
Siska berusaha mencari alasan, agar tidak ada perdebatan dan juga pertanyaan yang membuat dirinya semakin malu. Apalagi iya kini sedang berhadapan dengan seorang wanita yang menjadi istri muridnya.
" Kebetulan saya menelpon di jam segini, karena di luar negeri pasti masih sore." ucap Siska mencari-cari alasan, agar martabatnya sebagai seorang dosen tidak dipermalukan.
" Perkataan kamu memang betul, tapi tetap saja di sana sudah malam. Jadi tak pantaslah seorang wanita menelepon suami orang apalagi ini video call, dalam keadaan memakai baju kurang bahan," balas Aira dengan tatapan kesal.
Siska berusaha mencari alasan-alasan yang lain," Oh ya apa Edricnya ada?" tanya Siska mengalihkan pembicaraan lagi. Rasa malunya semakin meningkat, apalagi saat Aira membahas tentang baju yang sengaja di pakainya. Padahal, ia sudah menutup dengan selimut.
"Saya tanya lagi sama kamu, Ibu Dosen yang terhormat, mau apa nanyain suami saya!" jawab cetus Aira. Membuat sang dosen semakin gugup.
Apalagi saat Aira bertanya apa tujuanya menelepon.
Menelan ludah," gimana ini, rasanya aku sudah di sekak mati oleh istri Edric." Guman Siska dalam hati, sembari membenarkan selimutnya aga tidak jatuh.
"Kebetulan saya hanya ingin menanyakan tentang cuti Edric, jadi kapan dia masuk lagi," balas Siska, berharap jika Aira tak membuat dirinya malu lagi.
Aira menatap sang suami, dimana Edric mengerti dan ia memberikan surat lembar yang ia tulis dan mengirimkannya lewat online.
"Apa Ibu Siska membaca surat pemberitahuan cuti dari suami saya?" tanya Aira, Edric menatap dengan menyandarkan kepala pada tangannya.
Ia tak menyangka jika sang istri pandai berbicara, membuat dosen di kampusnya gugup dan tak berdaya.
Siska merasa lemah dan malu, di mana dirinya seperti seorang wanita rendah.
Menarik napas, Siksa mengambil leptot membaca isi surat yang dikirimkan Edric lewat online.
Memang dia hanya membaca pesan dari Edric saja, tanpa membaca surat pemberitahuan cuti.
"Bagaimana Ibu Dosen."
Aira memang benar, dalam surat itu. Siska membaca, dimana Edric meminta izin cuti sampai waktu penyembuhan berakhir.
__ADS_1
kedua pipi sang dosen memerah, merasa malu karena ia tidak membaca surat pemberitahuan dari muridnya sendiri.
"Iya kamu benar, saya kurang teliti membaca surat dari Edric, Maafkan saya sudah mengganggu waktu kalian berdua."
Terdengar dari kedua telinga Aira jika dosen suaminya meminta maaf, sebagai seorang wanita yang selalu menghargai orang lain. Aira menerima permintaan maaf dari Siska, " Ya sudah saya maafkan Ibu dosen yang terhormat, hanya saja saya ingatkan kepada anda tolong jaga sikap dengan murid anda sendiri. Karena seorang atasan harus bisa memberi contoh yang baik, agar muridnya bisa menjadi orang baik."
Siska menampilkan senyumannya, iya menganggukkan kepala berusaha menerima perkataan yang terlontar dari mulut Aira.
"Oh, ya. Saya mau tanya sama anda?" pertanyaan Aira sedikit membuat Siska was-was, ya tidak mau dipermalukan untuk kedua kalinya.
"Tanya apa!" jawaban Siska, membuat Aira tak sabar ingin mengatakan hal yang akan membuat dosen agar sadar.
"Apa Ibu Dosen menaruh hati pada suami saya?" tanya Aira, wanita berbadan seksi bernama Siska itu menggaruk belakang kepala yang terasa sedikit gatal.
"Oh, jelas tidak dong, masa iya. Saya menyukai murid saya sendiri, saya ini sudah tua. Jadi, harus bisa mencari yang sebanding dengan umur saya, anda tidak perlu kuatir, sebagai dosen saya tidak menaruh hati pada suami anda!" jawab Siska yang membuat Aira sedikit bernapas lega. walau masih ada keraguan dalam hati Aira, bawa Siska ini berbeda dengan wanita yang lain.
"Syukurlah Kalau anda sebagai dosen menyadari, jika tidak baik jika menaruh hati pada muridnya sendiri, apalagi sang murid sudah mempunyai seorang istri dan sebentar lagi akan memiliki seorang anak," ucap Aira dengan sengajanya membuat dosen itu sedikit cemburu dan sakit hati.
"Ya tentu saja, saya adalah pembimbing, jadi harus mencontohkan yang baik, bukan begitu," balas Siska, mengatakan apa yang dikatakan Aira barusahan.
"Nah, benar. Jadi sekarang anda sudah paham, kalau begitu, bisa tidak anda matikan panggilan teleponnya. Dan kalau bisa anda jangan menelepon-nelpon ke sini lagi, karena sudah jelaskan dalam surat pemberitahuan itu. Kalau cuti lepas dari jam pelajaran," ucap Aira, semakin membuat Siska malu, sang dosen enggan membalas lagi perkataan Aira. Ia langsung berpamitan kepada Aira dan juga Edric.
"Kalau begitu saya akhiri dulu panggilan teleponnya, maaf jika saya banyak mengganggu waktu kalian berdua," balas Siska. wanita berbadan seksi dan semok itu kini mematikan panggilan telepon.
Iya mendorong kursi rias, mulai berdiri mengacak rambut, masih tak percaya dengan apa yang ia dengar dan juga ia lihat.
"Bagaimana bisa semua ini terjadi, aku mengira jika Edric masih lajang, makanya aku berniat ingin mendekati dia, dan mengatakan perasaanku yang sebenarnya selama ini," gerutu Siska, perasaannya sekarang terasa kacau, bolak-balik ke sana kemari menatap vas bunga, Siska kini mengambil vas bunga itu menatap tajam-tajam.
" Vas bunga yang sangat cantik," ucap Siska. dengan kesadarannya ia melempar vas bunga itu ke atas lantai.
Brakkk ....
__ADS_1
Vas bunga itu langsung pecah, ke mana-mana. Siska berteriak menjambak rambutnya. Perasaannya hancur berkeping keping, sang pujaan hati ternyata sudah memiliki seorang Istri.
"Bagaimana aku bisa menerima semua ini, orang yang aku cintai dari dulu ternyata sudah memiliki seorang Istri. Bagaimana caranya untuk melupakan Edric."
Siska menangis meraung menahan sakit dalam dada, kedua orang tuanya terbangun mendengar jeritan dan juga tangisan dari kamar anaknya.
Mereka turun dari ranjang tempat tidur untuk segera menemui Siska yang terdengar menangis," pah, coba kita lihat kenapa dengan Siska."
"Ya sudah, ayo kita lihat. Papah takut dia kenapa-napa."
Mereka berdua kini berjalan menuju ke kamar Siska, telinga kiri mereka tempelkan pada pintu kamar anaknya.
Apa yang mereka dengar benar benar dari ruangan Siska.
"Kenapa dengan Siksa?" tanya sang ibunda.
"Entahlah mah, apa kita ketuk saja pintunya!" jawab sang ayah.
"Ya sudah, bapak aja yang ketuk," ucap sang ibunda.
Lelaki tua itu kini mengetuk pintu kamar anaknya, berulang kali.
Tok .... Tok ... Tok.
"Lebih keras pak, ketuk pintunya," perintah sang ibunda kepada suaminya.
"Ya mah, ini pah ketuk keras kok, cuman Siskanya aja nggak nyahut," ucap sang bapak. Menghuatirkan keadaannya, dimana Siska tak merespon panggilan kedua orang tuanya.
"Aduh, Siska, nak kamu kenapa nak. Ini mamah sayang, cepat buka. Pintunya."
Teriak sang ibunda, mengedor pintu kamar anaknya.
__ADS_1