
Tarjo dan juga Andi kini sudah sampai di depan rumah Aira, mereka berlari tergesa-gesa, mengetuk pintu begitu keras, membuat Edric kesal.
Dengan terburu-buru sang CEO muda berjalan melangkahkan kaki untuk segera membuka pintu depan rumah.
Ceklek.
Terlihat sorot mata Edric, menyimpan kekesalan kepada kedua suruhannya." Apa kalian tidak bisa mengetuk pintu pelan?"
Tarjo dan Andi merasa malu, mereka menundukkan wajah meminta maaf kepada sang tuan," maafkan kami tuan. Kami di kejar hantu, saat mencari rumah sakit."
Edric menatap kesekeliling, melihat apakah ada sosok yang mengganggu kedua suruhannya.
"Tidak ada apa-apa. Kalian sepertinya banyak berhalusinasi, sabar sampai merasa dikejar oleh hantu."
Mendengar sang CEO berkata seperti itu, mereka berdua merasa malu, menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal.
"Otot aja pada gede. Tapi nyali cemen." ucap Edric.
Kedua pipi sang suruhan memerah.
Mereka tampak malu dengan sindiran sang CEO muda," ya sudah, sebaiknya kalian beristirahat aja."
"Loh tuan, Nona kan sekarang lagi butuh dokter kami akan berusaha keras mencari dokter di desa ini," ucap kepolosan kedua suruhan CEO.
Edric memukul pelan pundak Tarjo dan Andi, berkata." Sudahlah di desa tidak mana ada dokter, Rumah Sakit pun pasti tak ada."
Andi dan Tarjo menatap satu sama lain. Mereka sempat berpikir seperti Edric, karena keliling desa tidak membuahkan hasil.
" Ya sudah kalian cepat istirahat besok kita akan pulang."
"Baik tuan. "
*******
Drettt ....
__ADS_1
Setelah mengobrol dengan kedua suruhannya, suara ponsel Edric kini berbunyi, ia melihat pada layar ponselnya nama sang ayah. Membuat kedua mata membulat masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
" Tumben sekali Dedy menelpon. Ada apa ya? Apa ada masalah di perusahaan?" Gerutu hati Edric, ia selalu menduga jika sang ayah menelepon pasti membahas tentang pekerjaan.
Karena tak ada kedekataan di antara mereka berdua, hanya menjadi rekan bisnis dan orang asing ketika di rumah.
Dari dulu tak ada niat Ellad untuk dekat dengan anak sendiri ketika di rumah, Ellad lebih mementingkan istrinya, Dwinda.
Dengan rasa malas, Edric mulai mengangkat panggilan telepon dari sang ayah," Halo Ded. Ada apa?"
Menarik napas Ellad memulai percakapan dengan anaknya, sudah lama tak pernah menganjak mengobrol, seperti tak ada hal penting pada kedua lelaki yang menjadi keluarga itu.
Ellad berusaha bersikap ramah, menanyakan keberadaan anak semata wayangnya." kamu ada di mana, Edric? Dedy cari kamu di rumah beberapa hari ini, tidak ada? Apa kalian bulan madu tanpa meminta izin."
Mendengar hal yang dikatakan Ellad, membuat Edric tersenyum sinis, untuk apa Edric meminta izin ketika ia berpergian pada sang ayah.
Rasanya sudah tak perlu, semenjak Ellad menikah dengan wanita muda berumur dua puluh delapan tahu bernama Dwinda. Edric tak pernah menganggap sang ayah. Ia lebih cuek dan menganggap Ellad seperti orang lain di hidupnya.
Karena setiap kali, Edric mendekat dan ingin bercerita, Ellad selalu menjauh. Seakan tidak ada hati seorang ayah pada diri Ellad.
"Edric masih berada di Desa Aira, tumben Dedy menanyakan keberadaan anaknya sendiri, biasanya, Tuan CEO Ellad tak peduli dengan anaknya sendiri. Terlalu mengurusi hidup Dwinda," sidir Edric dengan harapan sang ayah mengerti akan perasaanya. Ketika diabaikan semejak kematian sang ibu, walau Edric sudah dewasa, tetap saja dia butuh solusi dan kasih sayang dari seorang ayah yang biasanya mempelakukannya seperti anak kecil.
Walau terkesan tak pantas, tetap saja Edric tidak munafik, ia selalu mementingkan dirinya dari pada ego.
Di balik sambungan telepon, Ellad mengusap kasar wajahnya, Memang sebagai seorang ayah ia selalu cuek dan tak memperdulikan keberadaan anaknya sendiri, yang ia pikirkan hanyalah pekerjaan dan kebahagiaan bersama Dwinda.
Menatap wajah dihadapan kaca mobil, Ellad merasa tak becus menjadi seorang ayah, sosok kasih sayang seorang ayah hilang dalam hidupnya.
Apalagi sekarang Ellad sudah merasakan, bagaimana rasanya di tipu oleh istri sendiri, ia masih tak percaya dengan kebohongan dan rencana jahat Dwinda yang perlahan terbongkar.
Terlalu menyesalkan kebodohan dan juga kesalahannya sendiri, Ellad lupa jika ia sedang mengobrol dengan anak semata wayangnya sendiri.
"Di desa Aira, tumben sekali kamu ke sana?" tanya Ellad, membuat Edric merasa tak penting membahas dirinya kepada sang ayah.
"Sudahlah, jadi ada apa, Dady menelepon?" tanya Edric pada inti permasalahnya. Karena rasa cintanya seorang anak hilang, membuat Edric tak mau banyak berbicang, apalagi mengobrol hal yang tak penting dengan ayahnya sendiri.
__ADS_1
Ellad ragu, ia ingin mengatakan kebusukan Dwinda pada Edric, tapi hati merasa berat, ia bingung harus memulai dari mana, karena sekarang dirinya ada di ambang ketidak percayaan dan jauh rasa cinta seorang anak.
"Sebenarnya .... "
Suara Aira memanggil Edric, Ellad yang mulai bercerita malah terhenti saat Edric mematikkan sambungan telepon dengan ayahnya sendiri.
Tuttt ....
Ellad merasa sakit hati, saat dirinya ingin mengobrol sebentar masalah Dwinda kepada Edric.
Namun apa daya, Ellad sekarang bukan orang yang penting bagi anaknya, Edric sudah mempunyai wanita berarti dalam hidupnya.
Aira, gadis desa yang ia beli dari Sodikin. Dengan uang sekitar puluhan juta. Bagi Ellad itu harga yang lumayan murah. Tapi begitu berarti untuk anaknya. Membahas tentang Sodikin, membuat Ellad kini bertemu dengan lelaki tua itu.
Karena Sodikin adalah seorang sopir yang dulu bergantung hidup dengannya. Sudah lama, setelah kejadian pemecatan itu terjadi.
Ellad menatap layar ponsel, melihat nama Sodikin tertera pada ponselnya, ia ingin membahas tentang gadis desa bernama Aira itu.
Saat menelepon sodikin, nomor ponselnya ternyata tak aktip, tentu saja membuat Ellad merasa heran.
"Kenapa nomor si Sodikin tak aktif, kemana dia? Apa aku harus datang ke rumahnya?"
Ellad tak tahu jika Sodikin bermasalah, gara gara dirinya. Ia rela menjual anak tirinya dan membunuh istrinya dengan sadis.
"Sodikin, Sodikin. Aku ingin bertemu dia?" Ellad mulai menelepon suruhannya, ialah Andi, karena saat membeli Aira, saksinya adalah Andi.
"Apa aku harus menelepon Andi, untuk mengantarkanku menemui Sodikin?"
Ellad mulai mengetik nomor telepon, untuk segera menelepon Andi.
Panggilan telepon pun terhubung, Andi merasa ragu mengangkat panggilan dari majikanya.
"Tarjo, gimana ini. Tuan Ellad menelepon, apa yang harus aku katakan pada tuan Ellad?"
"Ya elah, kamu tinggal katakan. Sedang mengantar Tuan Edric dan Nona Aira. Gitu amat kok susah sih!" jawab Tarjo dengan gampangnya, mengatakan apa yang ia ucapkan di depan Andi.
__ADS_1
Andi dengan lantangnya memukul kepala Tarjo.