
Kedua perawat itu saling berbisik satu sama lain, mereka pergi dengan membicarakan Lucky yang ternyata adalah seorang laki laki.
"Sita, aku nggak nyangka loh wanita cantik tadi itu ternyata seorang laki-laki. "
"Jangankan kamu, aku juga benar-benar gak nyangka. Pantas saja, suami pasien tadi mukul tuh cewe jadi jadian."
Ita dan Sita tertawa terbahak bahak, tanpa mereka sadari Lucky ternyata mengikuti langkah kedua perawat itu.
Berkacak pinggang berdiri begitu saja di depan kedua perawat. Kedua perawat wanita itu tentu saja sok melihat laki-laki setengah wanita itu berdiri di hadapan mereka.
Mereka saling menatap satu sama lain, terlihat ketakutan, saat kedua mata Lucky membulat menatap dengan tatapan begitu seram.
"Ada apa?"
Suara mereka terdengar begitu pelan, Lucky seketika melipatkan kedua tangannya.
"Tidak apa apa! Hanya ingin tanya saja?"
Kedua perawat, sudah di ambang rasa ketakutan. Ingin rasanya mereka kabur dari hadapan wanita setengah jadi-jadian itu.
"Ta, gimana ni. Kabur aja apa?"
"Entahlah! Aku takut!"
"Sama."
Keduanya saling berpelukan satu sama lain, membuat tubuh mereka bergetar.
Deg .... Deg ....
"Oh ya, toilet umum dimana?" Tanya Lucky.
Padahal jantung mereka seakan ingin copot, karena rasa takut ketika Lucky mulai bertanya.
Keduanya kini menunjuk ke arah ruangan yang berbeda, tentulah membuat Lucky kebingungan, " Hmm, ke arah mana?"
kedua perawat itu menunjuk lagi ke arah yang berbeda, Lucky hanya menggaruk belakang kepalanya. Di tambah rasa pusing, Karena jalur yang mereka tunjuk itu sangatlah berbeda.
"Apa kalian bisa mengatakan dengan mulut kalian?"
"Ke arah barat."
"Ke arah utara."
Mengerutkan dahi, perkataan mereka tetap sama, jauh berbeda." Barat atau utara?"
"Barat."
__ADS_1
"Utara."
Lucky malah melihat kedua perawat itu bertengkar, membuat kepalanya pusing.
Hingga ia berkata. " Stoppp. "
Ita dan Sita tidak memperdulikan perkataan Lucky, mereka hanya berhenti sejenak dan memulai pertengkaran kembali.
"Ini semua gara gara kamu."
Lucky semakin kesal dibuat kedua perawat itu, hingga ia mengeluarkan suara kejantanannya.
"KALIAN BISA DIAM TIDAK. "
Pada saat itulah kedua perawat langsung berhenti bertengkar, mereka menundukkan wajah setelah mendengar suara asli yang keluar dari mulut Lucky.
"Bagus, akhirnya kalian bisa diam juga. Saya tanya dimana tolilet?"
Keduanya kini menunjuk ke arah yang salah," Kenapa sih setiap saya bertanya kalian itu selalu berbeda arah?"
Kedua baru menyadari kesalahan mereka, dimana melihat Lucky memegang kepala dengan kedua tangannya.
"Maafkan kami, toilet ada di pinggir kami kok, nih."
Sita menggeser tubuhnya, di mana plang bacaan toilet itu kini terlihat jelas. Kalau saja Lucky melihat plang toilet dari awal, kemungkinan ia tidak akan merasakan rasa pusing berlebihan.
Lucky mulai menggerakkan kedua kakinya, ia kini masuk ke dalam toilet laki-laki. Hingga semua laki laki yang berada di toilet itu berlarian ketakutan.
Sita dan Ita terburu-buru pergi, mereka tak mau bertemu lagi dengan wanita jadi-jadian yang membuat jantung mereka hampir copot ketakutan.
********
Akhirnya, Lucky bisa mengeluarkan kotoran pada tubuhnya. Hatinya merasa lega, setelah selesai.
Lucky keluar dari dalam kamar mandi, wanita setengah laki-laki itu malah terkejut. Melihat Carlos berpapasan dengannya.
"Lilia, loh kok. "
Carlos melihat plang kamar mandi kusus laki laki, "Kok kamu."
Lucky berusaha menyembunyikan jati dirinya sebagai laki-laki. Ia berlengak lenggok di depan Carlos, menampilkan kedua pipinya yang memerah.
Menundukkan wajah, " aku kebelet pipis. Lupa nggak lihat plang."
"Wohh, pipisnya udah. Atau mau aku temenin." balas Carlos sedikit mesum.
Lucky menangapinya dengan kedipan mata," bukan muhrim."
__ADS_1
"Oh ya, lupa."
Mereka tertawa, dimana kedua perawat yang mengetahui identitas asli Lucky, melirik ke arah mereka berdua. Seraya membicarakan Lucky.
"Kedua perawat itu." Gerutu Lucky, menampilkan tanganya yang mengepal ke arah Sita dan Ita. Memberikan kode agar tidak ikut campur.
Tangan yang mengepal kini melebar, ia mengarahkan pada lehar, agar kedua perawat itu ketakutan.
Carlos yang baru saja selesai keluar dari kamar mandi, bertanya." Kenapa?"
Lucky, tentu saja langsung terkejut. Ia memposisikan kedua tangannya kembali, sembari membenarkan rambut panjangnya."Oh nggak tadi berasa tenggorokan kering. "
"Oh, ya sudah. Kita ke cafe dulu sebentar, untuk membeli air agar tenggorokan kamu lega."
"Tapi, bukannya kamu mau menengok Aira istri Edric yang sudah lahiran, sebaiknya kita ke sana dulu, sebelum membeli air minum. "
Carlos ini menarik tangan Lucky, " sudah, sebaiknya kita ke cafe dulu. Setelah itu baru kita melihat anak Aira dan juga Edric, kalau tenggorokan kamu sudah tidak kering lagi."
Lucky hanya menurut apa yang dikatakan sahabatnya itu, iya berusaha memposisikan diri sebagai wanita, untuk mengerjai laki-laki jail seperti Carlos.
kedua langkah Lucky dan juga Carlos diperhatikan oleh Ita dan juga Sita. Di mana mereka tetap saja membicarakan Lucky yang menjadi wanita jadi-jadian dan mengadeng seorang lelaki tampan.
Lucky yang melihat pemandangan kedua perawat itu merasa terganggu dan sangatlah geram, pada akhirnya Lucky mulai melangkahkan kaki ke arah kedua perawat di rumah sakit yang menurutnya rese.
"Kamu tunggu dulu di sini sebentar, ya. Aku mau menemui seseorang, bentar kok." Lucky menyuruh Carlos untuk menunggunya sebelum berangkat ke cafe, ada urusan yang harus diselesaikan Lucky saat itu juga.
"Mau ke mana? Biar kita barengan saja," ucap Carlos pada Lucky sang dokter yang mengaku sebagai seorang wanita.
"Tak usah, aku cuman sebentar kok. Nanti juga balik lagi ke sini, " balas Lucky, dimana Carlos kini menuruti apa yang dikatakan lelaki yang ia anggap seorang wanita, bernama Lilia," Ya sudah jangan lama-lama ya aku juga haus nih."
Lucky, menganggukan kepala, yakini terburu-buru berjalan ke arah Ita dan juga Sita. Ia mengira jika kedua perawat itu mengerti akan kodenya, agar tidak terlalu ikut campur dan selalu memantau kepergiannya.
"Hai, nona nona manis."
Kedua perawat itu membalikkan badan," eh,"
"Eh, eh. Kenapa?"
Mereka terlihat tak berani melawan perkataan Lucky, " kenapa diam, di depanku saja kalian diam sok ketakutan, bagian aku pergi. Kalian malah memperhatikanku dan membicarakanku di belakang."
"Kami tidak ada maksud seperti itu kok."
"Alah, tidak bermaksud bagaimana, jelas-jelas dari tadi kalian memperhatikanku bersama seorang laki-laki, apa aku ini tidak tahu gerak gerik kalian, hah."
Carlos menatap jam tangannya, melihat telunjuk jarum menunjukkan pukul 14.00 sore. Carlos kini mengusap pelan perutnya, "kok jadi laper ya, tadi biasa saja sekarang. Ke mana ya Dokter Lilia, perasaan dia lama sekali?"
Carlos yang tak suka menunggu lama, akhirnya menghampiri Lucky, sosok yang ia tidak tahu bahwa sang dokter adalah laki-laki.
__ADS_1