
Tiga bulan berlalu, sudah saatnya Aira dan Edric pulang ke rumah. Mereka bersiap membawa Erlangga menemui Ellad sang kakek, rasa rindu mungkin sudah menggebu di hati sosok lelaki tua berambut putih itu.
Aira sudah mempersiapkan semuanya, mereka pulang dengan wajah gembira, perasaan tak sabar ingin segera menemui Ellad sudah menggebu pada hati mereka.
Kebahagian mereka pancarkan di setiap perjalanan menuju pulang, rasa syukur akan kesembuhan Edric tak lupa membuat senyuman terus terukir dari bibir keduanya.
Masalah Sudah kelar, waktunya mereka menikmati hidup, untuk bisa bersama-sama. Menjalani semua rasa bahagia.
"Apa ya nanti tanggapan Daddy?"
"Mm, entahlah. Yang pastinya bahagia!"
Edric mencubit pipi Aira, membuat wanita Desa itu memajukan kedua bibirnya. Meringis kesakitan, karena rasa gemas berlebihan dari diri Edric.
"Ih, pelan pelan dong."
Ponsel sang CEO muda itu kini berdering, satu panggilan datang dari sang sahabat, dimana Lucky ingin memberikan sesuatu untuk menjadi kenang-kenangannya ketika mereka tidak bertemu.
"Halo, Loh kenapa kamu nggak bilang kalau mau pergi ke Indonesia?" tanya Lucky terdengar kecewa, karena Edric tidak memberitahu kepulangannya.
"Sorry, aku buru-buru jadi lupa memberitahu kamu!" jawab Edric, merasa bersalah. Karena Lucky adalah sosok orang yang sudah membuat dirinya bisa merasakan kebahagiaan dengan berjalan seperti dulu.
"Ya, sudah kalau begitu hati-hati di jalan. Aku hanya ingin memberitahu kamu tentang pernikahanku dengan Amanda," balas Lucky, sembari menggenggam lembar undangan. Yang akan dia berikan kepada Edric dan sahabat l lainnya.
"Oke kalau begitu, hati hati di jalan," ucap Lucky, dengan tersenyum penuh kecewa. Ia sangat ingin pernikahannya dilihat oleh sahabat satu-satunya yang selalu mengerti dia dan kini bisa merubah hidupnya.
Panggilan telepon pun kini terputus sebelah pihak, dimana Edric langsung menaruh ponselnya," siapa yang menelepon."
Lamunan Edric tiba-tiba membuyar, ketika Aira bertanya siapa orang yang sudah menghubunginya.
"Lucky memberitahu tanggal pernikahannya, dan mengundang kita untuk datang pada tanggal itu."
"Wah, sayang banget ya kita sudah mau pulang, Lucky baru memberitahu tanggal pernikahannya."
"Iya, harus bagaimana lagi. "
__ADS_1
Dua puluh menit berlalu, Erlangga ternyata tertidur begitu pulas di dalam pesawat. Hingga ada salah satu pramugari mendekat menawarkan sebuah makanan.
"Hello."
Aira tidak suka dengan cara kedipan pramugari itu terhadap suaminya, membuat ia berpura-pura batuk hingga di mana Edric menolak tawaran sampai pramugari.
"Cemburu ya."
Aira menatap jendela pesawat, tak memperdulikan perkataan suaminya, " hey, kok kamu marah begitu."
Padahal Aira berusaha tidak memperlihatkan rasa cemburunya. Tapi tetap saja ketika salah satu wanita melirik suaminya, membuat api cemburu menerpa hatinya.
"Sayang, kamu marah. Jangan gitu ah jelak."
Edric mencoba membuat sebuah guyonan agar sang istri tidak serius menanggapi pramugari itu.
Membuat wajah penuh amarahnya ia perlihatkan di hadapan Edric, " Aku nggak marah, hanya kesal saja."
Edric tertawa, mendengar jawaban sang istri. Tentulah membuat ia mencubit dagu Aira.
Aira menyingkirkan tangan kekar sang suami, mencoba untuk tidak menanggapi apa yang dikatakan Edric.
Edric hanya bisa diam, berusaha tetap tenang jika menghadapi mood seorang wanita.
"Ya sudah deh, kalau marah terus."
Aira berusaha untuk tidur, agar bisa meredamkan api cemburu dalam hatinya, sedangkan Edric hanya bisa mengusap kasar wajah menarik nafas mengeluarkan secara perlahan." menghadapi sifat wanita ternyata bukanlah hal yang mudah, apalagi ketika dirinya didekati seorang wanita cantik. "
Edric kini melayangkan sebuah perkataan," Kalau cemburu ya bilang saja, wanita cantik manapun yang mendekatiku, aku tetap memilih kamu Aira. Tidak akan ada yang bisa menggantikan istriku ini."
Aira tiba-tiba saja tersenyum dalam tidurnya, merasa gombalan itu membuat hatinya begitu tenang.
"Kamu kenapa? Tidur sambil senyum."
Aira tak menyangka jika sang suami memperhatikannya, padahal Ia mencoba menutupi wajah dengan kain tipis.
__ADS_1
Satu jam berlalu, pesawat mulai turun landas, Edric masih melihat mod sang istri tetap tidak baik. Aira berjalan dengan bibir cemberut, mendahului sang suami.
Walaupun begitu, Edric tetap menanggapi sang istri dengan kata-kata lembut, tak pernah memarahinya selalu berusaha tetap sabar.
Menjadi seorang suami membuat Edric perlahan demi perlahan mengerti, ia juga tahu, tak muda rasanya .embagi waktu untuk mengurus diri sendiri dan keperluan anak begitupun dengan istrinya sendiri.
Di saat mood sang istri berubah-ubah, Edric hanya bisa menanggapi semuanya dengan rasa tenang. Mencoba membujuk dengan kelembutan, membiarkan sang istri beristirahat.
Ataupun membantu pekerjaannya yang begitu berat.
Edric sangatlah menghargai seorang Istri, apalagi pengorbanannya yang amat lah banyak.
Walau pun Aira berjalan lebih dulu daripada Edric, sang CEO muda itu tetap menjaga istrinya, ia burasa mengalah dan memahami.
"Sayang, tunggu."
Edric mempercepat langkah kakinya untuk bisa sejajar dengan sang istri," gimana. Kalau sebelum pulang ke rumah Daddy, kita pergi dulu ke toko es krim, kita pergi ke toko coklat, atau ke toko bolu, toko bunga, Oh ya satu lagi toko boneka? Bagaimana?"
Edric mencoba membujuk sang istri agar bibir cemberut itu hilang digantikan oleh sebuah senyuman lebar.
Aira sangat-sangatlah ingin, pergi ke toko yang dikatakan oleh suaminya. Tapi karena ego dan rasa malu, Aira tetap memperlihatkan raut wajah cemburunya.
Ia berjalan lebih cepat lagi agar Edric tidak bisa mengejarnya." Sayang, kok. Kamu gitu sih. Masih marah sama aku ya, maafin aku deh, aku janji kalau ada wanita yang bertanya kepadaku, aku akan berusaha diam. "
Ketika kata maaf itu dilayangkan, saat itulah Aira tersenyum senang, bukan bujukan yang ia inginkan, hanya perkataan maaf terlontar dari mulut suaminya.
Edric baru tahu jika wanita akan terkalahkan hanya dengan satu kata maaf saja, padahal dari tadi Edric berjuang hanya untuk membuat bibir mengkerut itu tersenyum kembali di hadapannya.
"Ya sudah, sebelum kita pergi ke rumah Daddy, gimana kalau kita ke toko bolu, toko coklat. Toko baju dan satu lagi toko boneka. Oh ya toko Eskrim."
Baru mood Aira kembali normal, pada saat itulah mulut Aira mengeluarkan semua ungkapan yang ia inginkan.
Edric hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya yang seperti anak kecil, namun tetap saja bagi Edric melihat sang istri seperti itu sangatlah menggemaskan apapun keinginan wanita Desa itu, pastinya akan dipenuhi oleh Edric. Tak ada satupun yang yerlewatkan hanya demi membahagiakan sang istri tercinta."
"Ya sudah ayo kita berangkat."
__ADS_1
Betapa beruntungnya Aira mendapatkan seorang CEO muda yang baik hati dan mengerti akan dirinya sendiri, menjadi sosok lelaki bertanggung jawab dan juga bekerja keras.