
Welly berusaha mengubah suasana, agar tidak terlihat kacau. Ia kini menanyakan sosok seorang wanita yang keluar dari rumah Edric, dengan memakai pakaian dokter.
Wanita berkulit putih, berbody bohai, dan cantik jelita. Tentunya membuat kedua mata sahabat-sahabat Edric itu terpanah, apalagi Welly dan Carlos, mereka langsung menanyakan dengan terang terangan.
Edric berusaha menyembunyikan identitas Lilia, ia tak mau dokter yang menanganinya itu dipermalukan oleh para sahabatnya.
Karena sosok Lilia adalah Lucky, sahabat mereka sendiri.
"Heh, kebiasaan kalau ditanya itu melamun. Jawablah, kami ingin tahu nama dokter wanita berbadan bohay itu, " ucap Carlos. Memang ia tipe lelaki mata keranjang, suka melihat cewek cantik.
Edric mengusap pelan dagunya, tersenyum kecil. Ada niat jahil mengerjai Carlos. "Dia dokter terapy, namanya Lilia, dia hebat dalam menangani kelumpuhanku."
"Waw, ternyata sahabat kita berwajah tampan dan bersifat dingin ini suka ternyata dengan wanita berbadan bohay," sindir Carlos. Seperti ingin membuat Aira cemburu.
Padahal Aira tampak biasa saja, karena ia sudah tahu jika dokter yang menangani suaminya bukanlah sosok wanita seutuhnya.
Welly, yang memang tak jauh berbeda dengan Carlos. Sengaja menyindir sahabatnya itu, agar Aira marah dan memukul suaminya.
Kejaialan kedua sahabatnya itu memang sudah biasa dari kecil hingga dewasa, mereka memang sangat keterlaluan dalam hal bercanda, sampai semua teman-teman sudah terbiasa dengan kata bercanda mereka.
"Waw, bisa pegang sana sini dong. Apa lagi itu pengobatan terapi ya, ada pelukan ada ciuman ada sentuhan dong, " ucap Welly dengan sengajanya. Salah satu sahabat waninya mendorong kepala Welly dan berkata." Mana mungkin Edric melakukan hal seperti itu, dia itu laki-laki baik tidak seperti kalian.
"Ya elah Sarla, masi saja membela Edric," timpal Carlos.
Sarla menyunggingkan bibirnya, rasa jijik ada dua sahabatnya," aku buka membela Edric, tapi menyelamatan kalian dari otak mesum, tentang memikirkan wanita seksi."
Welly mengusap pelan kepalanya yang terasa sakit, Sarla bukan hanya mendorong kepala Welly melainakan memukulnya saat bersamaan.
"Kenapa sakit? Makanya jangan sok soan berpikir mesum. Mau aku cium dengan ini." Sarla menunjukkan kepalan tangan kanannya di hadapan Welly dan Carlos.
__ADS_1
"Ish, dasar wanita. Tidak tahu jika laki laki tengah bersenang senang, " Gumam Carlos pelan, Sarla mempunyai pendengaran yang sangat kuat, hingga di mana tangan kanannya langsung menciwir telinga Carlos dan berkata." Heh, kalau ngomong itu di saring dulu."
"Ya elah memangnya ketombe di saring," balas Welly.
Melihat tatapan kedua mata Sarla, membuat Welly bungkam, ia tak mau lagi berdebat atau mendapat pukulan menyakitkan dari sosok wanita yang jago karate itu.
Aira menikmati, kebersamaan antara Edric dan teman temannya yang kocak dan lucu. Walau mereka berwajah bule. Tapi dalam berbahasa Indonesia begitu pasih dan pintar.
"Kita pulang yuk, sudah malam. Nggak kerasa acara menjenguknya selesai."
"Padahal kita masih seru seruan, sekarang udah mau pulang saja. "
"Ya benar, kapan lagi coba merasakan keberasamaan ini, aku rindu seperti ini. "
Edric kini angkat bicara saat para sabatnya mengeluh mereka masih menikmati masa muda mereka, karena sahabat Edric belum ada yang menikah. Mengejar karir untuk membahagiakan kedua orang tua, sebelum menikah.
"Makanya nikah kaya gue woy, jangan pada jomblo doang." Sindir Edric, dengan begitu bangganya mengatakan hal yang membuat para sahabatnya iri.
Siapa yang tak tertawa akan perkataan Welly menanyakan nomor telepon dokter bernama Lilia itu.
Aira memberikan kode kedipan mata kepada suaminya. Agar tidak memberikan nomor dokter itu, karena kemungkinan besar jika Welly tahu bahwa itu Lucky, pastinya Welly akan kecewa dan memarahi Edric.
Namun Edric yang memang usil dan juga jahil, malah memberikan nomor Lilia, pada Welly.
"Nih, nomornya."
Welly dengan semangatnya mengetik nomor Lilia yang diberikan oleh Edric, Carlos tak mau kalah dengan sahabatnya itu.
Ia menghampiri kedua sahabatnya, merogoh saku celana untuk mengeluarkan sebuah ponsel.
__ADS_1
Sampai di mana Carlos juga mengetik nomor ponsel Lilia.
Padahal mereka kini tengah berhadapan dengan musibah, dokter cantik berbadan bohay itu bukanlah seorang wanita seutuhnya. Melainkan Lucky sahabat masa kecil.
Welly dan Carlos begitu bahagia setelah menerima nomor ponsel Lilia, mereka berlari. Untuk segera pulang ke rumah, tak sabar ingin mengirim pesan pada dokter cantik berbadan bohay itu.
Para sahabatnya hanya bisa menggelengkan kepala, melihat tingkah charlos dan juga Welly yang dari dulu tak pernah berubah.
Mereka tetap memayoritaskan mata keranjang mereka, untuk bersaing mendapatkan wanita yang menurut mereka berdua pantas dimiliki.
"Si Carloa dan si Welly kana kanak kanak, mereka dari dulu tak mau saling mengalah, berantem dan bertengkar. Apalagi saling memperebutkan satu wanita," ucap para sahabat membicarakan Welly dan juga Carlos yang sudah pergi mengendarai mobil.
Sedengakan para sahabat Edric, sudah menaruh hadiah untuk pernikahan Edric dan Aira, hadiah kado bertumpuk banyak di dalam rumah.
Setelah kepergian mereka, satu persatu. Aira langsung menarik tangan suaminya, dan berkata. " Sayang kamu tahu sendirikan Lilia itu seorang laki laki dan dia itu sahabat kamu, masa kamu tega sih sama sahabat kamu sendiri, kasihan loh."
Aira tak akan pernah tahu, jika Welly dan juga Carlos adalah sahabat yang paling usil di masa kecil dan sekolahnya.
Mereka selalu lolos dari balasan Edric.
Sedangkan sekarang Edric harus berhasil mengerjai kedua sahabatnya yang usil itu.
"Sudahlah sayang, tidak akan kenapa-napa kok, paling mereka bakal syok berat kalau sudah tahu bahwa Lilia itu adalah seorang laki-laki, dan lagi mereka juga pasti akan terkejut dan pingsan di tempat saat tahu bahwa Lilia itu adalah Lucky," ucap Edric menjelaskan semuanya pada sang istri.
Aira hanya bisa memperingati suaminya itu, tapi suaminya tidak mau mendengarkan perkataan Aira, maka dari itu Aira Lebih baik diam dan juga mengalah, ia tak peduli jika sesuatu terjadi nanti.
"Heh, daripada kamu mikirin terus sahabatku, lebih baik kita buka kado sama-sama. Bukannya saat menikah kado kita itu sedikit, saat ini kado kita itu banyak, pasti kamu akan senang melihat hadiah-hadiah dari mereka, hanya saja. Aku pastikan kamu jangan membuka kado dari Carlos dan juga Welly," ucap Edric memberitahu istrinya agar berhati-hati.
Maka dari itu Edric memisahkan kado Carlos dan juga Welly dari tumpukan kado yang lainnya.
__ADS_1
"Kok, aku jadi penasaran dengan isi kado yang kamu pisahkan itu," balas Aira.
Apa ya isi kadonya?