Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 42 Licik


__ADS_3

Orang mana yang tidak akan kaget setelah mendengar sang CEO muda mengatakan sebuah syarat, untuk seorang sopir yang sudah lama bekerja dengan dirinya. Pak Hasan berharap jika syarat itu tidak memberatkan dirinya dan juga tidak membuat dirinya keluar pekerjaannya yang menjadi seorang sopir.


"Pak Hasan, kok tegang begitu, tenang saja syaratnya ini tak akan membuat Pak Hasan terkena serangan jantung, kok." Sempat-sempatnya Edric melayangkan sebuah candaan untuk lelaki tua yang tengah mengendarai mobil.


Pak Hasan tersenyum kecil, masih ada rasa takut untuk syarat yang akan diberikan sang tuan muda.


"Syaratnya mudah sekali Pak Hasan, jadi Pak Hasan tak usah berkeringat seperti itu."


"Memangnya syaratnya apa?"


Edric tersenyum sinis, membuat Pak Hasan yang menatap ke arah cermin kecil yang menggantung di depannya.


"Jangan libatkan saya, dalam hal apapun tentang sekretaris baru itu. "


Jawaban Edric tentulah membuat Pak Hasan, membulatkan mulutnya," Hanya itu saja Pak, tidak ada yang lain."


"Tidak ada Pak Hasan hanya itu saja. Yang saya takutkan kemungkinan besar jika Pak Hasan membantu sekretaris baru saya itu pastinya saya juga akan terlibat maka dengan sebisa mungkin dan sepintar mungkin Pak Hasan jangan sampai melibatkan saya, walaupun sekecil apapun masalanya, mengerti?"


Lelaki berparas tampan yang menjadi CEO muda begitu setia dengan sang istri, sampai-sampai ia tak mau terlibat dalam masalah Laudia, yang di mana sopirnya akan membantu dan menguak kehidupan Laudia yang sebenarnya.


"kalau hanya syarat itu saja, saya berjanji tidak akan melibatkan tuan dalam hal sekecil apapun."


"Bagus kalau begitu, saya yakin Pak Hasan bisa membantu dia. Saya berharap jika dia terselamatkan dari keluarga yang tega menyiksanya."


"Saya juga berharap seperti itu, tuan."


Mobil pun kini terparkir di halaman rumah, saatnya Edric menemui sang istri yang sudah ia rindukan dari tadi pagi. Tak Sabar ya segala turun dari dalam mobil, andai saja kakinya bisa berjalan normal, mungkin Edric sudah keluar dengan sendirinya berlari menemui sang istri.


Pak Hasan, terburu-buru mengeluarkan tuan muda, membantu Edric untuk duduk di kursi roda. Pak Hasan sudah tahu sang majikan sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan istrinya.


"Udah nggak sabar ya, tuan."


"Kok, tahu, Pak?"

__ADS_1


"Pastinya!"


"Kan lagi merasakan benih benih cinta."


Tawa diiringi sebuah candaan, tak membuat Edric kesal.


Aira yang menyadari kedatangan sang suami, terburu-buru untuk segera menyuruh Maria masuk ke dalam dapur.


Padahal, ia ingin mendengar penjelasan yang keluar dari mulut pelayan yang dekat dengannya. Tapi karena kedatangan Edric secara tiba-tiba, membuat Aira mempersiapkan diri untuk segera menyambut kedatangan suaminya itu. Namun di tengah kebahagiaan yang melanda hati Aira dan juga Edric.


Ada sesuatu yang ternyata membuat kedua insan yang berada di dalam kamar saling terdiam, Ellad dan juga Dwinda. Mereka saling membelakangi diri mereka masing-masing.


Dwinda sebisa mungkin harus menutupi rahasia dan juga balas dendamnya terhadap keluarga Ellad, dengan terpaksa ya harus menjalani sebuah drama yang sebenarnya membuat dirinya tak nyaman.


Jika Dwinda tidak melakukan rencana balas dendam dan juga sebuah rahasia yang ia simpan, hidupnya tidak akan tenang begitupun pesan kedua orang tuanya.


Perlahan Ellad berusaha meluluhkan hati sang istri, dengan cara yang ia punya.


"Sayang, udah donk ngambeknya."


Dwinda berusaha mengompori suaminya agar membenci Aira, gadis dari desa yang kini menjadi suami Edric.


Karena ini adalah cara untuk bisa mengusir gadis desa yang serasa mengganggu hidup Dwinda.


"Sayang."


Dengan lembutnya Ellad, mengusap lembut bahu sang istri. Mendekat, memeluk tubuh berbody seksi itu. Perlahan bibirnya mencium, dengan kelembutan dan penuh kasih sayang.


Namun, tetap saja dengan rayuan apapun Dwinda tak mampu tergoda, ia malah menjelekkan Aira di depan suaminya," Sudahlah kalau Papi memang tidak percaya dengan mommy, sebaiknya Mommy itu pergi sekarang juga dari rumah ini."


Padahal bukannya sang pemilik bola coklat itu tidak memperpanjangkan masalah, tapi kenapa setelah semua orang yang berada di dalam kamar pergi, Dwinda malah membahas kejadian tadi.


" kok, Mommyy ngomongnya kayak gitu."

__ADS_1


"Ya, habisnya Papi itu tidak percaya pada mommy! kalaupun Papi percaya pada mommy. Sekarang juga papi usir Aira itu dari rumah ini, papi tahu sendirikan mami sudah terluka karena ulah Aira, dia itu jahat pih. Dia mau membunuh Mommy."


Dengan begitu hebatnya, ratu drama itu mengeluarkan aksinya.


"Tapi, papih tidak bisa seenaknya mengusir Aira dari rumah ini, karena .... "


Perkataan Ellad tiba tiba terjeda begitu saja, tentulah membuat Dwinda kesal dan murka.


"Kenapa? Ayo jawab?"


Ellad tak bisa mengungkapkan kebangkrutanya saat ini, sahamnya turun derastis, sekarang semua perusahaan diambil alih oleh Edric anaknya sendiri.


Dan Ellad tak jauh berbeda dengan seorang keryawan biasa.


"Kenapa, ayo jawab. Pih!"


Ellad tak berani mengatakan semuanya, ia lebih baik diam, tak mau membuat istrinya kaget.


" Sudah sebaiknya sekarang Mommy Istirahat dulu


Jangan pikirkan hal yang aneh-aneh, urusan Aira biar Papih selesaikan nanti secara kekeluargaan. Kita tidak boleh sembarangan mengusir orang lain yang berada di rumah ini, kamu tahu sendirinya Aira itu sudah menjadi istri Edric."


"Mommy tahu itu pih, untuk apa kita harus mempertahankan Aira di rumah ini, sudah terbuktikan dia orang jahat dan mau mencelakai mommy."


"Mommy, tahan dulu emosi mommy, jangan apa apa mengambil keputusan saat sedang marah. Hal itu tidak baik dilakukan."


"Sialan.Percuma saja aku berkata panjang lebar di depan lelaki tua sialan ini, dari tadi dia tidak mau mendengarkan apa perintahku." Gumam hati Dwinda.


Lelaki berambut putih itu terus mengusap rambut panjang sang istri dengan perlahan, tapi karena kemarahan yang meluap luap pada hati dan pikiran Dwinda. Membuat ia dengan teganya, menepis tangan Ellad.


Dwinda, membuang wajah, ia tak mau melihat suaminya yang tak bisa mengabulkan keinginannya. Dwinda terpaksa mendiamkan sang suami hingga lelaki tua berambut putih itu mau mengusir Aira sekarang juga dari dalam rumah.


karena Ellad yang tak bisa mengambil keputusan, lelaki berambut putih itu berdiri meninggalkan sang istri, berharap jika Dwinda bisa mengendalikan emosinya dan kembali seperti semula. Hatinya mungkin tak akan runyam seperti ini, Ellad akan baik baik saja dan tak terlalu tertekan.

__ADS_1


"Ya sudah Papi pergi dulu ya, sepertinya Edric sudah pulang, papih harus membicarakan tentang bisnis di luar kota selama tiga hari ini."


Dwinda tetap saja diam, setelah Ellad pergi dari hadapanya.


__ADS_2