Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 69 Kemarahan para warga


__ADS_3

Tarjo dan Andi ketakutan, saat mendengar para warga dan ibu ibu di desa Aira, berbodong bondong menyuruh mereka keluar dari dalam rumah.


"Bagaimana ini, Nona, tuan. Kami benar benar takut, kalau mereka membakar kita hidup hidup bagaimana," ucap sang suruhan Andi, badan berotot tapi nyali seperti anak kecil.


"Iya, tuan. Apa yang dikatakan Andi ada benarnya juga, bagaimana ini tuan," timpal Tarjo, yang malah semakin memperkeruh suasana.


Mereka terlihat seperti orang lemah, mengandalkan rasa takut, tanpa ingin mejelaskan semua pada warga.


Edric dengan kursi rodanya, mendekat ke arah Andi dan juga Tarjo." kalian, badan gede. Tapi nyali ciuttttt."


Mereka berdua saling berpegangan tangan, kedua tangan dan badan bergetar, karena mendengar amukan para warga di luar rumah.


Terasa suasana di desa itu semakin mencekam, para warga berbondong bondong dengan membawa obor seperti ingin membakar rumah Siti.


"Aira, cepat keluar dari dalam rumahmu itu. Jika kalian tidak keluar, kami akan bakar rumah ini sekarang juga." Para warga di desa, saling menghakimi satu sama lain, tanpa mendengar penjelasan Aira dan yang lain.


Aira menaruh foto sang Ibunda, ia kini bangkit berdiri, untuk segera menghampiri para warga yang berkumpul di depan rumahnya.


Membuka pintu, Edric kini menyusul sang istri dari belakang punggungnya. Dan di susul kembali oleh suruhan dan sopir.


Warga memperlihatkan kemarahan mereka, pada Aira yang menampakan diri di hadapan para warga.


"Ada apa, kenapa kalian malah marah marah tak jelas?" Aira menangis di hadapan para warga di desanya.


Ibu ibu yang salah sangka terhadap Aira, kini meneriaki wanita Desa itu dengan berkata," alah sudahlah hapus air mata kebohonganmu itu Aira, kami sudah tahu bahwa kamu ini adalah iblis yang berwujud manusia."


Aira merasa heran, dengan perkataan ibu-ibu di desanya," Apa maksud kalian? Kenapa kalian berkata seperti itu?"


"Sudahlah jangan pura-pura Lugu, kami tahu bahwa kamu kabur setelah membunuh ibu kamu sendiri. Meninggalkan jasad ibumu, untung saja ayah tirimu baik, mau menguburkan jasad ibumu, tanpa kamu tanggung jawab!"

__ADS_1


Mendengar jawaban ibu ibu di desa, tentu saja membuat Aira syok berat, bagaimana bisa Sodikin memfitnah Aira dengan keji seperti itu.


"Lelaki tua itu benar benar keterlaluan."


Ibu ibu yang sudah di rendungi amarah, kini memarahi Aira kembali," sudahlah Aira, katakan dengan jujur, kami tahu kamu pergi bersama orang kota dan rela tubuhmu dijual demi uang."


Perkataan para ibu ibu di desa, sangatlah kejam. Apalagi Sodikin yang sudah menyebarkan fitnah keji tanpa perasaan sedikit pun.


"Jadi kalian percaya dengan Sodikin, lelaki kep*rat itu. Tanpa mendengar cerita dariku." Teriak Aira, berusaha menjelaskan semua kejadian yang sebenarnya terjadi.


"Alah. Sudahlah jangan sok membela diri kamu Aira, sebaiknya kamu cepat pergi dari Desa ini, kami tidak mau kedatangan orang jahat dan tega membunuh ibunya sendiri," Usir para warga, saling menyalahkan Aira.


Edric lelaki lumpuh dengan mengunakan tangan kini angkat bicara. Ibu ibu di desa terdiam, melihat sosok tampan mengehentikan keributan dan juga kegaduhan di halaman rumah Siti.


"Ibu-ibu, saya akan meluruskan semuanya. Saya mohon kalian jangan berperasangka tidak baik terhadap istri saya."


Apalagi menyangkut ketampatan Edric, para ibu ibu seakan lemah dan terpesona, mereka kagum dengan ketampanan Edric.


Aira mengerutu kesal dalam hati, melipatkan kedua tangan melihat ibu ibu, seperti tertarik dengan wajah Edric." Dasar ibu ibu. Kalau liat yang ganteng aja pada diam."


"Perkenalkan saya Edric suami dari Aira, saya di sini ingin menjelaskan semuanya, dan meluruskan kesalah pahaman yang terjadi pada Aira." ucap Edric. Membuat ibu ibu berkata." alah, si Aira pasti jual diri bisa mendapatkan lelaki tampan."


Aira mengepal kedua tangan, kesal akan tuduhan orang orang desa, mereka rajin memfitnah dan membuat tuduhan.


"Heh, ibu ibu sebelum ngomong itu di pikir dulu, takutnya jatuh fitnah. Iri ya sama saya dapat suami ganteng, dari pada kalian," karena rasa kesal Aira meluapkan semua pada hatinya, ia tak segan segan mengatakan hal yang memancing emosi ibu ibu.


"Heh, kamu ini kalau ngomong Aira," ucap ibu ibu, yang terlihat iri dengan Aira.


"Apa, mau fitnah saya lagi. Karena berbicara sesuai kenyataan." balas Aira tak ingin kalah dengan ibu ibu yang rajin memfitnah dirinya.

__ADS_1


Tarjo dan Andi seakan senang, melihat Aira adu mulut dengan ibu ibu yang memfitnahnya.


Edric berusaha menenangkan semuanya, ia ingin menjelaskan lagi.


Namun, para warga yang sudah di selimuti amarah, membawa obor berbondong-bondong dan ingin membakar semua rumah Aira.


Edric semakin tak bisa mengendalikan warga yang begitu banyak, mereka hampir saja melemparkan obor berisi api pada rumah Aira.


Sampai dimana," tunggu."


Para Polisi datang orang-orang di Desa itu.


Aira tak menyangka jika di desanya kedatangan begitu banyak polisi, ternyata semua sudah di rencanakan Edric sebelum ia mengantarkan istrinya menuju ke Desa.


Para warga seperti ketakutan, apalagi melihat polisi membawa senjata pistol.


"Aku sudah peringatkan kalian semua agar tidak, memberontak dan memfitnah Aira. Jadinya seperti ini. Asal kalian tahu pak sodikin sudah saya masukkan ke dalam penjara, karena kasus kematian ibunda Aira, karena ulah suaminya sendiri. Jadi kalian sudah difitnah oleh Sodikin. Seharunya saat ada kejadian pembunuhan, kalian jangan main hakim sendiri, tapi laporkan ke polisi agar semuanya beres dan tidak ada kata saling fitnah satu sama lain," ucap tegas Edric.


"Kalian dengan apa kata tuan kami." ucap suruhan Edric, hanya berani saat polisi mengepung para warga.


Orang orang di desa menangis tak mau dibawa ke kantor polisi, mereka berusaha meminta maaf kepada Aira agar dibebaskan.


"Aira, maafkan kami kami tidak akan memfitnah kamu lagi, tolong lepaskan kami Aira."


Ada rasa tak tega dalam hati Aira pada para warga, apalagi melihat mereka menangis dan memohon kepada Aira untuk dibebaskan dari cengkraman polisi.


"Kenapa setelah kalian ditangkap oleh para polisi baru memohon kepadaku dan juga meminta maaf, Kenapa tadi kalian tidak melakukan hal seperti itu saat tidak ada polisi, kalian malah sibuk memfitnahku tanpa mendengar penjelasan yang aku lontarkan untuk kalian dengar," ucap Aira kepada orang orang di desanya.


"Kami hilaf, Kami tidak akan melakukan hal seperti itu lagi Aira, kami akan lebih teliti dalam menyalahkan orang lain, membebaskan kami Aira kami tidak mau di dalam penjara," permohonan para warga di desa membuat Aira berpikir sejenak.

__ADS_1


__ADS_2