
Waktunya Aira dan Edric pulang, setelah kesembuhan Edric, Aira ingin melihat wajah ayah tiri yang sudah tega membunuh sang ibu. Sudah lama semejak kematian Siti.
Aira memang tak pernah pulang ke kampung, awalnya ia berencana pulang setelah dendamnya terpenuhi, dimana Aira membunuh suami dan juga Ellad mertuanya sendiri.
Namun ternyata, aksi balas dendam itu pada kenyataannya gagal, Edric sudah mengetahui semuanya. Ia mengungkapkan isi hati dan juga ketidak tahuan, rela mati oleh istrinya sendiri.
Dari sana Aira tak tega, ia mengurungkan niat, setelah melihat ketulusan Edric perlihatkan. Dari sorot kedua mata berwarna biru itu, Edric sangatlah tulus dan dengan terpaksa Aira berusaha mengikhlaskan. Kematian ibunya, tapi tidak dengan ayah tirinya sendiri, ia harus membalas dendam pertumpahan darah yang sudah ia saksikan dulu.
"Aira, apa kamu sudah siap bertemu dengan ayah tirimu, aku takut jika kamu nanti syok berat. Dan mengigat masa lalu tentang ibumu, " ucap sosok CEO muda yang kini menjadi suami Aira.
"Aku sudah siap, sangat siap sekali. Rasanya tak sabar ingin melihat raut wajah lelaki yang sudah menghancurkan hidup ibuku," balas Aira. Sorot mata penuh kebencian, kedua pipi memerah menahan amarah.
Setelah mendengar jawaban sang istri, pada akhinya Edric mulai membawa Aira menuju gudang untuk mempertemukan dirinya dengan sang ayah tiri. Walau sebenarnya ada keraguan, tapi inilah permintaan Aira.
Di dalam perjalanan untuk menemui Sodikin, Aira hanya menatap pada kaca mobil, terlihat ia sudah tak sabar ingin menghajar lelaki bernama sodikin itu.
"Apa yang kamu pikirkan sekarang, Aira. Wajah kamu memerah, apa kamu kesal terhadapku?" tanya Edric kepada istrinya dengan sedikit bercanda, agar suasana tak terasa menegangkan.
Aira menatap ke arah sang suami dengan tatapan yang memang seperti menekram." Iya aku kesal, tapi bukan padamu, jelas pada si tua bangka bernama sodikin itu. Sudah tak sabar ingin rasanya mencekik dan membuat ia mati di tanganku saat ini juga."
Tangan yang mengendarai mobil, kini Edric usap pada kepala rambut sang istri, menenangkan amarah dan berkata," sudah sekarang tahan amarah kamu, sebentar lagi kita bertemu dengan lelaki bernama sodikin itu. Kamu harus tahan napsumu untuk membunuh dia, biarkan dia mengakui kesalahnya, lalu kita jebloskan ayah tiri kamu ke dalam penjara."
Mendengar Edric menasehati Aira, membuat wanita desa itu berusaha menahan dan menurut apa yang dikatakan Edric.
"Iya aku akan mencoba lebih sabar dan menahan amarah ini. Kamu tahu sendirikan betapa bencinya aku pada dia, pembunuhan di depan mata yang takakan aku maafkan seumur hidupku."
Edric tetap saja memperlihat senyuman untuk istrinya, agar Aira tetap tenang.
Setelah sampai didepan gudang, tempat tujuan.
__ADS_1
Aira keluar dengan rasa tak sabar. Edric yang melihat sang istri tak sabar. Berusaha menahan dan berkata." Tenang Aira."
Dada wanita desa itu naik turun, ia terlihat sudah tak kuasa menahan diri, kedua tangan ia kepalkan. Ingin menghajar habis habisan.
Edric mulai menyuruh suruhannya membuka pintu gudang, dengan perlahan. Lalaki tua berumur empat puluh sembilan tahun tengah tertidur pada atas tanah.
Melihat pintu terdengar di buka dan cahaya terang menyorot matanya, Sodikin bangun. Melihat pada sosok yang datang bersamaan menghadap padanya.
Tangan terikat dan juga kaki, tentu saja membuat Sodikin tak bisa berbuat apa apa, dia hanya bisa pasrah dalam ikatan tali yang membuat dirinya tentulah terjerat.
Tawa sosok wanita yang seperti ia kenal, membuat lelaki tua itu membulatkan kedua mata. Dia datang mendekat dan memberi hormat serta menyapa dengan sopannya.
"Hai, ayah tercinta."
"Aira, kamu."
Melayang begitu saja, hingga mengenai pipi sodikin.
Memerah, itulah yang dilihat oleh Aira sekarang. Merah padat akibat pukulan begitu keras tanpa perasaan. Aira malah senang dan tertawa dalam rasa sakit yang kini di rasakan Sodikin.
"Sakit."
"Aira kamu, ternyata kamu datang ke sini bersama lelaki yang menjadi suami kamu. Wah wah, pasti kamu menikmati lelaki lumpuh itu bukan, aku sudah bilangkan. Dia tampan dan akan membahagiakan kamu."
Plakk .... Tamparan tak segan segan dilayangkan kembali oleh Aira pada pipi kiri ayah tirinya. Kedua pipi kini memperlihatkan warna merah.
Memang lelaki tua itu berkulit putih, hingga bekas tamparan begitu terlihat." aku tak menyangka jika lelaki seperti kamu belum juga berubah dengan apa yang kamu perbuat dulu pada ibuku. Aku mengira setelah ibuku mati dan kamu berhasil menjualku, kamu akan hidup mejadi lelaki lebih baik dari sebelumnya. Nyatanya tidak."
"Ngapain kamu mengurusi hidupku, toh aku bahagia setelah menjual kamu dan membunuh nenek nenek bongkok itu. Tak ada yang aku takuti, dan lagi kamu juga menikmati pernikahan perjual belikan dari Tuan Ellad. "
__ADS_1
"Diam, aku malas mendengar omong kosong yang terus terlontar dari mulutmu itu."
"Omong kosong apa anakku."
" Eh sodikin, jangan pernah bilang kalau aku itu anakmu. Aku tidak sudi jika menjadi anak dari laki laki ba*j!*ng*n seperti kamu."
"Wah, sepertinya kamu .... "
Belum perkataan Aira terlontar semuanya, ia langsung melayangkan sebuah pukulan dari tangan yang sengaja ia kepalkan.
Brakkk ....
Edric berusaha menenangkan istrinya agar tidak kelewat batas, dengan menarik Aira dan memeluk tubuh istrinya." kamu harus tenang Aira, jangan terkecoh dengan ucapan lelaki tua itu. Jika kamu terus-menerus meluapkan kekesalan kamu dan memukul Pak sodikin beberapa kali, kamu nanti yang akan kena imbasnya. Kamu bisa-bisa masuk ke dalam penjara. Dan aku tidak mau semua itu terjadi, aku tidak mau kamu masuk ke dalam penjara. karena sudah melukai lelaki keparat ini."
"Aku lebih baik masuk penjara dalam rasa puas setelah membuat laki-laki ini mati di tanganku."
Aira sudah ter makan dengan rasa amarah, ya sulit mengendalikan emosi. Sampai tak bisa berpikir dengan jernih. Wanita pemilik bola mata hitam itu, kini berusaha menyingkirkan Edric.
Kedua tangannya langsung mencekik leher sang ayah tiri.
"Kamu itu harus mati saat ini juga."
Edric yang terdorong dari amarah istrinya, kini terkulai di atas lantai. Pada akhirnya sang CEO muda itu menyuruh suruhan untuk menahan Aira, agar tidak melukai Ayah tirinya sendiri.
"Lepaskan aku, jangan menghalangi niatku. Membunuh lelaki ini."
Aira sudah murka ia, menghajar kedua suruhannya. Sedangkan Edric, berusaha berdiri untuk duduk di kursi rodanya.
Aira semakin tak terkendali, ia kini mencekik kembali Ayah tirinya itu, tak memikirkan Resiko yang terjadi jika dirinya masuk ke dalam penjara. Yang terpenting hatinya lega dan tenang, setelah membalaskan dendam untuk ibunya.
__ADS_1