Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 93 Pintu gerbang


__ADS_3

Satu keluarga berkumpul, tidak dengan Dwinda, ia hanya duduk di luar. Berusaha berjalan berjingkat karena kakinya yang terkilir, " Aw, sakit. Sial bagaimana aku bisa masuk ke dalam mobil, sedangkan berjalan pun susah."


Tangan mulai merogoh saku celana. Menatap layar ponsel, Ellad mulai menelepon satpam penjaga rumah.


Sambungan telepon terhubung.


"Halo.Tuan."


"Kamu kunci gerbang sekarang, jangan sampai wanita itu kabur."


"Baik, tuan."


Panggilan telepon dimatikan, Ellad meletakan kembali ponselnya pada saku celana, ia tersenyum kecil. Terlihat raut wajahnya menampilkan hal yang akan membuat Dwinda menangis.


Edric mendekat dan bertanya pada sang ayah. "Apa yang ingin Daddy katakan?"


Aira mulai dibawa oleh para pelayan, karena Ellad yang menyuruh, terlihat Ellad hanya ingin mengobrol dengan anak semata wayangnya saja.


Lelaki tua berambut putih, mulai duduk. Agar bisa bersejajar dengan anaknya yang lumpuh.


Menarik napas, mengeluarkan secara perlahan. Ellad mulai merendahkan hati menurunkan ego di depan Edric.


"Edric, maafkan Daddy." Mendengar ucapan sang ayah, membuat Edric menatap Ellad, merasa tak percaya.


"Apa aku tidak salah mendengar, apa yang ayah katakan?" tanya Edric, bola mata biru itu seakan tak ingin berkedip.


"Tidak Edric, kamu tidak salah mendengar. Daddy benar benar meminta maaf pada kamu!" jawab Ellad, membuang semua ego dalam diri.


Menghembuskan napas, setelah mendengar perkataan maaf," kenapa Daddy meminta maaf padaku?"


Edric bertanya dengan suara pelan, ia berusaha menahan diri agar bisa memaafkan sang ayah, walau terasa berat. Karena masih ada rasa kesal dan amarah terpendam dalam diri Edric.


Air mata sudah mulai keluar, Ellad mencoba tetap tegar, menahan semua rasa penyesalan dan bersalahnya.


"Daddy meminta maaf padamu, karena Daddy egois, tidak pernah mendengarkan perkataanmu dari dulu. Andai saja Daddy bisa menahan ego dan berusaha mempedulikan kamu, mungkin ...."


Air mata yang sudah tergenang, pada akhirnya tumpah keluar dari kedua mata Ellad, ia menangis dan baru kali ini menangis lagi didepan Edric.


"Edric, kamu benar. Dwinda hanya memanfaakan kita, dia ternyata ada niat terselubung saat masuk kekeluarga kita dan .... "

__ADS_1


Ellad seakan tak sanggup mengatakan semua rasa bersalahnya, beberapa kali ia memotong pembicaraan. Sampai dimana Edric berkata." Dari mana Daddy tahu jika Dwinda memanfaatkan kita."


Ellad mencoba tetap tegar, menahan air mata yang keluar dari sudut matanya.


"Banyak bukti terungkap tentang Dwinda, dimana dia mengoda kamu."


Padahal sempat Edric ingin memperlihatkan kejahatan Dwinda pada Ellad, tapi setiap kali mengajak mengobrol tentang Dwinda atau menunjukkan bukti. Ellad selalu menghindar dan berusaha tidak peduli.


Namun sekarang di depan matanya, Edric menyaksikan jika Ellad meminta maaf dan menyesali perbuatannya sendiri.


"Jadi sekarang Daddy menyadari semuanya. Dan Daddy sudah menguak semua kejahatan Dwinda, kamu lumpuh karena dia,"


Edric baru tahu tentang kejahatan Dwinda, jika yang membuat lumpuh adalah Dwinda.


"Dari mana Daddy tahu? Kalau kelumpuhanku ini karena Dwinda?"


"Daddy mengecek obat yang selalu di berikan Dwinda kepada kamu, Edric. Selama ini Daddy salah, terlalu percaya dengan Dwinda yang ternyata seorang penjahat!" jawaban Ellad membuat Edric mengepalkan kedua tanganya, setelah mendengar apa yang dikatakan sang ayah membuat Edric begitu muak pada Dwinda.


"Dan asal kamu tahu, Edric. Penyebab meninggalnya ibu kamu adalah Dwinda sendiri," ucap Ellad, mengungkapkan semuanya.


Deg ....


Padahal dulu Edric menyelidiki Dwinda, tapi wanita itu tak terbukti, tapi sekarang? Semua seakan menjadi lelucon.


Edric duduk di kursi rodanya, ia menatap ke arah luar jendela, ada Dwinda berjalan jingkat menuju ke mobil. Ia ingin menghampiri wanita sialan yang merusak kebahagian keluarganya, dan kematian sang ibunda.


"Aku harus memberi dia perlajaran," ucap Edric, memajukkan kursi rodanya.


Namun sang ayah langsung menahan anaknya. " biarkan saja dia."


"Tapi, Dad. Aku ingin memberi dia pelajaran."


"Sudah, dia tidak akan lari kemana mana, Daddy sudah menyuruh satpam mengunci gerbang."


Edric kini diam, ia tak jadi menghampiri Dwinda, kini kembali fokus pada sang ayah.


Ellad terlihat begitu menyesal, ia ternyata menangis.


"Apa kamu sudah memaafkan, Daddy?"

__ADS_1


Pertanyaan itu terlontar lagi dari mulut Ellad.


Edric menghampiri sang ayah dan berkata." Aku sudah memaafkan Daddy, jika Daddy sudah menyadari semuanya."


Ellad tersenyum dalam tangisan, ia bangkit dari tempat duduknya, ingin memeluk sang anak tapi tak kuasa. Karena kesalahanya yang begitu banyak, membuat ia membelakangi Edric.


Ellad berusaha tetap tegar, dengan menghampus air mata beberapa kali.


Edric menghampiri sang ayah dan bertanya?" bagaimana nasib rumah sakit yang sudah ayah berikan pada Dwinda?"


Lelaki tua berambut putih itu, membalikkan badan menatap ke arah anak semata wayangnya." Polisi sedang mengintrogasi para dokter di sana, karena bukan hanya Dwinda saja yang terlibat pastinya banyak dokter dokter lain terlibat."


Edric bangga kepada sang ayah, setelah mendengar rumah sakit itu tengah di selidik polisi.


************


Sedangkan di luar rumah Dwinda berusaha naik ke dalam mobil, ia menyalahkan mesin mobil beberapa kali, tapi tak menyala juga.


"Sial, kenapa tidak nyala?" Dwinda semakin frustasi, ia berusaha keras keluar dari rumah Ellad, agar bisa lari dan menyusul pada temanya Lisa di bandara.


"Aku harus pergi dari sini, sebelum Ellad menjebloskan aku ke dalam penjara. "


Menarik napas berusaha tetap tenang, walau terasa sakit pada kaki yang masih terkilir akibat Maria.


Menyalakan mesin mobil, tetap saja tidak menyala membuat Dwinda semakin kesal, memukul mukul stir mobil.


Sampai di mana mobil itu menyala.


"Akhinya, menyala juga. Aku harus pergi dari sini, saat Ellad lengah di dalam rumah."


Dwinda mulai membawa mobilnya keluar dari gerbang, tapi tetahan oleh satpam. Dwinda menyalahkan kelakson agar gerbang bisa langsung dibuka.


Satpam di pintu gerbang tak mendengarkan kelakson Dwinda, mereka berusaha mengacuhkan sang nyonya.


Hingga Dwinda turun dari dalam mobil, ia menghampiri satpam dan berkata." kenapa kalian tidak membuka pintu gerbang, apa kalian ini budek atau gimana?" tanya Dwinda dengan kemarahan yang membara pada hatinya.


"Maaf kami di perintahkan tuan, tidak boleh membuka pintu gerbang!" jawab satpam, Dwinda mendengar itu tentu saja kesal.


Kenapa ia tidak bisa lari, ia takut jika harus masuk ke dalam penjara.

__ADS_1


"Sudah kamu jangan dengarkan apa kata Ellad, cepat buka gerbangnya aku ingin pergi dari sini," hardik Dwinda memarahi pada satpam.


Mereka tetap mematuhi apa yang dikatakan Ellad, tak peduli jika Dwinda marah.


__ADS_2