Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 144


__ADS_3

Lucky pulang ke rumah sang ayah, tampilan percaya dirinya berharap akan membuat sang ayah tersenyum bahagia.


Saat mengetuk pintu.


"Kejutaannn ..... "


Keluarga yang ia anggap tak peduli ternyata merayakan ulang tahunnya, dengan sosok seorang wanita pujaan hatinya. Amanda.


Lucky masih tak percaya akan kejutan yang ada dihadapan matanya, melihat senyuman dan kebahagian penuh arti. "Selamat ulang tahun, Lucky."


Amanda datang membawa bolu beserta lilin yang masih menyala." Amanda kamu di sini. "


Rendy sudah menduga jika Lucky senang akan kejutan yang ia buat selama seharian ini, apalagi ada sosok seorang wanita bernama Amanda.


Lelaki tua dengan rambutnya yang sudah terlihat memutih, mengirim pesan pada Edric. Mengucap kata terima kasih karena sudah merubah Lucky menjadi seorang lelaki seutuhnya.


"Aku pulang karena panggilan ayahmu, dia bilang katanya kamu mau melamarku, sekarang mana cincinnya." Amanda menaruh kue bolu yang baru saja di tiup oleh Lucky. Dimana Amanda menyodorkan tanganya, berharap jika cincin itu dipasangkan oleh Lucky saat itu juga.


Untung Rendy sebagai seorang ayah peka, ia sudah mempersiapkan semuanya tanpa ada yang kurang sedikit pun.


Rendy menyuruh kedua anak anaknya, memberikan cincin lamaran kepada Lucky. Agar segera memasangkan pada jari mulus Amanda yang sudah ia sodorkan dari tadi.


"Mana, ayo pasangkan."


Salah satu adiknya menarik baju Lucky, memperlihatkan sebuah cincin permata yang ternyata sudah di beli oleh sang ayah.


Lucky merasa ulang tahun yang sekarang sangatlah sepecial, tidak seperti kemarin kemarin hanya kesendirian menemaninya.


Terkadang pekerjaan membuat ia lupa segala hal, apalagi momen membahagiakan seperti ini.


"Ayo pasangin masa di lihatin terus sih," ucap manja Amanda mempelihatkan senyum manisnya.


"Baiklah."


Amanda merasa senang dengan keseriusan Lucky yang kini melamarnya, ia tak peduli akan masa lalu Lucky, terpenting bagi dirinya sekarang. Adalah kebahagian menuju masa depan.


Semua bersorak akan lamaran Lucky pada Amanda, terlihat senyum kebahagian, terlukis dari sudut bibir Amanda wanita yang menerima apa adanya sang pujaan hati.


*******


Di balik kebahagian Lucky, ada sosok sahabat yang tersenyum senang. Lucky kini menemukan kebahagiannya sendiri, merasakan betapa indahnya hidup menjadi sosok lelaki seutuhnya.


"Kamu lihat sayang, Lucky bahagia dia menemukan sosok wanita yang menerima apa adanya. "


"Iya, tapi bagaimana dengan Carlos dan Welly? Kamu sudah membuat Lucky bahagia, tapi Welly dan Carlos?! "

__ADS_1


Apa yang dikatakan Aira ada benarnya, Edric sampai lupa Carlos dan juga Welly, yang kerjai dirinya.


"Oh iya ya, ya sudah biar aku mengirim pesan pada mereka, " ucap Edric pada Aira. Ia mengirim pesan pada Carlos dan juga Welly, berharap. Jika mereka memaafkan Edric dan Lucky.


(Carlos, aku minta maaf karena sudah mengerjai kamu.)


Tring pesan terkirim, tinggal menunggu jawaban.


(Ya, aku sudah maafkan kamu, santai saja. Aku juga sering menjahili kamu.)


Edric membaca pesan dari Carlos tingga Welly, (Wel, aku minta maaf.)


Sipel padat dan tak bertele tele.


Tring balasan datang.


( Enak sekali minta maaf, sembilan bulan aku mengharap si Lilia itu. Tapi apa yang kupeloreh dia ternyata b*nci men, apa lu nggak kasihan sama aku.) Welly mengirim pesan dengan emozik menangis.


Edric membaca pesan dari Welly bukanya ikut sedih dia malah tertawa terbahak bahak.


Membalas dengan emozik ikut menangis. (Bukan jodoh)


Edric tak sabar menunggu balasan dari sahabatnya Welly. (Najis lu, pea. Mana ia gue berjodoh sama b*nci. Coba kalau dia wanita seutuhnya, sudah gue bikin jadi bini.)


Tawa Edric semakin kencang dan membuat Aira penasaran. (Bisa saja, di op.)


"Ya ampun si Welly ada ada aja."


Semakin ke sini semakin pembicangan penuh dengan tawa, perut seakan kesakitan. (Ya elah lu, mau basah tinggal pake minyak tanah aja, biar nanti pas di bakar gosong.)


Mulut mengagah, seakan candaan itu begitu menyenangkan. Sisi seorang CEO yang dingin bisa saja bercanda keterlaluan, apalagi mengerjai orang.


(Idih, nggak lah. Yang ada pedang gue karatan dan berjamur.)


Balas Welly semakin mood Edric cerah, secerah matahari bersinar di siang hari.


"Ada apa sih?" Tanya Aira sembari mengendong anak lelaki satu satunya.


"Ini si Welly balas pesan bikin perut terasa sakit, dia bikin bercanda!" Jawab Edric sembari tersenyum. Terkadang tertawa.


Tring.


Pesan datang lagi. ( Sudah gue maafin lu pada. Cuman tunggu pembalasan dendam dari gue.)


Dengan emojik tertawa, Welly semakin menjadi jadi. (Balas dendam apa lu.)

__ADS_1


Edric menempelkan emojik ketakutan. (Alah lu, gue bikin si Lucky nungging.)


Beberapa kali Edric mengusap pelan wajahnya, semua tidak harus terjadi. (Janganlah, kasihan dia. Memang lu nggak takut bikin dia ambeyen. Nanti lu kena ajab baru tahu rasa.)


(Ya elah, ajab itu bagi orang yang berdosa, kalau gue cuman coba coba.)


Obrolan sudah tak karuan, seperti Welly frustasi, karena sudah dihianati, oleh sosok seorang wanita jadi jadian.


(Sudah, lu kaya nggak laku aja ngicer si Lucky.)


Memperlihatkan emojik tawa, semoga apa yang dikatakan Welly hanya bercanda.


(Ya elah, ngapain bercanda kalau serius juga bisa.)


balas Welly, memperlihatkan emojik gaya licik.


(Seram, lu. Ape segitu frustasi gara gara dokter Lilia itu adalah Lucky, lu benar benar parah. Kaya nggak bisa bedain mana pedang dan apem.)


Edric mengirim pesan dengan guyonan agar Welly tak menanggapi dengan serius.


Aira kini melihat isi pesan dan balasan dari Welly, " Pesan macam apa itu."


Edric hanya tertawa riang," Sudah kaya nggak ngerti aja. Urusan laki. "


Aira memajukan kedua bibirnya sembari menggendong anaknya untuk keluar rumah.


"Ke mana, sayang."


"ke laut."


Begitulah mood wanita terkadang bagus terkadang sedang buruk, entah begitu cepat berubah seperti mempunyai kepribadian ganda.


Edric mengakhiri berbalas pesan dengan Welly, dimana ia mengejar sang istri yang terlihat moodnya kurang baik.


"Aira sayang, sini. Nak. "


Teriakan Edric, membuat Aira cuek dan tak mempedulikannya. Ia pergi berjalan jalan, hanya ingin menghirup udara segar.


"Kamu kenapa?" Edric memegang tangan sang istri, menghentikan langkah kaki sang wanita desa.


"Kamu kenapa sayang." Beberapa kali, Edric berucap, tetap saja tak dibalas oleh Aira.


"Sibuk terus sama ponsel, istri di anggurin," cetus Aira pada Edric.


"Ya elah, tadikan kamu bilang suruh aku kirim pesan pada Welly sama Carlos. Lah sekarang malah marah, kamu ini aneh ya. Sayang, " balas Edric. Wanita kalau memang sedang marah selalu tak ingin mengalah, walau dia salah tetap saja lelaki yang harus mengalah.

__ADS_1


" Ya sudah maaf. Ya, aku janji tidak akan mempedulikan pesan dari Welly lagi, oke. Maaf sayang, di maafin nggak?"


Inilah hal terberat bagi kaum laki laki, antara dimaafkan atau tidak.


__ADS_2