Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 107 Kata Maaf


__ADS_3

Pak Hasan tak menyangka akan melihat pemandangan mesra itu lagi, padahal tadi ia sudah menyuruh kedua majikannya ke hotel.


Untuk meluapkan semua gelora asmara dalam jiwa mereka berdua, tapi pada kenyataanya. Edric seakan tak puas, ia tersenyum dan terus menciumi pipi dan bibir istrinya itu.


Berpura pura batuk, sampai dimana Edric mulai menatap ke arah kaca mobil. Pak Hasan memberikan kode, karena bandara sudah mulai dekat.


Sedangkan Aira tetap saja diam, seribu bahasa. Berbagai cara sudah dilakukan Edric agar istrinya bisa kembali tersenyum dan juga berucap. Tapi Aira malah merapatkan bibirnya. Hanya karena satu alasan, bahwa Edric tidak mengucapkan kata maaf kepada dirinya.


Wanita jika marah, ia akan diam seribu bahasa, tapi terkadang wanita juga bisa mengaung seperti harimau, jika ia dipermainkan. Maka hati hati dengan wanita.


"Aira, kamu ini kenapa sih, dari tadi diam terus?Apa yang sedang kamu pikirkan? Aku ini sudah merayu kamu beberapa kali, tapi tetap saja kamu diam?" tanya Edric, pada Aira. Sembari memikirkan kesalahannya, sehingga Aira sampai mendiamkannya selama dalam perjalanan.


Setelah sampai di bandara, Aira mulai keluar lebih dulu dari dalam mobil tanpa mengajak suaminya untuk turun bersama. Pak Hasan yang melihat semua itu sudah tak terbiasa, ia sudah tahu jika wanita sedang marah karena sebab apa.


Sedangkan Edric berusaha berpikir jernih dari tadi, menatap jalanan memikirkan kesalahannya.


Aira yang sudah keluar dari dalam mobil kini duduk, menunggu penerbangan pesawat.


Pak Hasan tak tega melihat majikan laki-lakinya, kebingungan dengan tingkah laku istrinya, apalagi sang majikan wanita sedang mengandung.


Edric masih di dalam mobil, di mana Pak Hasan terus memanggil mamanggil majikannya itu untuk keluar dari dalam mobil, segera menyusul istrinya yang sudah keluar lebih dulu.


Panggilan Pak Hasan benar-benar tadi dengar oleh Edric, begitu fokusnya sang CEO muda. Memikirkan kesalahan apa yang sedang ia perbuat, karena saat menanyakan kesalahannya pun, Aira kita menjawab satu patah kata pun.


Membuat Edric menggerutu kesal pada hatinya, karena ia bukan cenayang yang bisa tahu isi hati wanita, apalagi ketika wanita tengah marah.


Pak Hasan mulai menyadarkan sang tuan muda dengan menepuk bahunya, di mana lamunan Edric seketika membuyar.

__ADS_1


"Tuan muda dari tadi melamun terus, sudah sampai di bandara. Mau kehilangan pesawat?"


Edric menepuk jidatnya sendiri, ia menatap ke arah Sisi kirinya. Mencari keberadaan sang istri yang tak berada di sampingnya saat itu.


"Loh, kemana Aira. Tadi dia .... "


Belum perkataan sang tuan muda terlontar semuanya, Pak Hasan langsung menjawab dengan menunjuk ke arah jendela dalam mobil.


"Loh, itukan Aira. Dia ternyata sudah keluar duluan, padahal tadi kan .... "


"Sudah tuan jangan banyak berpikir, cepat samperin Nyonya Aira. Kasihan dia dari tadi sendirian," ucap sang sopir. Melihat keraguan majikannya yang ingin turun dari dalam mobil.


"Ya elah, berurusan dengan wanita ribet juga ya, " balas Edric meluapkan kekesalannya dihadapan sang sopir.


"Loh, ribet Kenapa, tuan. Bukanya enak ya punya istri ada yang ngurusin kita nemenin kita tidur," ucap Pak Hasan, Edric menarik napas, tak mengerti dengan amarah yang tiba-tiba diperlihatkan istrinya.


Pemandangan yang tadi dilihat Pak Hasan di dalam mobil, ternyata hanyalah sebuah rayuan agar Aira tersenyum dan berbicara lagi.


Pak Hasan ternyata salah mengira, ia kira Edric masih ingin bercumbu.


Pak Hasan penasaran, berusaha membantu majikanya yang tengah kesusahan dalam menghadapi setiap wanita. Ketika ia sedang marah.


"Bapak mau tanya sama tuan?" tanya Pak Hasan, membuat Edric membulatkan kedua matanya. Penasaran dengan pertanyaan lelaki tua yang sudah berpengalaman dalam menghadapi wanita.


"Tanya apa Pak Hasan!?" balas Edric.


"Apa tuan sudah meminta maaf pada Nyonya Aira? Karena walau namanya mudah di sebut,tapi jarang dipakai orang setiap kali melakukan kesalahan, sekecil apapun itu kesalahan," ucap sang sopir, seakan mewakili hatinya. Edric lupa akan hal itu.

__ADS_1


Ucapan sepele bagi laki laki, tapi berharga untuk perempuan. Karena dengan meminta maaf, kita sama saja menghargai seorang wanita yang kita cintai.


"Astaga, Pak Hasan aku tidak kepikiran itu sama sekali, yang aku pikirkan kenapa Aira bisa berubah dan diam seribu bahasa, mungkin karena ulahku sendiri yang tak bisa mengucapkan kata maaf pada istriku sendiri," ucap Edric. Merasa di beri petunjuk yang sangat bagus dari sang sopir.


"Wanita itu sifat pemarah, tapi dia cepat luluh kalau kita peka terhadapnya. Terkadang menyuruh nyuruh, wanita selalu enggan karena tak enak hati. Maka dari itu seorang lelaki harus benar benar peka dan berkata lembut pada sang istri, apa yang ia inginkan saat itu," nasehat terlontar dari mulut Pak Hasan. Tentulah Edric yang mendengar semua itu merasa diberikan sebuah cahaya yang terang, agar dirinya bisa menaklukkan hati Aira kembali.


"Ya sudah sekarang aku akan membuktikannya, kepada istriku tercinta Aira," ucap Edric dengan begitu semangat.


Edric dengan terburu-burunya turun dari dalam mobil dengan dibantu oleh Pak Hasan. Mungkin sedikit terlihat ribet tapi Pak Hasan yang selalu membantu anak majikannya itu sudah terbiasa, berpamitan kepada sang sopir, di mana Sopir itu hanya mengantarkan barang-barang yang dibawa sang CEO dan juga istrinya.


Pak Hasan kembali memanggil Edric, memberi saran lagi kepada tuan muda." setelah meminta maaf kepada Nyonya Aira, tuan harus berjanji tidak akan mengulangi kesalahan tuan lagi. Karena wanita itu tidak suka dengan lelaki yang hanya berkata dari mulutnya saja, tanpa bukti sedikitpun. Maka dari itu Tuan harus lebih peka lagi terhadap Nyonya Aira, apalagi sekarang dia tengah mengandung anak tuan.


Aira masih dengan bibirnya yang mengkerut, terlihat sekali wajah menggemaskannya membuat Edric ingin mencubit keras pipi Cambby istrinya.


Namun karena nasehat yang terlantar dari mulut sang supir, ya harus menahan dan tidak memperlihatkan kekanak-kanakannya yang membuat Aira sangat sebal.


Edric berusaha bersikap dewasa hanya untuk meminta maaf kepada istrinya, memegang kedua tangan sang istri, Aira merasa heran, tapi ia tetap diam saja.


"Aira, aku minta maaf atas kesalahanku kepadamu."


Deg ...


Mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Edric, tentu saja membuat Aira senang. Akhirnya mulut yang merekap kuat itu, ini tersenyum lebar di hadapan sang suami, Aira mulai menganggukkan kepala. Memaafkan Edric dengan sepenuh hatinya.


"Aira, aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku lagi," ucap Edric.


"Iya, Edric."

__ADS_1


Mendengar kata ia membuat Edric tersenyum puas.


__ADS_2