
Laudia duduk di kursi sekertarisnya, ia baru bekerja di prusahaan sang CEO Edric baru beberapa hari. Karena Ellad yang memilihnya saat pemunduran sekertaris yang sudah lama bernama Rani.
Tak ada rasa nyaman saat bekerja dengan Edric. Lelaki lumpuh yang menjadi seorang CEO muda begitu cetus dalam berbicara, apa lagi saat memgkritik dalam pakaian.
Wanita berambut panjang yang terurai itu, mengepalkan kedua tangan. Menatap tajam ke arah Edric dengan tatapan benci, padahal awal pertama bertemu dengan Edric. Laudia begitu suka, karena ketampanannya.
Edric yang fokus mengecek dokumen, kini sadar bahwa dirinya tengah di perhatikan oleh sekertaris baru. " Ada apa kamu lihat lihat saya."
Bertapa terkejutnya Laudia mendapatkan perkataan yang tak menyenangkan saat terdengar dari telinganya, ucapan cetus dan terdengar galak membuat Laudia berusaha membuang muka.
"Maaf, pak."
Lelaki pemilik bola mata biru menaruh dokumen yang baru ia baca pada meja kerjanya, perlahan ia membalas jawaban dari Laudia." Kamu masih baru di sini, jaga sikap dan pandangan kamu. Saya tidak suka dengan wanita yang selalu curi perhatian."
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Edric, membuat Laudia ingin sekali muntah saat itu juga." Siapa yang cari perhatian dengan pria lumpuh seperti dia." Gerutu hati Laudia.
Dengan kedua mata yang fokus menatap layar leptot, ada kekesalan yang mendera pada hatinya, ingin sekali ia membanting leptotnya. Meleparkan pada wajah pria dingin bermana Edric.
Namun, karena Laudia begitu membutuhkan perkerjaan sebagai sekertaris ia berusaha dengan keras menuruti kemauan sang CEO, selama lelaki itu tidak berbuat hal yang nakal.
Selesai menandatangani beberap berkas dan Dokumen, waktu jadwal metting sudah dimulai.
Laudia berdiri dengan berkata sopan." Maaf tuan, sudah waktunya jadwal anda metting."
"Ya." Jawaban yang singkat padat dan jelas. Edric terkesan dingin dengan wanita di luaran tapi tidak dengan istrinya selalu mesra dan terkesan romantis.
Laudia mendekat kearah sang CEO, ia berusaha membantu Edric untuk mengerakan kursi rodanya, agar tidak bertabrakan dengan meja.
Tapi sayangnya niat baik Laudia malah menjadi kemarahan sang CEO.
Edric malah membentak Laudia dengan berkata." Jangan dekat dekat, saya bisa sendiri tanpa bantuan kamu."
__ADS_1
Tentulah bentakan itu membuat sang sekertaris diam seribu bahasa. Ada hatinya yang terluka saat di bentak atasan, karena ini pekerjaan yang pertama kali Laudia dapatkan.
Edric menjalankan kursi rodanya, pergi dengan wajah juteknya. Semua orang yang berada di dalam kantor selalu menyapanya ramah, tapi tidak dengan Edric, dia terlihat tegas dan berwibawa.
"Selamat siang, pak."
"Ya."
Kursi roda sudah mengantarkan Edric pada ruangan mettingnya, terlihat sekali orang orang penting menunggunya di dalam ruangan.
Edric hanya menampilkan senyum kecilnya, walau ketidak ramahannya itu, tidak menghalangi pembisnis untuk bekerja sama denganya. Edric selalu terlihat Cool dan profesional dalam berkerja.
Karena pantangan bagi dirinya, bersikap ramah dan terlalu akrab dengan para pegawai. Takut jika saat nanti para pegawai tidak menghormatinya.
Seperti Ellad yang kini jatuh miskin karena kebodohanya dalam berbisnis dan kurang fropesional dalam bekerja.
Edric kadang berpikir positif, kemungkinan besar karena faktor usia.
Pembahasan metting sudah di mulai, dari ketegasan semua yang di perlihatkan Edric, ada satu keistimewaan dimana Edric selalu menghargai pendapat orang lain.
Bagi Laudia setelah mengigat bentakan dan kata kata yang kurang menyenangkan terdengar dari mulut sang CEO Edric.
Edric melihat jam di tangannya sudah pukul lima sore, ya sudah tak sabar ingin segera menemui istri tercinta di rumah. Rasa rindunya terus saja mengganggu pikiran, mengingatkan kecantikan Aira yang terus terbayang.
Meeting akhirnya selesai juga, waktunya Edric untuk pulang. Menjalankan kursi roda, diluar ternyata tengah hujan, Edric melihat sang sekretaris berdiam diri di luar kantor, ada rasa simpati melihat seorang wanita sendirian menunggu taksi yang lewat.
Pada akhirnya, Edric menyuruh sang sopir memberhentikan mobil di dekat sang sekertaris.
Edric menurunkan kaca mobil, ia mengajak Laudia untuk pulang bersama.
"Cepat masuk mobil."
__ADS_1
Laudia berusaha menolak ajakan Edric, tapi sang CEO muda yang merasa kasihan dengan Laudia apalagi dengan busananya yang begitu terlihat ketat. Di kuatirkan akan memancing lelaki jahat, dan lagi kantor sudah mulai sepi.
Tak ada saksi yang melewati perkantoran Edric pada saat itu.
Sopir bersikap ramah kepada Laudia, mengajak wanita yang menjadi sekretaris di kantor Edric untuk segera naik ke dalam mobil.
"Ayo, masuk. Mbak. Biar nanti saya antarkan sampai ke rumah."
karena keramahan sang sopir, pada akhirnya Laudia luluh dia naik ke mobil. Karena Jalanan sudah terlihat begitu sepi, iya juga takut jika ada orang yang jahat yang berbuat macam-macam kepada dirinya.
Saat Laudia mulai duduk di belakang mobil, Edric berusaha mengusirnya untuk duduk di dekat sang sopir, lelaki pemilik bola mata biru itu, tidak suka jika berdekatan dengan wanita asing yang baru saja ia kenal.
Laudya diusir, dia sudah menduga kejadian ini pasti akan terjadi, pada akhirnya Laudia keluar dari dalam mobil dan kini duduk di dekat sang sopir.
Sopir Edric yang begitu ramah kini bertanya Alamat tempat tinggal Laudia berada di mana?
Sang sekretaris membalas dengan senyuman ramahnya lagi, yang menyebutkan alamat rumah.
Membuat sang sopir langsung menancapkan gas mobil untuk segera mengantarkan sang sekretaris.
"Oh ya tuan, kita pergi ke toko ponsel yang biasa langganan tuan, apa cari yang lain."
"Yang dimana saja, yang terpenting toko itu buka dan tidak tutup."
Pak Hasan kini kembali mengukir senyum, di kala Edric membuat sebuah candaan.
sang pemilik bola mata biru itu juga tersenyum, membuat Laudia yang melihatnya dari kaca mobil. Sangatlah kagum dengan ketampanan yang dimiliki Edric, baru pertama kali ia melihat senyuman yang begitu indah terpancar dari raut wajah sang CEO muda.
"Pastinya istri anda sangat senang, tuan." ucapan sopir tua itu membuat Edric kembali tersenyum, membayangkan akan ke bahagia Aira ketika dirinya memberikan sebuah hadiah kecil.
Laudia yang mendengar obrolan mereka berdua tentulah terkejut, orang yang ia anggap galak dan juga jutek itu ternyata sudah mempunyai istri.
__ADS_1
Rasa tak percaya menghantui hati Laudia, karena wanita yang seperti apa yang mau menerima kekurangan seorang lelaki lumpuh seperti Edric.
Apa karena memandang harta, tahta, atau jabatanya? Membuat Laudia berusaha tak memperdulikan obrolan atasannya dan juga sang sopir yang begitu akrab, sudah jelas sekali Edric begitu jutek kepada setiap karyawan yang berada di dalam kantor, tapi tidak dengan sopirnya yang sudah terlihat tua.