Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 155


__ADS_3

Gelas berisi susu itu kini pecah berserakan di atas lantai, Edric menatap tajam ke arah Dwinda dengan tatapan rasa kesal yang mendera. Bagaimana bisa Dwinda menampilkan wajahnya di malam hari, dengan wajah sok ramah dan mengatarkan dua gelas susu ke kamar.


Emosi Edric kini meluap luap, amarah seketika naik ke ubun ubun, merasa mendidih. Aira kini terbangun dari tidurnya mendengar Erlangga menangis dan mendengar suara pecahan gelas.


"Aduh sayang, cup. Cup." Mencoba menggendong sang jagoan kecil. Aira kini melangkahkan kaki.


Terlihat pintu kamar terbuka dan " Edric, ada apa ini?" Tanya Aira dengan rambut terlihat begitu berantakan, mengendong Erlangga yang masih menangis.


Bahu Edric terlihat naik turun, Aira mencoba menenangkan sang suami, " Edric, kamu kenapa?' Pertanyaan Aira, membuat semua orang berada di sana bungkam. Ternyata bukan dia saja yang datang menghampiri keributan, begitupun para pelayan.


Dwinda tampak malu dan bersalah, ia menundukkan wajah tak berani menatap ke arah wajah Edric apalagi melihat Aira, terlihat begitu panik. Para pelayan yang sudah tertidur nyenyak kini bangun dan sudah berjajar dihadapan sang tuan muda Edric. Hati mereka tak karuan, ada rasa takut jika akan dimarahi sang tuan muda.


Menunjuk wajah dengan jari tangan," Siapa suruh, wanita ini membawa susu ke kamar saya?"


Tatapan Edric kini fokus ke arah para pelayan, agar para pelayan bersuara dan menjelaskan.


"Kenapa wanita ini dengan beraninya mengetuk pintu kamar saya. Saya tanya lagi pada kalian, siapa yang suruh wanita ini mengantarkan susu ke kamar," tegas Edric, bertanya dengan nada tinggi.


Para pelayan terlihat begitu ketakutan, tak ada yang berani sedikit pun. Menjawab perkataan Edric, tiba dimana Ellad datang mendengar keributan di rumahnya.


"Ada apa ini?" Tanya Ellad tiba tiba saja datang, menghampiri kerumunan di depan kamar Edric.


"Coba Daddy tanyakan saja pada wanita ini," telunjuk tangan masih mengarah ke arah wajah Dwinda, dimana sosok sang ibu tiri tak mampu berucap satu kata pun.


"Saya tidak mau ya, kamu sok perhatian, mengantarkan susu ke kamar saya. " Tegas Edric, memposisikan tanganya kembali.


Para pelayan saling, menyenggol satu sama lain lengan mereka masing-masing, dengan harapan, dari salah satu pelayan di rumah untuk segera mengakui. Siapa yang sudah mengizinkan Dwinda mengantarkan susu ke kamar sang tuan muda.

__ADS_1


Ratna pelayan di rumah tak tahu jika dua gelas susu itu diantarkan ke kamar tuan muda? Awalanya Ia sengaja membuatkan susu untuk tuan muda di dapur, tapi karena ada yang kurang dengan susu itu. Tiba tiba susu itu menghilang dari meja dapur.


Ellad menampilkan wajah dinginnya, ia menarik tangan sang istri untuk menjauh dari hadapan Edric. Dwinda menyekah kedua air mata yang mengalir secara perlahan menuju ke arah pipinya yang cambby, " tunggu, papih."


Dwinda melepaskan pegangan tangan suaminya, dimana Ellad berhenti dan berkata?" ada apa? Apa kamu mau membuat kekacauan lagi di rumah ini?"


Bentak Ellad, lelaki berambut putih itu tak segan-segan memarahi istrinya di hadapan semua orang yang ada di rumahnya.


Dwinda tak bisa lagi menyekah air mata yang terus-menerus keluar, setelah mendengar bentakan dari CEO Ellad. Bibir tebal itu sudah basah karena tetesan air mata. Melebar menampilkan wajah sedihnya.


"Kenapa? Mau nangis, " bukan malah menenangkan sang istri, Ellad malah semakin membentak Dwinda, seakan tak ada harapan untuk Dwinda.


Aira melihat pemandangan itu segera mungkin masuk ke dalam kamarnya, ia tak mau ikut campur akan masalah yang dihadapi keluarga suaminya. Lebih baik tutup telinga kiri dan kanan, berpura-pura tak mendengar dan tak tahu akan masalah yang sedang terjadi.


Edric hanya melihat pemandangan ayahnya memarahi Dwinda, ia tersenyum dan puas. Jika ayahnya ternyata berpihak padanya.


Membalikan badan, menatap ke arah Edric. " Edric, saya sebagai ibu tiri kamu, ingin meminta maaf atas semua kesalahan yang sudah saya perbuat dimasa lalu, sekarang Saya berusaha bersikap ramah itu dengan keinginan dan juga hati yang ikhlas, agar bisa mendapatkan kata maaf darimu."


Dwinda memperlihatkan kesedihannya paling dalam, ia memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya, agar bisa mendapatkan satu kata maaf dari sang anak tiri.


Edric tetap diam membisu, ia masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Dwinda, hatinya tak mudah luluh begitu saja.


Dwinda tidak putus asa, ia berusaha mendapatkan kata maaf dari Edric lelaki yang sudah ia buat lumpuh. Dimana Edric kini berdiri dengan begitu gagahnya, tanpa alat bantu seperti kursi roda.


Ellad berusaha diam, ia sedikit mengagumi keberanian istrinya, yang mau meminta maaf di hadapan Edric.


"Apa kamu bersedia memaafkanku?" Tanya Dwinda, menunggu jawaban yang pasti dari mulut anak tirinya.

__ADS_1


Wanita yang kini berbodi gendut itu benar-benar berharap sekali, jika Edric melupakan kesalahannya dan mau memaafkan Dwinda.


"Edric, tolong jawab perkataan saya. Apa kamu mau memaafkan kesalahan saya, yang sudah sangat keterlaluan di masa lalu?"


Dwinda mencoba bertanya kembali kepada anak tirinya itu, karena Edric dari tadi tetap saja diam, tak menjawab perkataannya.


Sebegitu bencinya Edric, sampai tak mau memandang wajah Dwinda, dan memberikan rasa belas kasih terhadap ibu tirinya sendiri.


"Edric."


Ellad sudah menduga. Jika hati anaknya masih tertutup untuk bisa memaafkan istrinya.


Ellad dengan terpaksa menarikan tangan Dwinda, untuk menghindar dari hadapan Edric, Ellad tak mau ada keributan di malam hari seperti ini.


"Papih, Mommy belum selesai bicara dengan Edric, " ungkap sang ibu tiri pada suaminya.


"Sudah ayo cepat kita pergi dari sini, atau kamu akan saya usir, " tegas Ellad, lelaki berambut putih itu kini sedikit kasar, tidak seperti dulu yang selalu lembut. Sabar ketika menghadapi sang istri," Papih, sakit."


Rengekan Dwinda tak membuat Edric menahan ibu tirinya itu, dia benar benar mengabaikan Dwinda. Tak peduli dengan kata maaf.


"Edric maafkan mommy. "


Mendengar teriakan Dwinda, tak membuat Edric bersimpati sedikit pun. Sang CEO muda itu langsung masuk ke dalam kamar, karena mendengar tangisan jagoan kecilnya.


"Kenapa dengan Erlangga?" tanya Edric tanpak kuatir dengan anaknya.


"Erlangga hanya terganggu saja, karena suara pecahan gelas tadi. Sebenarnya ada apa sih, kok sampai mecahin gelas, memangnya ibu tiri kamu ngegoda kamu lagi, kaya si Siska dosen kecentilan di kampus kamu itu?" Pertanyaan Aira membuat Edric tiba tiba mengerutkan bibir. Ia melangkah maju kearah ranjang tempat tidur, merebahkan tubuhnya untuk segera tidur.

__ADS_1


"Ish, kebiasaan deh kalau istri tanya pasti diam saja, " Gerutu Aira. Sembari mengendong Erlangga yang masih menangis.


__ADS_2