tanya Edric, ia justru lebih kuatir dengan ke adaan anak pertamanya. Apalagi kondisi Aira yang baru saja melahirkan, membuat rasa takut pada diri Edric.
"Iya juga sih!" jawab Aira diabang kebingungan.
"Belum lagi kondisi kamu yang baru saja melahirkan, sebaiknya kita tunggu saja selama dua bulan. Tinggal dulu di sini, menunggu kesehatanmu pulih, " ucap Edric begitu perhatian terhadapa sang istri.
"Ya sudah kalau begitu, " balas Aira yang hanya bisa menuruti apa perkataan suaminya.
Ia selalu menjadi istri yang penurut ketika Edric selalu memanjakkannya.
Edric tak pernah membuat hati Aira terluka, ia selalu menghargai istrinya.
"Kamu bahagia denganku." Terkadang perkataan itu, membuat Aira tertawa.
"Kamu ini kadang aneh ya, kalau iya aku tak bahagia, mungkin sekarang aku sudah meninggalkan kamu. Membiarkan kamu begitu saja sendirian." balas Aira. Tersenyum lepas, kedua mata berbinar.
__ADS_1
"Tega, " cetus Edric. Tentulah membuat Aira mencubit kedua pipi suaminya.