
"Ya elah, Ndi. Ngapain coba kamu malah pukul kepala aku, memangnya nggak bisa pake bicara apa?" tanya Tarjo, mengusap kasar kepalanya.
Pukulan sang sahabat nyatanya, terasa menyakitkan, membuat Tarjo mengeram kesal dihadapan Andi.
"Ya kamu kalau ngomong enak banget, tahu sendirikan, kita di sini lagi nganter tuan. Kalau nanti Tuan besar Ellad banyak tanya gimana?" ucap Andi dengan kegelisahan, yang ia rasakan.
"Heh, Ndi. Ya kamu tinggal jawab aja, apa susahnya sih," balas Tarjo, Andi memukul jidat melihat kebodohan sahabatnya.
"Sudah ah, cape ngomong sama orang yang nggam ngerti kaya kamu, aku mau tidur," cetus Andi, beranjak berdiri dan pergi dari hadapan Tarjo.
"Dasar."
********
Ellad terus menghubungi Andi suruhanya, tapi tak di angkat juga. Membuat heran lelaki berumur empat puluh sebilan tahun itu.
"Tuben sekali si Andi, apa dia sudah tidur."
Ellad mulai melajukan mobilnya untuk segera pulang, ia sudah malas bertemu dengan Dwinda, perasaannya kesal dan benci kini selalu hadir dalam hidupnya. Semenjak tahu akal busuk wanita berumur dua puluh delapan tahun itu.
Memukul stir, sepertinya Ellad tidak akan pulang ke rumah malam ini, membiarkan Dwinda terus menghubunginya.
Beberapa panggilan telepon sengaja tak di jawab, Ellad berusaha menghindar dari Dwinda, ia ingin memberi pelajaran pada wanita yang sudah membuat hatinya terluka.
Saat sampai di hotel, seorang wanita menyapa dirinya, kedua mata Ellad tak jelas melihat wanita itu. Dengan botol minum yang ia beli untuk melirekskan pikiran, akhirnya wanita dengan tubuh tinggi dan rambut menjuntai, kulit putih mendekat ke arah Ellad.
Wanita itu tersenyum sembari menyapa sang CEO, mendekatkan tangan pada pipi Ellad, " boleh aku menemanimu."
Karena pengaruh alkohol, Ellad tak bisa berpikir jerni, ia tersenyum dan memegang tangan mulus wanita itu. Mereka masuk ke dalam kamar hotel, dimana Ellad sudah tak sadarkan diri.
Sedangkan Dwinda terlihat kesal, karena panggilan telepon tak di angkat juga oleh Ellad, membuat rasa kesal ia tahan.
"Si tua bangka itu ke mana lagi, kenapa dia tak mengangkat panggilan teleponku. Ellad sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan kamu."
Jam sudah menunjukkan pukul dua malam, Dwinda tak bisa memejamkan mata, ia memikirkan cara agar suaminya perhatian lagi padanya.
__ADS_1
"Apa aku pura pura hamil saja ya, untuk mengelabui Ellad. Sepertinya rahasiaku sudah terbongkar olehnya."
Dwinda berusaha mencari Ide, ia sudah menduga jika suaminya mengetahui rencana jahatnya.
Mengambil ponsel, Dwinda mulai menghubungi Ellad kembali.
Tiga panggilan tak diangkat, hingga Dwinda tak putus asa, akhinya panggilan terakhir di angkat juga oleh sang CEO.
"Halo, sayang. Kamu kemana saja sih, dari tadi .... "
Belum Dwinda berbicara sepenuhnya, suara seorang wanita terdengar nyaring mengatakan kata." Halo."
Deg .... Jantung Dwinda terasa melemah, saat ponsel suaminya diangkat oleh seorang wanita. Ia tidak pernah meduga jika Ellad bisa bersama wanita. Di jam tengah malah seperti ini, Dwinda selalu percaya jika Ellad adalah lelaki setia, yang tak suka main perempuan.
Tapi sekarang, hidupnya terasa runtuh. Mendengar suara wanita pada ponsel suaminya.
"Siapa kamu? Dimana suamiku?" Dwinda bertanya dengan nada meninggi.
"Tenang, kamu tak usah kuatir dengan suamimu ini!" jawab wanita bernama Sasa itu, ia tersenyum senang saat mengobrol dengan Dwinda.
Tawa terdengar dari sambungan telepon, Dwindan semakin kesal, mendengar wanita disambungan telepon tertawa seperti meledek dirinya.
"Hey, kamu tenang saja. Suamimu sedang tidur nyenyak. Biar besok saja aku beri tahu suamimu, kalau istrinya menelepon," ucap Sasa semakin sengaja, membuat Dwinda kesal dan marah.
"Jangan bercanda kamu, cepat berikan ponsel itu pada suamiku," pekik Dwinda, dada terasa naik turun. Kedua pipi memerah meluapkan semua amarah.
"Waw, sabar sabar. Aku hanya bermain main semalaman dengan suamimu ini, jadi kamu tak usah kuatir, kami sedang menikmati Indahnya cinta satu malam," goda Sasa, semakin sengaja. Ingin membuat Dwinda murka.
"Jangan sebarangan kamu, suamiku bukan tipe lelaki yang mau dengan wanita gampangan seperti kamu, cepat berikan ponselnya pada suamiku, " cecar Dwinda, terdengar menghina Sasa.
Saat hinaa tedengar dilayangkan, Sasa mulai mematikkan panggilan teleponnya.
"Dasar cewek rempong."
Dwinda tak terima saat panggilan teleponnya di matikan, ia dengan sigap menelepon kembali wanita bernama Sasa itu.
__ADS_1
"Ayo angkat, kenapa tak diangkat juga." Gerutu Dwinda, mulai tak tenang. Perasaannya sudah tak karuan ia ingin segera melabrak suaminya bersama wanita lain.
Geram rasanya, tak terima dengan penghianatan Ellad, " Apa Ellad berusaha menghindariku, karena rahasiaku sudah di ketahui olehnya. Ini tidak bisa di biarkan, bagaimana bisa Ellad bermain dengan seorang wanita secepat ini."
Pikiran Dwinda sudah tak tenang, ia bulak balik ke sana ke mari memikirkan nasib dirinya yang kini di khianati oleh Ellad.
" Bisa bisanya si tua bangka itu." Dwinda membanting bantal dan juga selimut, ia merasa prustasi karena rencananya gagal total. Seharunya Ellad hancur sehancurnya.
Tapi sekarang Ellad malah berjaya dan bermain wanita. Perasaan Dwinda kacau balau, ia mengacak rambutnya dengan kasar, merasa jengah dengan semuanya.
Memukul kasur dan berkata." Ber*ng**k, sial*n. Bisa bisanya, aku menjadi wanita menyedihkan seperti ini."
Dwinda menangis dalam kesendirianya, ia meminta maaf pada kedua orang tuanya, karena tak bisa menghancurkan keluarga Ellad.
"Papih, mamy. Maafin Diana, tidak bisa membalaskan dendam kalian berdua, Diana hampir menyerah saat ini."
Maria mendengar suara tangisan, membuat ia menguping pada balik pintu kamar Dwinda.
"Sepertinya nenek lampir itu sedang frustasi karena Tuan Ellad, kasihan juga sih. Tapi syukurin deh, siapa suruh jadi jahat, toh sekarang kejahatanya berbalik pada orangnya."
Maria mulai meninggalkan pintu kamar Dwinda, ia berjalan berlenggak lenggok merasa senang melihat Dwinda menangis sendirian di kamar.
Karena dirinya dan yang lain sudah merasa lelah akan kejahatan Dwinda.
"Eh, Maria kok kamu senang gitu, kenapa?"
Maria menghentikan langkah kakinya, menatap ke arah sahabatnya yang menyapa." Hey, Lina. Jelas lah aku bahagia, orang si nenek sihir itu lagi menderita. "
Lina memukul bahu Maria dan menjawab." Hus, kamu kalau ngomong. Kasihan dia."
Maria mendelik kedua matanya dihadapan Lina." Kasihan apanya, hih. Diakan pantas mendapatkan hal seperti itu, siapa suruh sok soan jadi orang jahat. Toh sekarang kena batunya kan, dia pantas mendapatkan hal seperti itu, karena dia itu orang jahat."
"Lah, kamu kalau ngomong suka di ulang ulang."
Tawa Maria membuat Lina memajukkan kedua bibirnya, mereka kini berpencar. Saat Dwinda keluar dari dalam kamar dengan rambut yang berantakan tak karuan.
__ADS_1