
Sesuai janji, Dwinda sudah bersiap-siap untuk datang ke rumah Ellad, karena CEO menyuruhnya untuk mengurus Edric yang kini lumpuh.
Memakai baju sopan, agar terlihat menawan jika dipandang sang CEO. Sengaja melakukan semua itu, ingin membuat Ellad terpikat dan langsung jatuh ke pelukannya begitu saja.
Namun semua itu tak mudah, karena Dwinda tahu. Jika, Ellad adalah lelaki dingin, yang tak bisa ditaklukan begitu saja, hanya dengan melihat penampilan ataupun kecantikan.
Dwinda tahu semua hal tentang Ellad, karena Maya menceritakan masa lalunya saat berdekatan dengan sang suami.
Maka dari itu, Dwinda akan mencoba semua hal sahabatnya yang sudah meninggal dunia karena ulah dirinya.
Dandana Dwinda iya samakan dengan penampilan Maya, agar Ellad melihat semua seakan nyata, bahwanya Maya serasa masih hidup.
"Penampilanku sudah sempurna, waktunya datang ke tempat Ellad, menemui Edric. Sepertinya akan seru." Gumam hati Dwinda, bercermin berlenggak-lenggok melihat penampilannya sendiri.
Sebenarnya ia merasa risih dengan penampilan begitu sederhana, tak mencerminkan dirinya sendiri selalu berpenampilan glamour.
Ada rasa tak nyaman, dan rasa tak terbiasa. Tapi karena tekad bulatnya, ia harus bisa menguasai semuanya.
Dwinda berjalan keluar rumah untuk segera menaiki mobil. Ia menatap pada kaca mobil sembari tersenyum dan berkata," perfect."
Mobil mulai melaju ke rumah sang CEO, perasaan tak karuan dirasakan Dwinda saat itu, ia harus menginjak kembali rumah yang baru saja kemarin ia lihat bersama sahabatnya Maya.
Keluar dari dalam mobil, ternyata Ellad sudah menunggu kedatangannya. Kedua mata lelaki tua itu membulat, menata penampilan sederhana Dwinda yang mengingatkan dirinya akan penampilan sang istri.
"Maya."
Menutup mulut menyadarkan diri, bahwa di hadapannya kini bukanlah Maya istrinya, melainkan sosok seorang wanita berumur dua puluh lima tahun yang menjadi sahabat istrinya.
Dwinda menampilkan senyuman di hadapan Ellad, sampai lelaki tua itu terpaku dengan dandanan yang begitu persis dengan istrinya," dia sudah menyihir hidupku. Kenapa penampilannya mengingatkan aku kepada Maya?"
"Selamat pagi Tuan Ellad," ucap Dwinda dengan begitu sopan, memperlihatkan raut wajah berseri dan senyuman yang tak lepas dari pandangan Ellad.
Lelaki tua yang baru saja ditinggalkan mati oleh istrinya, berusaha menyadarkan diri, mengusap pelan wajah agar tidak terpesona oleh raut wajah wanita yang menjadi sahabat istrinya.
__ADS_1
Ellad seperti biasa selalu bertingkah dingin ketika melihat orang asing datang ke rumahnya, ia tak pernah menyambut semua orang dalam keramahannya. Hanya satu orang saja yang selalu membuat dirinya tersenyum dan bertingkah ramah yaitu sang istri yang tak lain ialah Maya.
"Ya selamat pagi." Balas Edric, membuang wajah. Berusaha menghindari tatapan Dwinda.
Ia tak mau terpesona dengan gadis berumur dua puluh delapan tahu, bagi dirinya Dwinda sangat cocok dengan Edric.
Dwinda merasa kesal, Ellad tak menampilkan keramahanya, ia malah bersikap dingin. Mengacuhkan Dwinda begitu saja. Padahal Dwinda berharap sekali jika Ellad mampu terpesona dan membalas senyumanya.
Namun, pada akhirnya tak sesuai harapan, Dwinda kini menundukkan wajah, menghormati lelaki yang lebih tua darinya.
"Pelayan, antarkan dia menemui Edric."
"Baik, Tuan."
Dwinda semakin kecewa sekali terhadap Ellad, ia mengira jika sang CEO yang akan mengantarkannya menemui Edric. Tapi kenyataannya, ia menyuruh pelayan Untuk mengantarkan Dwinda menuju kamar Edric.
"Dasar sombong." Gerutu Dwinda dalam hati.
Dwinda melangkahkan kaki lebih cepat dari sebelumnya, ia dengan cepat berjalan melewati Sang CEO. Karena rasa kesalnya, bertingkah layaknya seperti anak kecil ketika mengamuk.
Dwinda sudah pergi, tak terlihat lagi oleh kedua mata Ellad.
Lelaki tua itu tiba tiba memegang dada bidangnya, merasakan rasa sakit, seperti sesuatu melukai hatinya.
Apa karena bertingkah cuek pada Dwinda?
Ellad berusaha menepis perasaan yang tak seharunya, baru saja kemarin meninggalnya sang istri, ia harus berusaha menahan gejolak dalam jiwa.
Ellad melangkahkan kaki untuk segera masuk ke dalam mobil, ia duduk di dalam mobil untuk segera pergi ke luar negeri.
Karena ada berbagai bisnis yang harus ia tangani, agar perusahaannya semakin maju dan juga Jaya. Dengan gelar seorang CEO, ia harus menyeimbangi dirinya, tak ingin kebangkrutan melanda hidupnya apalagi semenjak kematian Maya, ya harus lebih jaya dan membanggakan sang istri yang sudah meninggal dunia.
*********
__ADS_1
Dwinda sudah sampai di pintu kamar Edric, ia berusaha mengatur napas menenangkan diri, saat berhadapan dengan anak semata wayang dari keluarga Ellad.
Apalagi ia tahu sekarang dirinya sedang berhadapan dengan seorang lelaki yang begitu amat membenci dirinya, kecurigaan dimiliki Edric kepada Dwinda atas kematian Maya.
"Aku harus tenang saat berhadapan dengan Edric." Gumam hati Dwinda. Memasang diri, agar bisa menguatkan emosi dan mental.
Pelayan mulai mengetuk pintu kamar sang majikan berulang kali.
Tok tok tok.
Pelayan mengetuk pintu sembari menyebut nama sang majikan dengan sebutan, " tuan."
Mendengar suara pelayan di luar kamar, pada akhirnya Edric menyuruh pelayan untuk membuka pintu kamarnya.
"Buka."
Perlahan pelayan itu mulai membuka pintu kamar Edric, di mana pintu di buka, di saat itulah penampilan lelaki berumur dua puluh lima tahun sama seperti Dwinda, membalikkan wajah terlihat ia sedang memegang buku.
Sang pemilik bola mata biru itu malah membuat Dwinda terpesona, akan ketampanannya. Apalagi saat melihat Edric menampilkan dirinya yang sedang membaca buku.
Edric terlihat begitu cool di mata Dwinda, seakan wanita ber bola mata coklat itu enggan mengedipkan kedua matanya, karena begitu terpesona.
"Ada apa?" tanya Edric bertingkah dingin pada pelayan di rumahnya, tak pernah lelaki bermata biru itu bersikap rama, sama seperti Ellad. Sifat dan kepribadiannya pun tak jauh berbeda.
" Maaf sebelumnya, tuan, saya mengantarkan dokter DWinda, karena perintah Tuan Ellad," ucap sang pelayan, kepada Edric dengan menundukkan wajah. Mereka tak berani menatap wajah majikanya sendiri, patang bagi mereka, kerena itu tak sopan bagi keluarga Ellad.
Edric menatap ke arah Dwinda dengan penuh kebencian, dia hanya menjawab dengan satu singkat kata. "oh."
Dwinda yang mendengar jawaban Edric membuat ia menyunggingkan bibir atasnya, merasa kesal dengan kedatangannya yang tidak disambut begitu ramah.
Karena sikap tak ramah dari diri Ellad dan juga Edric, tentu saja membuat Dwinda menggerutu kesal dalam hatinya, "demi menjadi seorang putri di istana Ellad, aku harus berpura-pura baik dan menjaga sikap agar Edric merasa nyaman dengan kedatanganku. Sungguh menyebalkan drama macam sampah ini."
Apalagi Dwinda harus bisa menyiapkan mental ketika mengurus Edric, lelaki yang selalu cepat emosi dan tak pernah bertingkah baik.
__ADS_1
"Maaf tuan, saya permisi mau menyiapkan minuman untuk Dokter Dwinda."
Pelayan berpamitan pergi, sedangkan Dwinda masih berdiri di depan pintu kamar Edric yang sudah terbuka.