
Ellad masih dengan posisinya, iya berdiri sembari memandangi wajah istrinya. Menunggu penjelasan dan juga bukti, jika memang Aira yang bersalah.
Dwinda merasa bingung harus menjelaskan bagaimana lagi, karena CCTV di rumah sudah ia matikan sepenuhnya. Agar kelakuan busuknya tidak diketahui sang suami.
Aira tak berani memotong pembicaraan mertua lelakinya, karena bagi dirinya itulah hal yang tak sopan.
"Kenapa sih, papih. Nggak percaya sama Mommy, harusnya papih itu percaya sama istri sendiri tanpa harus mengeluarkan bukti."
Alasan dilontarkan oleh Dwinda pada lelaki berambut putih itu, berharap sang CEO akan luluh dengan alasannya.
"Sudahlah, Mommy. Tidak ada alasan seperti itu, tadikan Mommy menyalahkan Aira, jadi papih minta bukti yang nyata."
Ellad sudah mulai tak percaya dengan istrinya, banyak sekali kebohongan yang ditutup-tutupi. Sampai kecurigaan itu mulai merajalela hati Ellad.
Dwinda hanya diam, di saat ketegasan Ellad diperlihatkan di depannya.
"Lina, apa rekaman CCTV masih menyala. Coba kita lihat dari sana saja."
"Papih."
Lelaki tua dengan rambut putihnya, mulai melangkah keluar dari kamar sang istri untuk segera melihat rekaman CCTV. Akan tetapi Dwinda berteriak, membuat Ellad menghentikan langkah kakinya.
"Papih."
"Apa, Mommy?"
"Sebaiknya tak usahlah pake acara mengecek rekaman CCTV."
"Loh, kok begitu."
"Habisanya Mommy sudah tak mau memperpanjang masalah."
"Ya sudah kalau begitu."
Betapa senangnya sang pemilik bola mata coklat itu, ketika suaminya menghentikan langkah untuk tidak melihat CCTV.
"Tapi tetap saja, papih harus mengecek rekaman CCTV. Soalnya sudah lamakan, kita tidak melihat ada rekaman apa saja."
Dwinda memang tak menghuatirkan masalah itu, tapi tetap saja, semuanya akan menjadi repot. Karena rekaman CCTV yang ia rusak bisa di ganti kembali.
"Sudahlah pih, mending papih sekarang temani Mommy, masa papih tega biarin Mommy kesakitan begini. "
Wanita berumur dua puluh delapan tahun itu, berusaha menggoda sang suami agar tidak mengecek CCTV yang sudah dia rusak.
"Ya, nanti ya, mom. Kalau papih sudah melihat rekaman CCTV, takutnya rusak. Biar nanti papih ganti. "
Ellad tetap bersyukur dengan keinginannya untuk melihat CCTV di dalam rumah. Akan tetapi sang istri berusaha menarik tangan suaminya agar tidak pergi, " papih kan bisa nanti lagi ya."
Menarik napas dengan kasar, mengusap wajahnya. Ellad, mulai duduk di samping sang istri, padahal dirinya ingin sekali mengecek CCTV di rumah yang tak berfungsi.
"Papih mau tanya, apa tidak ada sesuatu yang mommy sembunyikan dari papih."
Gelagat Dwinda berubah drastis saat pertanyaan muncul dari mulut Ellad, terlihat sekali wajah penuh kebohongan pada istrinya itu.
Nada bicara Dwinda terlihat gugup, seperti menahan rasa takut.
__ADS_1
"Pap-ih. Ngomong apa sih, mana ada Mommy menyembunyikan sebuah rahasia kepada Papih, kan tahu sendiri Mommy ini terbuka."
"Papih percaya, hanya saja wajah Mommy itu memperlihatkan sesuatu yang mengganjal, membuat Papi sedikit ragu mempercayai Mommy."
"Ya sudah kalau Papih tidak percaya dengan Mommy."
Dwinda memperlihatkan kekesalanya pada sang suami, agar Ellad tidak terus bertanya.
"Mommy jangan marah gitu dong."
Dwinda membuang muka dari hadapan suaminya, ia mengabaikan perkataan Ellad.
Aira yang melihat tingkah Dwinda, sudah menduga jika, wanita itu takut ketahuan tentang keburukannya.
Ellad memberi kode pada orang yang berada di dalam kamar untuk segera keluar dari kamar Dwinda.
Bagitupun dengan Aira ia keluar dengan wajah tak puas, karena ratu drama itu menang saat ini.
Mengenai CCTV, Aira jadi penasaran dan ingin tahu kenapa Dwinda tak mau jika Ellad melihat CCTV.
Wanita desa yang kurang tahu, dan tak mengenal CCTV tentulah bertanya tanya pada pikirannya.
Maria datang dan mengagetkan Aira.
"Hayo, melamun."
"Bi Maria."
"Jangan melamun terus, nanti juga Tuan muda pulang."
"Apa sih, bi."
"Ya siapa tahu, Nona Aira kangen sama Tuan muda. Kan pengantin baru, baru baru hangatnya gitu."
"Hah, Bi Maria bisa aja."
Aira yang ingin tahu CCTV itu apa, memberanikan diri bertanya kepada pelayan bernama Maria.
"Oh ya. Bi. Aira mau tanya?"
Maria mengerutkan dahi, main sekali Aira ingin bertanya kepadanya, biasanya dia selalu mencari tahu sendiri.
"Tanya apa?"
"Bibi jangan ketawa ya!"
"Ya elah, kapan bibi ngetawain Nona."
"CCTV itu apa, sih bi?"
Maria tertawa saat pertanyaan Aira terlontar dari mulutnya," ih, tuhkan bibi ketawa."
"Ya, habisanya Nona lucu. Masa CCTV nggak tahu."
"Namanya anak desa, bi. Pastinya kurang tahu, memang apa sih bi."
__ADS_1
"Di desa juga ada tuh CCTV."
"Mana ada, di desa kan kurang teknolonginya apalagi di desa Aira cuman banyaknya hutan."
Maria tertawa kembali, mendengar tutur kata wanita desa dihadapanya.
"Idih, Bibi ketawa lagi."
"Ya habisnya, Nona lucu. Jadi bibi bawaanya pengen ketawa terus."
"Serius bi."
Aira mengerutkan bibir tipisnya di depan pelayan yang begitu akrab dengannya.
"Nih, ya. CCTV itu, alat kecil yang bisa merekam aktivitas di dalam rumah. Nih bibi tunjukin kaya gimana bentuknya."
Maria menarik tangan Aira, memperlihatkan bentuk CCTV di rumah Ellad.
"Tuh alatnya."
Menatap ke atas, benda itu bulat dan tak bergerak.
"Oh itu."
"Ya, tapi kayanya sudah mati. Biasanya kalau hidup si lampunya menyala warna merah."
"Oh. Apa Ibu Dwinda segaja mematikkannya ya. Bi."
Deg ....
Maria terdiam sejenak, mendengar tutur kata yang terlontar dari mulut Aira.
Wajah Maria seketika pucat, ia seakan takut jika Aira membenci dirinya, karena dirinya yang masih berpihak dengan Dwinda. Karena keterpaksaan dan juga acaman.
"Masa ia sih. Nona."
"Bisa jadi, solanya dia kan cewek galak dan seenaknya. Harus bisa dilawan, masa ia kita kalah sama dia. Sama sama makan nasi loh, bi."
"Iya Non, tapikan dia yang berkuasa di rumah ini, para pelayan juga takut dengan dirinya. Yang suka seenaknya."
"Aira Nggak takut bi. Tinggal laporan saja."
"Nona enak bisa lapor ke tuan muda. Lah kita hanya bisa menurut dan pasrah."
"Memangnya Ibu Dwinda ngelakuan apa aja pada pelayan."
Maria lupa, jika dirinya tak boleh mengatakan perjanjian dengan Dwinda. Jika Aira tahu, habis hidup Maria di dalam rumah Ellad.
"Kok, bibi diem. Coba jawab, bibi itu seperti orang yang telah menyembunyikan rahasia lho kepada Aira. Ayo cerita, biar nanti Aira bisa bantu Bibi menyelesaikan masalah dengan ibu Dwinda."
"Bibi tak berani, mengatakanya. karena bukan Bibi saja, banyak pelayan bisnis yang merasa jerah dengan perlakuan Nyonya Dwinda."
"Apa Ibu Dwinda mengancam?"
Ada keraguan pada hati Maria untuk mengatakan semuanya," maaf Nona, Bibi mau bersih-bersih dulu."
__ADS_1
Aira menarik tangan Maria dengan berkata," cerita saja bi kepada Aira, Aira janji tidak akan mengatakannya kepada pelayan lain cukup kita berdua yang tahu."